Pernikahan Ke 3

Pernikahan Ke 3
Bertengkar


__ADS_3

"Mas Angga berhenti!" Diana langsung menghampiri Angga untuk menahannya.


Sementara Danu wajahnya babak belur dengan hidung dan tepi bibir yang mengalirkan darah segar.


Kacamata Danu juga  pecah karena jatuh dan terinjak.


Hal yang hampir sama juga terjadi pada Angga.  Di tepi bibir Angga juga terdapat lebam dan sisa darah yang mengalir.


Angga dan Danu sama-sama terengah-engah.


"Mas ada apa sih ini ? Kenapa kalian bisa berkelahi seperti ini ?" tanya Diana.


Angga bukannya menjawab, justru semakin geram melihat Danu. Ia ingin menghajar Danu kembali.


"Sudah Mas," Diana menarik tangan Angga.


Sementara Danu juga tak kalah, ia menatap tajam ke arah Angga seolah ingin menantang pria itu.


"Danu ada apa sih sebenarnya. Kenapa kamu ada di sini sih ?" tanya Diana.


"Aku nungguin kamu Din. Aku hanya takut kamu pulang kemalaman dan terjadi sesuatu pada kamu sama seperti sebelumnya."


"Eh kamu gak usah ikut campur ya, aku bisa jagain istri ku!" sahut Angga nyolot.


"Ehm, terima kasih ya Nu, tapi insya Allah aku bisa jaga diri aku sendiri. Sekarang kamu pulang. Maaf ya Nu," ucap Diana dengan tak enak hati.


Danu mengangguk dengan patuh. Ia pun berjalan menuju mobil. Sebenarnya Diana khawatir terhadap keselamatan Danu saat menyetir, karena kacamata Danu yang pecah.


'Ya Allah berilah perlindungan dan keselamatan untuk Danu,' batin Diana.


"Ayo Mas, kita obati dulu luka-luka kamu."


Diana masuk ke dalam, kemudian mengambil peralatan p3k.


Dengan kapas dan alkohol 70 % ia membersihkan luka di tepi bibir Angga.


Angga menatap wajah cantik Diana yang terlihat lelah ketika Diana menyapukan kapas di wajahnya.


"Sudah Mas, Ayo kita pulang saja."


Diana menyimpan peralatan tersebut kemudian meraih tasnya.


Mereka pun keluar dari butik tersebut.


Wajah Angga masih terlihat begitu kesal. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Begitupun Diana berkali-kali ia menguap karena merasakan kantuk dan lelah.


Beberapa saat berikutnya Diana pun terlelap. 


Angga menatap jalanan dengan pandangan lurus sesekali ia melirik ke arah Diana.


Angga mempercepat laju mobilnya agar mereka cepat sampai dan beristirahat di kamar.


Mobil Angga tiba di depan teras rumahnya. Ketika mobil terparkir Diana masih terlelap. 


Wajahnya cantiknya begitu polos dengan kepala yang bersandar di sandaran jok mobil.


Angga bergeming melihat kecantikan Istrinya, istri yang selama ini ia abaikan. Diana tampak begitu lelap matanya tertutup rapat.


Angga tersadar ketika merasakan sedikit nyeri pada tepi bibirnya.


Seketika ia teringat akan ucapan Danu yang ingin merebut Diana ketika mereka berpisah

__ADS_1


Angga menoleh kembali ke arah Diana.


'Enak saja, dia ingin merebut Diana dariku,' batin Angga.


Angga kembali menoleh ke arah Diana, bibir mungil milik istrinya itu seakan jadi daya pikat Angga saat itu.


Tanpa sadar Angga mendekati wajah Diana mencoba untuk mengecup bibir mungil nan sensual itu. Ketika bibirnya hendak menyentuh bibir Diana, wanita itu malah membuka matanya 


Diana terbangun ketika merasakan hembusan nafas hangat menyapu permukaan wajahnya.


Seketika kedua netra mereka bertemu.


Deg deg


Diana kaget, begitupun Angga.


"Hah ! Mas kena …."


"Aku melihat semut di keningmu, aku pikir itu kutu rambut," kilah Angga sambil pura-pura membuang semut yang tak ada itu.


"Oh, mengagetkan ku saja kau."


'Aduh, bisa-bisanya aku mau mencium bibir Diana,' batin Diana sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Selama ini Diana dan Angga tak Pernah berciuman dengan mesra.


Diana hanya jadi tempat pelampiasan hasratnya saja.


Permainan yang biasa Angga lakukan tak pernah didahului dengan sebuah kecupan. Angga hanya sebatas menikmati tubuh istrinya saja.


Begitupun Diana. Sering kali Diana merasakan sakit pada bagian intimnya karena kurangnya rangsangan yang Angga berikan.


Diana pun kurang menikmati hubungan mereka. Baginya ia hanya menjalankan tugasnya sebagai seorang istri yang sebentar lagi akan berakhir ketika Angga dan Nay resmi menjadi pengantin pengganti dirinya.


Ketika melangkah, Diana tersandung sebuah pecahan batu yang cukup besar ia pun terjatuh dengan lutut yang menghantam lantai semen yang masih kasar.


"Akh ! Astagfirullah hal Azim."


Diana terjerembab .


"Diana ! Kamu kenapa?" tanya Angga yang langsung menghampiri Diana.


Diana diam beberapa saat merasakan denyutan dari kedua lututnya yang menghantam Semen.


"Ayo aku bantu," cetus Angga ketika melihat Diana yang meringis kesakitan.


"Tunggu Mas, sebentar. "


Diana diam beberapa saat karena lututnya terasa sulit untuk digerakkan, telapak kakinya juga terkilir.


Dian membalikkan tubuh hingga mendaratkan bokongnya di atas lantai tersebut karena merasakan sakit.


Diana menggigit bibirnya sembari menahan rasa sakit.


"Kamu bisa berdiri ?"tanya Angga.


"Bisa mas, sebentar ya. Lututku sakit sekali sampai susah untuk digerakkan," sahut Diana lirih.


"Ya Sudah kita obati di dalam saja."


Angga langsung mengangkat tubuh istrinya dengan gaya ala bridal style.

__ADS_1


Diana menggantungkan tangannya di leher Angga ketika tubuhnya diangkat Angga.


beberapa saat mereka saling menatap, kemudian Diana kembali menundukkan kepalanya.


Angga langsung membawa istrinya masuk.


Bu Wina dan pak Wijaya memang belum tidur, karena menunggu kehadiran mereka.


Bu Wina kaget melihat Diana yang diangkat oleh Angga.


"Angga! Diana kenapa?" tanya Bu Wina yang kaget. Wanita paruh baya itu langsung berdiri.


Angga membawa Diana untuk di dudukan ke salah satu sofa yang kosong di ruang tamu tersebut.


Kemudian ia melepas sepatu Diana dan melepaskan kaos kakinya.


"Angga! Diana kenapa?"tanya Bu Wina.


"Gak apa-apa Ma, Diana cuma tersandung," sahut Diana lirih.


"Tuh kan. Kamu pasti kelelahan Diana, makanya sampai gak lihat jalan," omel Bu Wina karena khawatir.


Pak Wijaya masuk kedalam kamarnya kemudian beberapa saat kembali dengan membawa minyak urut dan balsem untuk luka memar.


Angga mengangkat rok Diana Hingga sebatas lutut kemudian memoles balsem khusus Luka memar.


Lutut Diana terasa sakit.Saat Itu ia masih meringis.


Angga memijat telapak kaki Diana.


"Akh Mas, sakit," keluh Diana .


Angga terus memijit kaki Diana, entah dari mana ia tiba-tiba punya keahlian jadi tukang pijat.


Setelah beberapa saat di pijit kaki Diana merasa baikan.


"Sudah Mas, sudah baikan."


"Ya sudah jika sudah baikan, bawa Diana istirahat saja Angga," titah Bu Wina.


Angga mengangkat tubuh Diana kembali, kemudian membawanya ke kamar.


Pak Wijaya dan Bu Wina tersenyum melihat keduanya.


"Hm, Mama senang sekali Pa melihat perubahan Angga terhadap Diana. Hah Andai saja Angga tak terburu-buru melamar Naysila. Ibu yakin Diana pasti bisa meluluhkan hati Angga."


"Iya Ma, kita doakan saja yang terbaik untuk mereka."


"Iya Pa, jujur mama masih berharap jodoh mereka panjang Pa. "


Pak Wijaya merangkul istrinya.


"Tak ada yang tak mungkin Ma," ucap pak Wijaya.


"Semoga saja Pa, Amiin."


"Aamiin."


Kedua suami istri itu pun saling melempar senyum.


Bersambung gengs jangan lupa dukungannya ya ...🙏🥰

__ADS_1


Sebentar


__ADS_2