
"Aku tahu kamu butuh waktu untuk memikirkannya, tenang saja aku akan sabar menunggunya," ucap Angga
"Bukan begitu mas."
"Lalu apa ?" tanya Angga.
"Jika hanya sebuah rangkaian bunga yang diberikan nya untukmu , aku bisa memberikannya yang lebih dari itu,"sahut Angga.
Diana bingung bagaimana harus menjelaskan pada Angga.
"Bukan seperti itu Mas."
"Lalu seperti apa?"
Diana diam beberapa saat.
"Baiklah aku menunggu jawabanmu. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Diana menutup teleponnya sambil menghela napas berat.
"Apa aku jujur saja pada Mas Angga dan keluarganya, agar tak terjadi fitnah," gumam Diana.
***
Angga pulang ke rumahnya kemudian menghampiri Bu Wina dan pak Wijaya yang sedang santai di ruang tengah.
"Hai Mah, Hai Pa.lagi ngomong apa tuh ?" tanya Angga ketika melihat kedua orang tuanya terlibat obrolan serius.
"Angga, apa benar kamu telah membatalkan pernikahan kamu dengan Naysila?" tanya Bu Wina.
"Iya Mah."
"Angga juga bermaksud untuk rujuk kembali bersama Diana."
"Alhamdulillah," sahut Bu Wina sambil mengusap dadanya.
"Ma, pa, bagaimana jika nanti malam kita, ke rumah Diana."
"Kerumah Diana ?"
"Ada apa ?" tanya Bu Wina
"Angga ingin rujuk dan bermaksud untuk menjemput Diana."
"Masya Allah Angga, mama senang sekali mendengarnya Angga."
Bu Wina dan Pak Wijaya menyambut baik keputusan Angga tersebut.
"Ya nak nanti malam kita ke rumah Diana."
"Besok Angga juga ingin menemui keluarga Naysila untuk menyampaikan pembatalan nikah ini."
"Massa Allah, iya Nak. Mama dukung kamu."
***
Waktu menunjukkan pukul 8 malam. Diana masih sibuk dengan urusannya di dalam butik.
Ia sendiri berada dalam butik tersebut dengan pintu butik yang tertutup rapat.
Tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi.
Diana sedikit kaget karena dia tengah berkonsentrasi.
Untuk memastikan siapa yang ada di luar , Diana melihat layar monitor yang merekam CCTV.
"Mas Angga," gumannya.
Diana merapikan meja kerjanya kemudian berjalan mendekati pintu.
" Mas Angga, ada apa datang kemari ?" tanya Diana.
"Aku datang untuk menjemputmu.
Mama dan Papa sudah berada di rumahmu," jawab Angga.
"Di rumah, memangnya ada apa Mas?" tanya Diana
__ADS_1
"Ayolah ikut aku pulang, aku tak kan menculik mu."
Angga menarik tangan Diana dan menuntunnya menuju mobil.
Dengan cepat Angga membukakan pintu untuk Diana.
"Ada apa sih Mas?" tanya Diana.
"Ada saja, nanti juga kamu tahu sendiri,"angga sambil tersenyum.
Diana mengulum senyumnya setelah obrolan itu mereka diam diam hingga tiba di rumah.
Sesampainya di rumah Diana melihat beberapa orang sudah menunggunya.
"Assalamualaikum," ucap Diana
"Wassalamu'alaikum," mereka semua yang berada di ruang tamu menyambut salam Diana.
Diana menghampiri Bu Wina dan Pak Wijaya untuk bersalaman dan mencium punggung kedua mertuanya itu.
Kemudian ia duduk di sampingku Rania.
Selain 2 keluarga itu, ada juga Pak RT yang diundang saat itu.
"Maaf sebelumnya ini ada apa Ya?" tanya Diana.
"Diana, kedatangan kami kemari atas permintaan Angga."
"Suami mu itu ingin rujuk kembali bersama mu dan meminta papa dan pak RT yang akan menjadi saksinya,"
Diana kaget karena ia belum memutuskan apa pun.
"Maaf Ma, bukannya Diana tidak maumau rujuk. Tapi Diana hanya takut terjadi sesuatu pada mas Angga."
" Terjadi sesuatu? apa maksud kamu Diana tanya ?"tanya Bu Wina.
Diana kemudian mengeluarkan amplop hitam yang terdapat di buket bunga yang pernah dikirim ke butiknya.
"Ini Ma, seseorang mengancam Diana. Ia ingin mencelakai Mas Angga, jika Diana dan Mas Angga masih berstatus sebagai suami istri."
Diana juga membuka pesan dari nomor yang tak ia kenal. Kemudian menyerahkan handphonenya itu Bu Wina dan Pak Wijaya.
Mereka sejenak terdiam.
"Bukannya Diana tidak mau ma. Diana hanya takut apa yang terjadi pada mas Irfan dan Mas Rasyid terjadi juga pada Mas Angga."
"Lebih baik mencegah daripada kita semua menyesal nanti. Biarlah Diana jalani semua ini. Mas Angga Berhak bahagia,"ucap Diana dengan suara Parau karena menahan tangisannya.
Bu Wina dan Pak Wijaya Mereka terlihat berkompromi sesaat.
"Jadi hanya karena ini Diana ?"
Diana mengangguk secara pelan.
"Diana, ini ancaman yang belum tentu benar. Siapa tahu ini hanya kerjaan orang iseng yang ingin menghancurkan rumah tangga kalian," ucap Bu Wina.
"Aku tidak percaya dengan ancaman ini, kau juga tidak boleh mempertaruhkan rumah tangga kita Diana, karena sebuah ancaman ."
"Sudahlah Diana, jangan bahas soal ini lagi. Kedatanganku kemari karena aku ingin bersungguh-sungguh membina rumah tangga kita kembali. Kau mau kan ?"tanya Angga penuh harap.
Diana diam beberapa saat sambil menatap tamunya itu secara bergantian.
Bu Rania menggenggam erat tangan putrinya.
"Jawablah nak. Angga benar, mungkin itu hanya orang iseng yang hanya ingin rumah tangga kalian berantakan," tutur Bu Rania.
Diana menatap wajah ibunya, Ia diam beberapa saat. Suasana begitu hening, mereka semua terlihat tegang menunggu keputusan Diana.
Diana menatap Angga yang sedang menatapnya dengan tatapan penuh harap.
"Iya Mas aku mau," jawab Diana dengan lirih.
Seketika suasana tegang menjadi ceria kembali
"Alhamdulillah!"sahut mereka semua dengan perasaan lega.
Angga langsung berdiri dan menghampiri istrinya tersebut, ia langsung memeluk Diana dan mencium pucuk kepalanya.
"Terima kasih karena telah memberikanku kesempatan untuk yang kedua kalinya, Diana," ucap Angga sambil meraih kedua telapak tangan Diana kemudian menciuminya.
__ADS_1
Bu Wina,Pak Wijaya dan Bu Rania saling melempar senyum bahagia.
"Ya Mas, kesempatan selalu ada asal niat kita baik,"ucap Diana
Dina mengerucutkan bibirnya melihat Rona bahagia di wajah Angga dan Diana.
"Ada apa ini?" tanya Dina yang tiba-tiba datang tanpa mengucapkan salam.
"Dina !tidak sopan kamu, mana Salam kamu!" ucap Bu Rania.
"Nggak perlu." Dina langsung masuk ke dalam kamarnya.
Sesampainya di kamar, dia menutup pintu kamar kemudian menelpon seseorang.
***
Setelah berbincang-bincang sebentar dan Bu Wina memutuskan untuk pulang. sementara Angga dan Diana dibiarkan untuk tinggal bersama di rumah Bu Rania.
Dina membawa suaminya menuju kamar.
"Masa gak ada bawa pakaian ganti?" tanya Diana
"Kenapa harus bawa pakaian ganti, Malam ini aku tak butuh pakaian," ucapnya sambil tersenyum mesum ke arah Diana.
Diana membalas senyuman itu dengan wajahnya yang merona.
Angga kemudian mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir istrinya.
"Mas, Tunggu dulu Aku belum mandi," ucap Diana sambil menahan tubuh Angga.
"Mandilah, tapi jangan lama-lama ya," ucap Angga sambil menatap Diana dengan tatapan penuh damba.
" Iya ," jawab Diana sambil meninju perut Angga dengan pelan.
Diana masuk ke dalam mandi menunaikan ritual mandinya, setelah selesai, ia keluar dengan hanya menggunakan handuk yang menutupi bagian dada dan paha nya.
Diana tak pernah seperti itu di rumah Angga.
Sementara, Angga duduk bersandar pada headboard di satu sisi tempat tidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya .
Diana menghampiri lemari untuk mencari gaun tidurnya.
Ia kaget ketika merasakan simpulan handuknya ditarik oleh Angga .
Membuat handuk tersebut langsung melorot begitu saja.
Diana berdiri tanpa sehelai benang pun, kemudian Angga langsung menyambar bibirnya dan menciumnya secara rakus hingga Diana kesulitan untuk bernafas .
Setelah itu, ia mengangkat istrinya itu menuju tempat tidur.
"Masa Angga nakal sekali," ucap Diana sambil memukul dada bidang suaminya, keduanya saling menatap dan melempar senyum.
Dengan hati-hati Angga meletakkan tubuh Diana, Ia memposisikan diri di atas tubuh Diana.
Sebuah kecupan mendarat di kening Diana kemudian secara perlahan turun .
Hingga ciuman Angga berhenti di ceruk leher Diana. Angga sengaja meninggalkan beberapa tanda kepemilikan.
Setelah puas bermain kecil, Angga pun memulai permainan besarnya.
Tubuh Diana berguncang pelan di atas kasur karena serangan Angga tersebut.
Suara rintihan kenikmatan mereka tenggelam, karena kedua bibir mereka yang masih saling bertautan.
Untuk pertama kalinya Diana merasakan kebahagiaan dan kenikmatan yang tiada tara.
Sepanjang pertarungan sengit itupun Diana diperlakukan dengan sangat romantis oleh suaminya .
Hingga keduanya bisa menikmati puncak kenikmatan secara bersama.
Angga turun dari tubuh Diana setelah selesai menembakkan benih untuk kedua kalinya di rahim istrinya .
tubuh mereka basah dengan keringat dengan napas yang terengah-engah.
Angga benar-benar membuat istrinya tak berdaya. Untung saja Diana sudah menunaikan kewajibannya salat Isya.
Bahkan untuk berlari ke kamar mandi saja Diana sudah tak mampu. Diana membersihkan tubuhnya menggunakan tisu basah kemudian tertidur.
Keduanya pun tidur dalam keadaan lelah dan bahagia.
__ADS_1
Bersambung dulu gengs. Insyaallah besok author crazy up 😁🙏