
Karena sudah mengetahui siapa yang telah menculik Diana, Angga dan keluarga meminta kepolisian menyusuri semua harta dan aset kepemilikan atas nama Rasyid Alamsyah.
Polisi pun mengerahkan timnya untuk memburu Rasyid.
Tak hanya itu, polisi juga melakukan penyelidikan kepada Dina untuk mengorek keterangan darinya.
Ruang perawatan Dina juga dikawal ketat oleh petugas , karena Dina adalah korban, ia juga Dina terlibat secara langsung terhadap kasus penculikan Diana.
Karena tak bisa mengelak lagi, Dina pun membeberkan semua yang telah terjadi. selama ia bersekongkol dengan Rasyid.
Teka-teki pembunuhan yang terjadi pada Irfan kini mulai terkuak, keluarga Irfan menyambut baik karena setelah hampir setahun mereka baru tahu jika Rasyid lah yang melakukan itu.
Seluruh kekayaan yang dimiliki Rasyid ditelusuri oleh pihak kepolisian mereka pun mendatangi tempat-tempat di mana yang mereka curigai sebagai tempat Rasid menyembunyikan Diana.
Selain melakukan pencarian secara besar-besaran keluarga Angga juga melakukan ritual doa bersama meminta pertolongan kepada Allah agar Diana dan calon anak yang ada di rahimnya bisa di selamatkan.
Hari sudah begitu larut malam, Angga masih berada di ruang tamu. Wajahnya tampak lelah, meski begitu ia belum bisa tertidur. Berulang kali Angga menelepon seseorang untuk mengetahui kabar istrinya.
Bu Wina menghampiri putranya itu.
"Angga Ini sudah pukul 02.00 Nak, kamu juga pasti sudah lelahnya Ayo istirahatlah nanti kamu sakit ,"ucap Bu Wina sambil mengusap punggung Angga.
"Mana bisa Angga tidur Bu, sementara' saat ini Angga belum tahu di mana keberadaan Diana."
Pak Wijaya juga sedang menelpon seseorang. Iya mengkonfirmasi kepada para bodyguard-nya yang sempat mengawasi Diana.
Karena kejadian itu begitu cepat, bodyguard yang mengawasi Diana tak melihat Diana perginya kemana.
Diana saat itu lepas dari pengawasan mereka.
Pak Wijaya menutup teleponnya karena belum ada petunjuk apapun tentang keberadaan menantunya itu.
Hingga pagi tiba, keberadaan Diana belum juga diketahui..
***
Di rumah sakit Dina mengeluhkan sakit pada sekujur tubuhnya.
"Aduh Bu sakit sekali tubuhku wajahku terasa nyeri dan berdenyut-denyut keluh." Dina sambil meraba wajahnya.
"Jangan banyak mengeluh Dina, Ini semua karena ulah kamu. Sekarang kami tak bisa menemukan Diana, jika kau memang tahu di mana Diana, cepat beritahu!" ucap Bu Rania dengan ketus.
Meski telah terbukti dengan pengakuannya jika Dina terlibat dalam drama penculikan Diana. namun Bu Rania tetap setia menjaga Dina.
"Sumpah Bu, aku nggak tahu di mana Diana berada," sahut Dina sambil menangis menahan rasa sakit.
Seorang suster datang menghampiri Bu Rania sambil membawa hasil rontgen dan pemeriksaan Dina.
"Ini Bu hasil CT scan dan rontgen pasien."
__ADS_1
Bagaimana hasilnya suster?" tanya Bu Rania
"Tak ada luka yang terlalu serius di bagian kepalanya. Hanya saja kami baru mengetahui jika pasien tengah hamil saat melakukan rontgen."
Betapa terkejutnya bu Rania saat itu.
"Hamil suster?!"tanya Bu Rania. ia kembali syok mendengar ucapan suster tersebut .
"Iya Bu, pasien sedang hamil usia kandungannya sudah memasuki 6 minggu," jawab suster.
Bu Rania memegang tempat tidur yang di gunakan oleh Dina karena hampir saja ia kehilangan keseimbangan tubuhnya.
Dina ikut syok mendengar penuturan suster tersebut.
Dina dan Bu Rania terpaku diam tak berdaya selama beberapa saat dengan air mata mengalir semakin deras membasahi pipinya. Suster itu pun keluar dari ruang perawatan.
Dengan geram Bu Rania memandang ke arah Dina.
" Apa yang telah kau lakukan Dina, siapa yang telah menghamilimu?" tanya bu Rania.
Mendengar hal itu bukannya menjawab Dina malah semakin menangis
Hiks hiks hiks
Dina menangis sambil menatap langit-langit kamarnya.
Dina menggeleng-gelengkan kepalanya masih dalam keadaan menangis.
"Katakan siapa yang telah melakukannya?!" tanya Bu Rania dengan sedikit memaksa.
Tubuh Dina berguncang karena menangis.
"Yang melakukannya adalah mas Rasyid Bu," sahut Dina Ia pun kembali menangis.
"Apa?!"
"Hiks hiks bagaimana bisa kamu melakukan kebodohan itu Dina?!" sesal Bu Rania.
Sementara Dina hanya menangis mengenang nasibnya yang sebentar lagi akan dipenjara dalam keadaan hamil.
***
Diana membuka matanya setelah semalaman, ia bersujud memohon pertolongan dari Allah.
Diana kembali menunaikan salat subuhnya yang sedikit terlambat itu, karena tak ada suara adzan ataupun alarm yang membangunkannya.
dalam doanya Diana terus meminta untuk diselamatkan dari kezaliman Rasyid.
Kreek ...pintu dibuka oleh seseorang.
__ADS_1
Siapa lagi kalau bukan Rasyid.
"Halo sayang, bagaimana istrirahat mu?" tanya Rasyid .
Rasyid pun mendekati Diana.
"Jangan mendekat!" seru Diana ia berusaha untuk menjauh
"Haha, ayolah aku ada berita baik untuk mu," ucap Rasyid sambil tertawa.
Diana mengedarkan pandangannya dengan bola mata yang berpendar.
Ia mencari cara untuk keluar dari kamar itu.
"Mau apa lagi kau ?!"tanya Diana seraya semakin waspada.
"Kenapa masih bertanya? Aku ingin kita menikah!"
"Hiks hiks hiks kau gila ya Mas! mana boleh Aku menikah sementara aku masih istri sah seseorang."
"Hahaha Kau pikir aku peduli. bagaimana jika kita melakukannya tanpa ada ikan suami istri?"tanya Rasyid.
"Tidak Mas! jangan berani kau menyentuhku! atau aku akan berbuat nekat !" ancam Diana sambil memeluk lututnya. Selain takut, Diana juga merasakan lapar karena dari semalam ia tak makan. Tubuhnya gemetaran.
"Kau pikir aku ini anak kecil yang bisa digertak?!"
"Sudahlah sebaiknya kau mandi berdandan yang rapi dan kenakan pakaian pengantin ini, Karena sebentar lagi akan ada penghulu yang akan menikah kan kita. jika kau tak ingin Angga dalam bahaya, sebaiknya kau jangan ceritakan pada siapa-siapa!"ucap Rasyid dengan penuh penekanan.
"Aku sudah bilang, aku tidak mau menikah denganmu! pernikahan kita tidak sah!" seru Diana.
Rasyid tersenyum menyeringai.
"Aku juga sudah bilang kan padamu, aku tidak peduli. Kau tak punya pilihan lagi selain menurut padaku," ucap Rasyid.
"Apa kau mau ku paksa melayani ku ?!" Rasyid kembali mengancam
Diana semakin ketakutan ia semakin erat memeluk lututnya.
"Jika kau tak mau itu sampai terjadi! Kau harus menuruti perintahku!"
"Pakai pakaian ini dan bersiaplah, karena sebentar lagi pernikahan kita akan segera dilaksanakan," ucap Rasyid sambil menyodorkan bungkusan plastik besar.Setelah itu Rasyid keluar dari kamar itu
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Diana kemudian ia kembali menangis.
Diana terus berpikir sambil berdoa, bagaimana caranya ia bisa keluar dari tempat itu .Diana coba mencongkel teralis jendela kamarnya agar bisa keluar. Tapi sia-sia, selain tak memiliki alat apapun tubuhnya juga begitu lemah.
Diana pun kembali bersujud kembali memohon kepada Allah agar di berikan pertolongan.
Bersambung...
__ADS_1