PESONA PELAKOR LIAR

PESONA PELAKOR LIAR
Itu kamu ...?


__ADS_3

Sesuai yang dikatakan Miss D. Ternyata masakan wanita itu benar-benar memiliki ciri khas yang berbeda. Pantas saja dia menjelaskan sampai sedetail itu.


Alex merasa puas dan penuh stamina! Moodnya juga berubah jadi sangat baik.


Dia seperti berada di rumah yang nyaman dan hangat saat memakan makanan Miss D.


"Terima kasih, Miss. Makanan Anda enak sekali," ucap Alex. Dia merapikan rantang itu lalu segera mencucinya.


Ternyata apartemen Alex cukup rapi dan bersih, pikir Dafina. Dia berjalan ke arah dapur mengikuti Alex.


"Bukan hanya enak. Tapi rasa dari makananku tidak mungkin dapat kamu lupakan seumur hidup," kata Dafina.


Kali ini Alex mengangguk karena mungkin apa yang dikatakan Dafina ada benarnya. Masakan Dafina memang seenak itu.


"Jika Miss pandai memasak kenapa Miss tidak membuka usaha kuliner? Pasti akan banyak sekali orang yang menyukainya," ujar Alex.


Dafina tersenyum kecut. "Sayangnya aku hanya mau memasak diwaktu-waktu tertentu dan untuk orang yang menurutku spesial saja."


"Waow, jadi aku termasuk orang spesial yang beruntung itu, dong?" tanya Alex sengaja memancing.


"Iya. Tentu saja kamu beruntung karena bisa kencan denganku. Ini adalah momen yang langka, jadi jangan pernah kamu sia-siakan," balas Dafina dengan ekspresi sombong.


"Baiklah .... Kalau begitu bagaimana jika Miss memasak untukku selama satu bulan ini? Ya, itung-itung untuk membuktikan apakah aku akan melupakan masakan Miss suatu hari nanti atau tidak," kata lelaki itu.

__ADS_1


Niatnya mau ngirit uang jajan. Tetapi tanpa disadari, lelaki itu sedang memasuki dunia Dafina semakin dalam. Pelan tapi pasti Alex mulai terbuai dan terperangkap dalam pelukan wanita itu. Bahkan sejak Dafina datang Alex sama sekali tidak ingat kalau dia sudah punya Sisca.


"Bagaimana?" Alex bertanya lagi karena Dafina tiba-tiba diam.


"Sebenarnya aku agak keberatan. Tapi ok, lah! Aku akan coba mengirimu makanan setiap hari jika tidak terlalu sibuk."


"Sipp!" Alex mendekat lalu mengecup bibir Dafina. "Ini hadiah untuk, Miss." Dia lalu berjalan menuju ruang tamu kembali.


"Hei, apa-apaan itu? Aku tidak suka ciuman singkat seperti itu. Aku mau yang lebih," protes Dafina tidak tahu malu.


Hati Alex berteriak dan meronta. Dia juga tidak suka yang seperti itu, batinnya.


Akhirnya lelaki itu mulai hilang kesadaran lagi. Dia menarik pinggang Dafina dan menciumnya secara brutal. Dafina sampai kesulitan bernapas akibat ulah Alex.


"Sudah kubilang jangan melewati batas! Aku tidak pernah melakukan hal yang lebih dari ciuman dengan lelaki mana pun. Paham?"


"Maaf, Miss." Alex menjambak rambutnya frustrasi. Merasa tidak enak, dan tentunya malu sekali. "Aku terlalu terbawa suasana," ujarnya.


"Hmmm. Ok. Lain kali kamu harus lebih fokus dan hati-hati. Di mana toilet?"


"Itu!"


Alex menunjuk pintu yang terletak di sebelah kiri Dafina. Wanita itu langsung melenggang masuk dan meninggalkan Alex begitu saja.

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa fokus kalau Anda selalu membuatku gagal fokus, Miss?" gumamnya sebal.


Lelaki itu memandangi pintu kamar mandi sambil melamun. Sepertinya benar yang dikatakan Reyno, dia harus segera mengakhiri sebelum lebih dalam masuk ke perangkap Dafina.


Tapi bagaimana caranya?


Dafina pasti tidak mau. Dia paham sekali bahwa perempuan itu selalu konsisten dengan ucapannya.


Di tengah-tengah kebimbangan Alex. Dafina keluar dari toilet. Dia tersenyum geli sambil menatap Alex?"


"Kenapa?" tanya lelaki itu bingung.


"Itu kamu berdiri."


"Hah?"


Alex kontan menunduk dan melihat miliknya yang mulai memberontan.


"Ah, sialan!"


Tanpa basa-basi ia segera berlari menuju kamar untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah merah padam.


"Dasar bocah," gumam Dafina.

__ADS_1


__ADS_2