
"Shakila," ucap Dina lirih.
Gadis kecil itu pun menghampirinya.
Shakila menatap heran ke arah Dina.
"Shakila, Shakila, ini Bunda Nak,"ucap Dina sambil meneteskan air matanya.
"Bunda?" tanya Shakila.
"Iya sayang, ini Bunda Shakila," ucap Dina dengan air mata yang berderai.
"Shakila punya Bunda ,seperti Kayla," tanya Shakila.
"Tentu saja Nak, Bunda ada lah Bunda Shakila."
Shakila kembali menatap Dina heran.
"Sini nak peluk Bunda," ucap Dina sambil merangkul putrinya.
Dina merangkul putrinya sambil menangis tersedu-sedu. kemudian ia merenggangkan pelukan mereka dan mencium Shakila mulai dari kening, mata ,pipi, kemudian ia kembali memeluk Putri kecilnya itu sambil menangis kembali.
" Bunda, kenapa Bunda ada di sini Ayo kita pulang bunda," ucap Syakila sambil memperhatikan tempat yang menurutnya aneh.
Mendengar hal itu Dina semakin merasa sedih.
"Maafkan bunda, Nak. Bunda belum bisa pulang bersama kamu,tapi tak lama lagi kita akan berkumpul kok," ucap Dina sambil mengurai pelukannya.
Shakila terdiam, Mungkin ia masih sungkan, karena baru kali ini dia bertemu dengan seseorang yang disebutnya bunda, selain Diana.
"Bunda kenapa Bunda menangis?"tanya Shakila lagi.
"Apa ada yang memukul Bunda?" tanya Shakila dengan polos.
"Nggak ada, Bunda menangis karena Bunda bahagia bisa melihat kamu," ucap Dina sambil mencium tangan mungil putrinya.
Shakila meraba wajah Dina dan dengan jemarinya yang mungil ia mengusap air mata Dina.
"Kata Oma nggak boleh nangis, nggak boleh cengeng," ucap Shakila.
Dina tersenyum mendengar penuturan Shakila. Dina bahagia melihat Shakila tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas. "Iya Nak, Bunda nggak akan nangis lagi, bunda sudah senang melihat Shakila ada di sini," ucap Dina.
Beberapa saat kemudian, Dina kembali dipanggil.
"Waktu berkunjung sudah selesai," ucap petugas sipir itu.
Lina melepaskan rangkulannya."Bunda harus pergi ya, Nak. Dina jadi anak yang baik ya, Jangan nakal dan jangan menyusahkan Oma."
"Bunda mau ke mana?" tanya Shakila
"Shakila mau Bunda bersama Shakila, seperti Kayla di mana-mana ditemani bundanya," ucap Shakila sambil menarik tangan Dina.
Hiks, hiks Dina kembali menangis. "Iya Nak, tak lama lagi Bunda akan selalu berada di samping kamu. Tapi saat ini bunda harus pergi. Kamu jangan nakal ya," ucap Syakila
Shakila tertunduk sedih, begitupun Dina yang tak tega melihat putrinya itu, baru saja mereka bertemu setelah sekian lama, sekarang harus berpisah.
"Bunda!"panggil Shakila lirih ketika melihat Dina meninggalkannya.
Bu Wina menghampiri Syakila, kemudian menggendongnya.
" Sudah ya Shakila, nanti kita bertemu lagi dengan Bunda. sekarang kita harus pergi.
__ADS_1
Shakila pun melambaikan tangannya ke arah Dina sambil memanggilnya
"Dadah Bunda!"
"Dadah sayang," hiks Dina kembali.
***
Dina menanti waktu, semakin dekat hari pembebasannya, waktu terasa bergerak semakin lambat.Rasanya ia sudah tidak sabar untuk menikmati udara bebas dan berkumpul kembali bersama anaknya.
Dina bersandar pada dinding dingin di dalam sel tahanan, sesekali ia menghapus air matanya sambil mengingat dosa yang telah Ia perbuat.
Selain itu ia juga merasakan rindu pada Shakila ingin rasanya setiap hari bertemu dengan putrinya itu. Namun Ia juga tak ingin Shakila mengenal lingkungan yang tidak baik itu, karena terlalu sering mendatanginya.
Seorang perempuan membuka pintu teralis besi.
"Dina ikut ke ruangan sebentar," ucap sipir itu.
Dina bangkit dan berjalan menghampiri sipir itu kemudian pintu penjara ditutup lagi setelah Dina keluar..
Petugas itu menuntun Dina menuju sebuah ruangan.
"Silakan duduk," ucap seorang wanita yang berada di depan laptop
Dina duduk menghadap wanita itu
"Dina, karena kamu di dalam penjara berbuat baik mematuhi hukum dan tata tertib, maka kamu akan menerima pengurangan hukuman 3 bulan," ucap petugas wanita tersebut.
"Bukan main kagetnya Dina, benarkah?" tanya Dina.
"Iya, persiapkan diri kamu karena minggu depan kamu akan dibebaskan," ucap petugas tersebut.
"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah." Dina langsung menangis dan bersujud syukur.
Waktu berlalu dengan cepat, hari ini hari yang begitu dinantikan oleh Dina. Karena hari ini, ia akan terbebas dari rumah tahanan.
Dina dituntun oleh seorang menuju ke sebuah ruangan.
" Selamat ya Dina, hari ini kamu dibebaskan dan ini surat pembebasan kamu," ucap seorang polwan kepada Dina.
Dina melihat surat itu kemudian menangis haru.
Akhirnya setelah 4 tahun, ia bisa menghirup udara bebas kembali dan yang terpenting ia bisa kembali bersama putrinya.
Dina menyalami kedua wanita itu.
"Terima kasih ya Bu,"ucap Dina.
"Sama-sama, Jangan ulangi perbuatan kamu ya Dina, berubahlah menjadi manusia yang lebih baik lagi," ucap kepala sipir itu .
"Insya Allah Bu, terima kasih, kalau begitu saya permisi. "
Dina mengganti pakaian tahanannya dengan pakaian bebas.
Dina berjalan sambil menangis haru melewati koridor. rasanya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan keluarganya.
Didepan pintu rutan, kehadirannya sudah disambut oleh ibu Rania ,Diana Danu ,Shakila dan juga Kayla.
Mereka semua datang untuk menjemput dan menyambut kebebasan Dina.
Betapa bahagianya Dina di saat ini, keluarganya datang memberi semangat dan support baginya, untuk menjadi manusia baru kembali, bukan sampah masyarakat yang terkurung dalam jeruji besi.
__ADS_1
"IBu," panggil Dina sambil menghambur memeluk bu Rania yang sedang menggendong Shakila.
"Alhamdulillah akhirnya kamu dibebaskan," keduanya pun memeluk haru.
"Bunda, apakah Bunda boleh pulang bersama Shakila?" tanya Shakila yang langsung menggantungkan lengannya meminta Dina menggendongnya.
" Iya nak, Bunda hari ini pulang,"ucap Dina.
"Asik! aku juga punya bunda! Kayla ini bunda aku !" seru Shakila.
Dina langsung menggendong putrinya menghampiri kemudian menghampiri Diana
Ia langsung menghambur memeluk saudara kembarnya itu.
"Ini putrimu ya?"tanya Dina sambil mengusap kepala Kayla.
"Iya Din, sekarang aku juga sudah memiliki seorang putra berusia 6 bulan," ucap Dina.
"Alhamdulillah, Selamat ya Din."
"Terima kasih Din, Ayo kita pulang, kami sudah menyiapkan perayaan kecil untuk kamu," ucap Diana.
Sambil merangkul saudara kembarnya itu, Dina melirik ke arah Danu.
Selama ini Danu lah yang selalu mengantar ibu dan putrinya untuk menjenguknya.
"Selamat ya Din atas kebebasan kamu," ucap Danu.
"Terima kasih ya Nu, karena selama ini kamu selalu baik dan perhatian sama aku dan Keluargaku," ucap Dina.
"Sama-sama Din, keluarga kamu sudah seperti keluarga bagiku."
"Terima kasih sekali lagi, Nu."
"Sama-sama, kalau begitu ayo kita pulang sekarang."
mereka semua naik ke dalam mobil Danu, Dina dan Bu Rania berada dalam satu mobil sementara Diana membawa mobil sendiri.
Di dalam mobil mereka mengobrol ringan.
"Oh ya Nu, kamu apa kabarnya, kamu sudah menikah?" tanya Dina.
"Belum Din."
" Kok belum nikah lagi? Kamu kan udah mapan Nu."
"Sudah mapan, tapi aku sedang menunggu seseorang."
"Jangan bilang kamu menunggu Diana ya, dia kan sudah punya keluarga yang bahagia, mending kamu move on cari yang lain," sahut Dina.
"Aku tahu itu, Aku lagi nunggu seseorang, tapi bukan Diana."
"Cih, udah move on nih ye," ucap Dina.
"Iya dong."
"Tapi ngomong-ngomong siapa Nu?" tanya Dina dengan penasaran.
"Ada deh, nanti juga kamu tahu," sahut Danu sambil tersenyum.
"Oke, kutunggu kabar bahagianya NU Aku jadi penasaran siapa perempuan yang beruntung mendapatkan kamu," ucap Dina.
__ADS_1
Bu Rania tersenyum melihat keduanya.
Bersambung dulu gengs.