PERUBAHAN RAINA

PERUBAHAN RAINA
chapter 24


__ADS_3

"oh ya tuhan,kenapa kau memberikan ku mimpi yang seperti ini!", ucapnya menoel-noel roti sobek yang meruntuhkan iman nya itu.


Alvan yang mendengar Itu menahan tawanya namun ia tidak bisa menahan kegemasan Raina.


"ekhem apakah sudah puas",ucapnya.


"belum,aku masih ingin menyentuh nya jangan bangun kan aku dulu!",jawabnya dengan polos.


tapi ia langsung terkejut saat menyadari suara itu sangat nyata dan familiar hingga ia beberapa kali mengerjakan matanya dan sedikit mendongak dan betapa terkejut nya ia saat melihat wajah Alvan yang tanpa ekspresi namun bibirnya tampak melengkung yang seketika membuat nya merinding.


"apa ini bukan mimpi?",tanya nya untuk memastikan.


"menurut mu?",tanya Alvan balik dengan menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum sinis.


dengan cepat ia membuka selimut dan melihat tubuhnya yang ternyata masih utuh,"untung saja"Ucapnya bernafas lega, tapi dengan cepat ia kembali menatap Wajah Alvan.


"jika kau berani macam-macam dengan ku semalam,aku pastikan kau tidak akan utuh lagi detik ini juga!",Ucapnya dengan penuh penekanan menunjuk wajah pria tampan itu dan langsung bangkit dan ingin pergi begitu saja.


Tapi baru saja ia akan berdiri Alvan langsung menarik nya hingga membuat nya terjatuh dan kembali berbaring di atas tempat tidur besar itu.


pada saat ia ingin bangkit Alvan langsung naik ke atas tubuhnya dan menguncinya agar tidak bisa bergerak lagi,membuat Raina sangat terkejut.


"apa yang ingin kau lakukan? turun dari atas tubuh ku",ucapnya tapi Alvan sama sekali tidak peduli.


"kau ingin pergi begitu saja setelah melecehkan ku",Ucapnya membuat Raina lagi-lagi terkejut.


"apa yang kau katakan?apa kau gila bagaimana bisa wanita melecehkan seorang pria!",ucapnya tidak senang.


"kau sangat bersemangat dan berani mengatakan suami mu gila?",ucap Alvan tersenyum sumringah.


"oh apa yang ku lakukan,seorang Raina gadis pendiam dan penurut",gumam nya dan langsung merubah ekspresi garang nya menjadi kasihan seperti seekor kelinci.

__ADS_1


"bisakah kau turun dari atas ku,aku ingin pergi ke kampus!", ucapnya dalam sedetik merubah ekspresi,membuat Alvan benar-benar di buat tidak percaya.


"rupanya kau seekor rubah kecil ya",ucap Alvan semakin bersemangat mengerjai gadis dua muka itu,ia semakin menurunkan wajah nya hingga nafas mereka saling bersahutan kemudian tangannya terulur melepaskan ikatan piyamanya membuat Raina menjadi menegang.


"ap...ap...apa yang ingin kau lakukan",tanya mulai khawatir jika sampai Alvan melakukan sesuatu padanya.


"presetan dengan gadis lugu dan Badoh!",Kesalnya langsung menggerakkan sikutnya dan menendang benda pusaka Alvan dengan cukup keras hingga membuat Alvan sangat kesakitan dan langsung terjatuh ke samping Raina dengan sakit yang luar biasa.


"arggh",gerang nya.


Raina yang sudah kabur dan berada di ambang pintu menoleh ke arah Alvan dan menjadi merasa bersalah dan kasihan melihat pria itu hingga ia mengurungkan niatnya untuk keluar.


Ia teringat pernah menendang benda pusaka milik seorang pria hingga pria itu meninggal bukan seorang lagi ada banyak musuhnya yang meninggal karena tendangan nya itu, tiba-tiba ia merasa takut jika sampai pria itu meninggal dengan cepat ia berlari ke arah pria yang terbaring di atas tempat tidur itu tampak masih mengerang kesakitan


"maaf kan aku,aku...aku...akan menelfon dokter, benar ia biarkan aku menelfon dokter pribadi mu",ucap nya panik meraih ponsel Alvan yang terletak di atas meja dan langsung membuka nya yang kebetulan tidak mempunyai password,dan mencari nama kontak dokter tapi ia sama sekali tidak menemukan nya membuat nya menjadi was-was karna Alvan yang terus mengerang kesakitan.


"siapa yang harus ku telfon?apa kau tidak mempunyai dokter pribadi?",tanyanya dengan nada suara panik.


"Jay"jawab Alvan dengan menahan rasa sakit nya.


"halo, apakah ini dokter Jay?", tanyanya saat telfon sudah tersambung.


"eh?apakah ini nyonya Raina?",tanya dokter itu cukup terkejut.


"jangan banyak tanya,cepat datang kemari ini sangat darurat!",ucapnya dan langsung memutuskan telepon.


Ia kembali meletakkan ponsel itu,"maafkan aku,aku benar-benar tidak sengaja!"ucapnya benar-benar merasa bersalah melihat keadaan pria itu padahal tadinya ia senagaja Melakukan nya tanpa memikirkan konsekuensinya.


"ambil kan aku air putih!", ucapnya menyuruh Raina.


melihat ada air putih di sana ia langsung menuangkan nya kedalam gelas dan memberikan nya pada Alvan,ia sangat terkejut saat memegang tangan pria itu yang sangat dingin dan bergetar.

__ADS_1


"itu pasti sangat sakit!",gumam nya.


"bantu aku duduk"ucapnya lagi dengan sigap Raina membantu pria itu duduk, kemudian setelah membantunya duduk ia juga membantu nya untuk minum.


"bertahan lah aku sudah menelfon dokter,sebentar lagi dia pasti akan datang",ucapnya dengan nada khawatir bercampur panik karena tubuh Alvan yang terus bergetar.


bukan nya marah Alvan malah senang bagaimana Raina begitu mengkhawatirkan nya.


hingga setelah beberapa saat pintu terbuka dan terlihat seorang dokter tampan dengan wajah paniknya,tapi seketika wajah paniknya tergantikan dengan wajah terkejut melihat pemandangan yang sangat langka dimana terlihat piyama Alvan yang terbuka hingga memperlihatkan perut kotak-kotak nya sedang kan pakaian Raina yang juga berantakan dengan posisinya yang duduk di dekat Alvan.


"apakah aku datang di waktu yang salah?", tanyanya dengan canggung ingin keluar tapi Raina langsung menghentikan nya.


"tidak,cepat periksa dia!",ucap Raina langsung berdiri dan sedikit menjauh dari tempat tidur Italia setelah melihat sang dokter.


"eh?apa kau sakit Van?",tanyanya langsung menghampiri Alvan,namun Alvan tidak menjawabnya sekali karna itu sangat canggung di katakan.


berfikir Alvan kesulitan berbicara,Raina dengan niat baik hati membantunya memberitahu,"sebenarnya aku tidak sengaja menendang itu",ucapnya membuat dokter itu langsung menoleh ke arahnya.


"memandang apa?",tanyanya tidak mengerti.


"aku tidak sengaja menendang anu itu anu itu..",ia merasa kesulitan untuk mengatakan apa yang ia tendang hingga membuat Alvan seperti itu.


setelah mendengar itu sang dokter langsung mengerti kalau Gadis itu telah menendang hal yang seharusnya tidak ia tendang,tapi ia masih berpura-pura tidak tahu.


"ayolah nona muda katakan apa yang kau tendang hingga membuat tuan seperti ini?", tanyanya dengan sengaja.


"aku...aku menendang itu...",belum sempat ia menyelesaikan ucapannya Alvan langsung memotongnya.


"Jay jangan banyak tanya!", ucapnya menatap tajam teman nya sekaligus dokter pribadinya itu.


"hehe baiklah, Nyonya Raina apakah anda ingin tetap di sini melihat saya menyembuhkan tuan?",tanya dokter itu dengan tersenyum lebar dengan penuh makna.

__ADS_1


"eh? baiklah aku akan keluar",ucapnya dengan cepat langsung keluar meninggalkan kedua pria itu.


bersambung....


__ADS_2