
Alex turun dari mobil Dafina setelah melepas ciuman tersebut. Mobil itu melesat cepat begitu pintu ditutup.
Ya, Tuhan! Apa yang aku lakukan?
Pikiran Alex mendadak pening kembali.
Semoga ini bukan pilihan yang salah. Hanya satu bulan. Aku yakin setelah ini hidupku akan lebih tenang, batin Alex.
Ia sentuh lagi bibirnya yang belum lama mengering. Tanpa Alex sadari, ini adalah hari pertama lelaki itu memulai perselingkuhannya.
Alex berjalan lunglai menuju apartemen. Sejak kuliah dia memang memutuskan untuk tinggal sendiri. Tentu saja itu karena Alex ingin lebih bebas dari pengawasan orang tua. Meskipun begitu Alex tetap sering pulang ke rumah satu Minggu sekali.
"Eh, iya. Terus mobilku di kampus gimana?" Alex baru teringat akan mobilnya tepat saat ia hendak membuka pintu.
Baru saja Alex berbalik, tiba-tiba tubuh Sisca sudah muncul di depannya. "Dari mana?"
Gadis itu menatap bengis. Langkahnya mendekat dan tampak marah sekali.
Alex yang menyadari itu langsung menelan saliva. "Aku dari rumah sodara."
"Rumah sodara apa rumah sodara? Kamu itu nggak pinter boong ya, Alex. Memangnya aku nggak lihat kamu turun dari mobil Miss D?" Sisca berseru lantang, padahal dia memang tidak melihat. Tetapi dia punya bekal informasi yang diberikan oleh teman sekelas Alex.
__ADS_1
"A ... Aku bisa jelasin, Sis!"
"Jelasin apa? Jelasin kebohongan kamu yang mencurigakan?" Dia melipat tangannya di depan dada.
"Sis, please! Aku capek. Kamu boleh masuk dulu kalo emang masih sayang sama aku."
Alex membuka pintu rumahnya lebar-lebar. Sisca terpaksa masuk ke dalam.
Plakkkk!
Satu tamparan mendarat di pipi Alex. Dia memang pantas mendapatkan itu.
"Tamparan itu untuk kebohongan kamu!" ujar Sisca.
"Kenapa harus bohong segala si, Lex? Kalo kamu ada masalah sama skripsi kamu ya jujur saja sama aku," lanjut Sisca.
Skripsi?
Alex menghela napas lega.
Ada sedikit ketenangan di hati Alex saat pembahasan Sisca lebih membelok ke arah skripsi dibanding mencurigai omongan Miss D.
__ADS_1
"Maaf Sis. Kamu tahu dari mana kalau skripsi aku di tolak?" tanya lelaki itu.
"Ya tau ajalah, lah! Miss D itu dosen pembimbing paling killer di kampus kita. Jelas dia bakalan tahu kalau skripsi yang kamu buat itu bukan hasil tangan kamu sendiri. Kan sejak awal aku udah peringatin kamu."
"Maaf Sis." Alex menarik tangan gadis itu lalu memeluknya.
Hatinya mendadak sakit ketika melihat cahaya di mata Sisca.
Aku nggak bermaksud menghianati kamu Sis. Percayalah semua yang aku lakuin demi kita berdua, batin lelaki itu.
"Terus tadi kamu ngapain pergi sama Miss D?" Dia melepas pelukan. Pertanyaan Sisca pada akhirnya sampai di titik ini. Tetapi Alex sudah mempersiapkan kata-kata.
Dia tidak terlalu mau banyak berbohong supaya Sisca tidak curiga.
"Kita pergi ke restoran buat bahas skripsiku itu."
"Restoran? Emang harus banget di tempat begitu?" Dua alis Siska menukik. Tentu saja hal itu terkesan aneh di telinganya.
"Ya engga sih! Cuma tadi Miss D mau pergi makan. Daripada aku gagal konsul, jadi mendingan aku ikutin dia. Masih untung dia mau ngasih waktu buat aku," ujar Alex.
"Hmmm. Yakin cuma konsul doang?"
__ADS_1
"Yakin lah, Sis. Kamu gak percayaan banget sama aku." Buru-buru Alex memeluk gadis itu sebelum Sisca melihat sorot mata bohongnya.
"Maafin aku Sis. Maaf banget," batin Alex.