
Dina dan Danu tiba di hotel berbintang. "Ayo istriku kita turun dari sini," ucap Danu sambil membuka sealbeltnya.
Dina pun begitu. Mereka bergandengan tangan menuju pintu hotel. Rupanya kehadiran mereka sudah disambut oleh pihak manajemen hotel.
"Selamat datang di hotel kami,tuan dan nyonya semoga puas dengan pelayanan kami.Mari saya tunjukkan kamar yang di pesan khusus untuk anda."
Dina menggandeng tangan Danu melewati koridor, ketika berjalan ia tak sengaja melihat seseorang yang ia kenali.
Saking penasarannya Dina kembali menoleh ke arah punggung pria yang baru saja melewatinya itu.
"Ah mungkin aku salah lihat," ucap Dina.
Dina berusaha mengabaikannya, mungkin itu hanya ketakutan nya saja Ia tak ingin merusak momen bahagia ini.
Mereka pun tiba di kamar hotel.
"Silahkan Tuan dan Nyonya," ucap petugas hotel itu.
Dina dan Danu masuk ke kamar hotel yang sudah disediakan khusus untuk mereka.
Dekorasi kamar itu memang seperti kamar pengantin pada umumnya.
Ada dekorasi bunga dan ranjang pengantin yang memiliki kelambu putih.
Dina mendaratkan bokongnya di atas meja rias. Satu persatu ia melepaskan aksesoris yang menempel di hijabnya.
Jantungnya deg deg ketika melihat Danu yang tersenyum padanya melalui pantulan cermin.
"Jangan memandang itu seperti itu," cetus Dina
"Kenapa masih grogi,aku inikan suamimu!"
"Iya tapi jangan pandang aku seperti itu, ucap Dina sambil tersenyum simpul.
Danu melepaskan softlens dan meletakkannya di atas meja rias.
"Kamu mau minum?" tanya Danu yan berjalan menuju meja sofa masih dalam kamar tersebut.
Danu sebenarnya juga nervous maklum saja ini adalah pengalaman pertama kalinya.
Setelah melepaskan atribut di kepalanya, Dina mendaratkan bokongnya di atas tempat tidur.
Dina menyunggingkan senyum tipis ketika suaminya itu membawa minuman mineral kemudian menyerahkannya pada Dina.
"Minumlah."
Dina meraih botol tersebut kemudian membukanya. Selama beberapa saat suasana menjadi hening.
Danu mendaratkan bokongnya di atas tempat tidur di samping Dina.
Danu terlihat gelisah karena grogi.
"Kamu kenapa?"tanya Dina sambil menyentuh paha Danu.
Serr… seketika aliran darah Danu melesat dengan cepat mendapatkan sentuhan kecil itu.
Danu melirik ke arah Dina yang tersenyum mesum ke arahnya
"Kenapa kau berkeringat ?"tanya Dina masih dengan senyum mesumnya.
Danu menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ah gak Din," sahut Danu sambil nyengir. Jantungnya berdetak kencang saat itu.
__ADS_1
Melihat suaminya terlihat grogi, Dina menggesernya bokongnya agar semakin dekat dengan Danu
"Kau tak tahu cara memulainya ya?" tanya Dina dengan senyum mengejeknya.
"Ehm ..."Danu gelisah, tapi memang ia tak punya pengalaman sama sekali.
"Jawab pertanyaan ku?"tanya Dina yang Seolah menantang.
"Ehm ..."
Belum pun sempat Danu menjawab Dina sudah mendaratkan kecupan di bibir Danu
Deg Deg Jantung Danu berpacu dengan cepat dengan perasaan yang tak biasa.
Nalurinya sebagai pria mulai terpancing. Danu mulai mengimbangi ciuman istrinya itu.
Kali ini Danu lebih agresif, ciuman itu semakin dalam dan panas.
Sambil bercumbu Dina melepaskan satu persatu kancing kemeja yang di kenakan oleh suaminya.
Danu sudah terbakar hasrat. Tangannya merayap melepaskan resleting gaun Dina yang berada di bagian punggung.
Dengan lembut ia melototkan gaun tersebut hingga terlepas dari tubuh Dina.
Jantung Danu berdetak semakin kencang ketika melihat kemolekan tubuh istrinya itu.
Dengan segera ia melepaskan penutup tubuhnya hingga hanya menyisakan segi tiga pengaman.
Dina tersenyum melihat ke garcepan Danu.
Danu mendaratkan kecupan kembali di bibir Dina sambil merebahkan tubuh istrinya di atas tempat tidur.
Ciuman itu perlahan turun dari wajah hingga leher Diana. Suasana mulai memanas.
Danu melakukan gerakan diatas tubuh istrinya mengikuti nalurinya.Membuat Dina melengkuh dengan mata yang merem melek.
Setengah jam ronde pertama ,kedua sama-sama merasa begitu puas
Danu merebahkan tubuhnya di atas tubuh sang istri dengan nafas yang terengah-engah.
Danu merebahkan tubuhnya di samping tubuh Dina sambil mengatur napasnya.
Dina membalik tubuhnya menatap Danu yang tersenyum puas kepadanya.
Dina meraih tisu kemudian membersihkan wajah suaminya yang di penuhi dengan keringat.
Danu menarik tubuh Dina ke dalam dekapannya.
"Kamu benar-benar hot," bisik Danu sambil tersenyum.
"Ehm massa'? mau yang lebih hot?"tantang Dina sambil menarik turunkan alisnya.
"Mau?!" sahur Danu dengan segera.
Dina tersenyum kemudian bangki,t ia langsung menindih tubuh suaminya.
Seketika senjata Danu kembali memegang, kali ini Dina yang jadi penunggang kudanya.
Tubuh ramping Dina bergerak dengan gesit di atas tubuh suaminya.Danu di buat tak berdaya. Tak henti-hentinya ia melengkuh karena merasakan sensasi yang luar biasa
"Oh Sayang, hot banget!lengkuhan Danu terjadi sepanjang permainan itu.
Permainan yang kedua lebih singkat, hanya sepuluh menit.Namun membuat mampu mbuat Danu terbang melayang-layang.
__ADS_1
Dina mendaratkan tubuhnya di samping Danu.
"Bagaimana ?"tanya Dina dengan napas ngos-ngosan
"Akh! Nikmatnya punya bini," cetus Danu.
Dina mencubit hidung Danu.
"Bisa saja kamu "
Hahaha
Karena lelah, pengantin baru itu langsung tertidur dengan perasaan puas dan bahagia.
Lain pengantin baru lain pula dengan pengantin lama.
Diana keluar dari kamar mandi. Perasaan begitu segar setelah merasakan kelelahan karena ikut menyambut tamu.
Rencananya ia akan langsung tidur setelah menunaikan sholat isya
Diana melipat sajadahnya dengan mata yang sayu karena lelah, Kebetulan putranya saat itu sudah terlelap.
Setelah menyimpan sajadahnya di lemari. Diana mengganti pakaiannya, baru melepaskan jubah, tubuhnya sudah di digerayangi oleh tangan nakal.
Diana menoleh ke arah belakang dan melihat sang suami yang tersenyum mesum.
Angga menarik turunkan alisnya memberi kode.
"Mas Angga, aku..."
Diana tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena mulutnya langsung di blok oleh bibir Angga.
Angga langsung ******* bibir istrinya tanpa ampun, hingga Diana hanya bisa pasrah.
Angga tersenyum kemudian membawa tubuh istrinya yang tak berbusana itu naik ke atas ranjang.
Tanpa basa-basi ia memulai serangannya. matanya yang sedikit sayu tersebut jadi merem-melek karena keperkasaan Angga.
Setelah setengah jam, permainan itu pun tuntas.
Angga terbaring bersimbah keringat sambil menarik Diana dalam dekapannya.
Diana tersenyum, meski lelah harus meladeni suaminya itu setiap hari. Namun ia bersyukur sekali, karena sang suami hanya melampiaskan hasratnya pada dirinya saja.
Angga membenamkan kepalanya di ceruk leher sang istri. Setiap malam ia tak akan bisa tidur tanpa menciu aroma khas tubuh istrinya itu.
Diana selalu memanjakan suaminya, setelah lelah dari pergulatan sengit mereka ia akan mengusap kepala Angga hingga tertidur.
Diana tersenyum ketika mendengar dengkuran halus dari suaminya.
Kemudian ia mencium pipi suaminya dengan penuh perasaan.
"Terima kasih sayang telah menjadikan rumah tangga kita bagikan surga," ucap Angga yang tiba-tiba terbangun.
"Kamu belum tidur Mas?" tanya Diana kaget.
"Sudah tidur, tapi aku terbangun ketika mendapat kecupan dari kamu, terimakasih sayang," ucap Angga.
"Iya Mas, terimakasih telah menjadi imam yang baik untuk aku dan putra-putri kita, hingga kita bisa membangun rumah tangga ini seperti surga impian kita," ucap Diana
Mereka pun saling melepas senyum haru dan bahagia.
Kemudian keduanya tidur dalam perasaan yang bahagia.
__ADS_1
Bersambung dulu ya gengs.
.