
Diana menoleh ke arah dua orang itu secara bergantian.
"'Din, aku punya urusan dengan kamu. Jika dia, ingin fitting jas suruh saja asisten kamu yang melayaninya." Angga menarik tangan Diana.
"Iya Mas," sahut Diana patuh.
"Mira !" Kamu layani Danu.
Angga menarik tangan Diana dan membawanya keluar dari butik tersebut.
"Kita mau kemana Mas ?"
"Makan siang," sahut Angga ketus.
"Sebenarnya siapa sih pria itu Din, kenapa dia bisa bicara seperti itu pada kamu ?" tanya Angga sambil membuka pintu mobilnya untuk Diana.
"Oh pria yang di butik itu, Dia Danu teman masa kecil ku. "
"Teman masa kecil ?"tanya Angga seperti tak percaya.
Angga dan Diana berada di dalam mobil.
"Iya Mas, aku dan Danu itu sahabatan dari kecil, bahkan kami dulu itu seperti truk gandeng, Kemana ada aku di situ ada dia. Sampai kami masuk SMA, dari situ tuh aku mulai menjaga jarak dari Danu, karena aku menyadari jika wanita dan lelaki tak boleh berbaur seperti berbaurnya teman-teman wanita. "
Diana dengan santai menceritakan hal tersebut kepada Angga karena ia yakin sang suami tak akan pernah cemburu. Namun ekspresi berbeda di tunjukkan oleh Angga. Dia hanya diam sembari terus mengemudi mobilnya.
"Mas, mau makan siang dimana?" tanya Diana yang membuat lamunan Angga seketika buyar.
"Ehm, di ujung jalan ada sebuah restoran."
Diana tersenyum.
"Seumur-umur aku belum pernah makan siang di restoran Mas," cetus Diana.
"Hah ? Serius kamu?"
"Iya serius, biasanya ibu yang selalu datang membawakan makan siang untuk ku, sejak aku tinggal di rumah orang tuamu, biasanya ibu kirim saja lewat ojek online."
"Loh memangnya sebelumnya kamu gak pernah diajak makan siang sama dua mantan suami kamu itu ?"tanya Angga heran.
"Hah, ya gak pernah lah Mas. Kan gak boleh wanita dan pria yang bukan mahramnya berduaan."
"Aku sama mas Rasyid cuma beberapa kali bertemu sebelum menikah. Kalau pun ada acara keluarga atau acara di kantornya, kami selalu pergi beramai-ramai. Minimal aku di temani ibu."
"Kalau mas Irfan itu kakak kelas ku waktu SMA, sebelum menikah dengan suami ku yang pertama,aku sempat kerja di kantor mas Irfan."
"Dan itu juga cuma beberapa kali bertemu setelah aku menjanda, mas Irfan langsung melamarku," papar Diana.
"Jadi gak pernah ada makan siang bersama, karena aku juga gak mau timbul fitnah."
Angga melihat ke arah Diana ia pun tersenyum.
Mereka tiba di sebuah restoran.
Mereka masuk dan duduk di salah satu kursi.
Seorang datang menghampiri untuk menanyakan pesanan mereka.
Setelah mencatat menu makan siang waiters tersebut kembali.
Sambil menunggu mereka di suguhkan appetizer berupa sup buah.
Karena mereka memang jarang bicara dan tak tahu apa yang dibicarakan, keduanya hanya diam dengan kesibukan memainkan gawai mereka.
Angga menatap layar ponselnya karena sebuah panggilan masuk.
"Halo Sayang," sapa Angga.
"Sayang sudah sebulan kita gak bertemu, aku jadi kangen sama kamu," ucap suara di seberang telepon.
"Sabar dong, dua bulan lagi juga kita akan selalu bersama."
Diana memutar bola mata malasnya, awalnya hatinya terasa sakit jika Angga bermesraan bersama Naysila di hadapan. Namun sekarang tak lagi. Secara perlahan-lahan Diana sudah menyiapkan diri untuk menjadi janda yang ke tiga kali.
__ADS_1
"Aku kangen berat nih sama kamu, kamu gak kangen apa sama aku?" tanya Naysila dengan manja.
"Kangen, tapi mau gimana lagi. Aku gak boleh bertemu dengan kamu ."
Angga sengaja pamer kemesraan di depan Diana ingin melihat ekspresi wajah istrinya.
Namun Diana terlihat biasa saja, justru saat itu Diana tersenyum-senyum melihat handphone sambil membalas chat .
"Ya sudah, sekarang aku lagi makan siang. Nanti aku telpon lagi. "
Angga selesai menelpon. Namun Diana belum juga selesai. Kali ini ia merasa diacuhkan oleh Diana.
Ehm.
Diana langsung menoleh ke arah Angga.
"Kenapa Mas ?"
"Din kamu suka curhat ya, sama si Danu itu ?"tanya Angga. Karena ia mengira Diana tengah berbalas pesan bersama Danu.
"Gak kok."
Sahut Diana singkat, ia pun menaruh handphone di dalam tas.
"Kenapa dia bisa tahu jika kita sebentar lagi akan bercerai?"
"Mungkin tau dari Dina kali Mas, Danu kan akrab sama ibu dan juga Dina."
Angga kembali diam sambil melihat wajah Diana.
"Kenapa Mas?" tanya Diana heran.
Angga menggelengkan kepalanya. Kemudian tertunduk.
***
Setelah makan siang, Angga kembali mengantarkan Diana pulang.
Angga hanya mengangguk.
Setelah Diana masuk, Angga melihat seorang laki-laki tampan masuk ke dalam butik Diana.
Ia yang hendak memutar mobil kembali turun.
"Permisi!" Sapa laki-laki Tampan itu.
Karena Diana baru turun dari mobil, ia pun menghampiri pria itu.
"Iya ada yang bisa di bantu, Mas ?" tanya Diana.
"Oh saya mau pesan jas untuk acara wisuda."
"Oh bisa. Silahkan saja pilih size-nya. " Diana menunjuk ke etalase.
"Gak di ukur kah Mbak ?"tanya pria itu.
"Gak mas, untuk jas dan pakaian pria kami sudah siapkan contoh beberapa size jadi gak perlu diukur."
"Kok gitu mbak, biasanya saya fitting baju diukur."
Dia mengulas senyum.
"Karena di sini karyawan cewek semua mas, dan saya memang gak mengijinkan asisten saya untuk mengukur baju untuk pelanggan pria. Jika anda ingin pesan jas, silahkan saja cocokan size yang sudah tersedia. Setelah itu anda bisa tentukan warna dan bahannya serta desain seperti yang anda inginkan."
"Oh begitu. Kalau begitu saya mengerti mbak, iya saya pilih ukuran saya sendiri."
"Silahkan Mas," sahut Diana.
Angga memperhatikan Diana ketika melayani pria itu. Ia tersenyum lega. Kemudian ia kembali menuju mobilnya.
***
Sudah pukul sepuluh malam, tapi Diana belum juga pulang.
__ADS_1
Angga gelisah. Matanya tak mau terpejam, ada sesuatu yang kurang dari dirinya.
Ia pun meraih handphonenya yang berada di atas nakas, kemudian melakukan sambungan telepon.
"Halo Assalamualaikum,"sapa Diana.
"Kamu belum pulang Din? Ini sudah jam sepuluh malam loh."
"Astagfirullah, aku gak sadar Mas, keasikan kerja. Iya aku pulang Mas."
"Gak usah, kamu tunggu saja, ini sudah malam. Biar aku saja yang menjemput kamu. Kunci pintu yang rapat."
"Iya Mas."
"Ya sudah, aku berangkat sekarang. "
"Iya, Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
***
Angga turun dari kamarnya.
"Kamu mau kemana Nga' ?"tanya Bu Wina.
"Mau jemput Diana Ma," sahut Angga.
"Diana belum pulang?"
"Iya Ma, Diana sibuk bikin gaun pengantin untuk Naysila."
"Ya sudah kamu cepetan jemput Nga'. Mama khawatir terjadi sesuatu pada Diana."
Angga bergegas menuju garasi. Dalam sepuluh menit saja ia sudah sampai di 'Diana Bridal'
Tiba di depan butik istrinya, Angga melihat seseorang yang tak asing, tengah berada di depan ruko yang tertutup itu.
Dengan emosi Angga memarkirkan mobilnya. Kemudian ia keluar dari mobil dan membanting pintu mobil.
"Kenapa kau ada di sini ?!"
"Aku ?"
"Iya kau! Siapa lagi?!"
"Oh, tadi aku lewat di sini dan melihat, mobil Diana masih terparkir , padahal hari sudah malam. Karena khawatir, aku memutuskan untuk menunggunya sampai Diana keluar."
Mendengar hal itu, Angga langsung menarik kerah kemeja Danu.
"Berani-beraninya kau mengganggu istri ku!"
Angga mendorong tubuh Danu hingga pria itu terdorong beberapa langkah ke belakang.
"Aku tak mengganggu istri mu. Hanya menunggu jandamu! Karena aku tak ingin Diana kembali jatuh ke pelukan orang yang salah!"
Mendengar itu, Angga semakin naik pitam.
Buk… Satu pukulan mendarat di wajah Danu hingga tubuhnya membentur pintu yang terbuat dari stainless.
Buar.
Diana kaget ketika mendengar suara nyaring benturan dari pintu.
"Suara apa sih ?" tanya Diana . Karena penasaran sekaligus takut, Diana mengintip monitor CCTVnya.
"Astagfirullah, mas Angga dan Danu kenapa bisa berkelahi ."
Dengan segera Diana meraih kunci pintu kemudian bergegas membuka pintu.
"Astaghfirullah, berhenti Mas !" Seru Diana.
Bersambung dulu gengs.
__ADS_1