
Hari sudah menjelang siang, tapi Alex tak menemukan batang hidung Miss D sama sekali. Biasanya wanita itu jarang sekali telat berangkat ke kampus, maka dari itu Alex khawatir terjadi sesuatu dengan dirinya.
Alex pun mulai menghubungi nomor ponsel Dafina. Namun, sudah tiga kali mencoba tidak ada jawaban juga.
"Apa jangan-jangan dia kekunci di kamarku?" Lelaki itu kembali mengingat-ingat apakah tadi dia mengunci Dafina di kamarnya atau tidak.
Perasaan aku tidak mengunci pintunya, batin Alex.
Dadanya bergemuruh. Pikirannya tidak tenang. Buru-buru dia menuju parkiran untuk segera pulang ke rumah.
"Alex, mau kemana?"
Hawa sial datang secara tiba-tiba saat ia berpapasan dengan Sisca di tengah jalan. Alex menelan saliva. Rasa gugup perlahan menjalar meski saat ini tidak ada hal yang perlu dicurigai dari dirinya.
Alex berpikir sudah terlalu banyak berbuat dosa kepada Sisca. Itu sebabnya Alex merasa bersalah setiap kali bertemu gadis itu.
Bahkan yang lebih parah lagi, Alex selalu menolak tiap kali Sisca memberinya ciuman. Dia merasa hina dan tidak pantas mendapat perlakukan seperti itu dari Sisca.
"Aku ... Aku mau pulang, Sis."
"Ke apartemen? Aku ikut ya."
"Eh jangan!" Alex memundurkan langkahnya. Tentu saja hal itu membuat Sisca heran dan kembali menaruh curiga.
"Memangnya kenapa, Al?"
"Emm, gak papa Sis. Maksudnya aku mau pulangnya ke rumah Mama. Bukan pulang ke apartemen," ujarnya berkilah. Namun, matanya yang polos menyiratkan getar kebohongan yang tidak bisa ditutupi.
__ADS_1
"Ke rumah Mama apa ke rumah Mamaa? Kok kamu keliatan gugup gitu? Kamu bohong ya?"
"Nggak Sis! Kalo kamu nggak percaya ikut aja." Alex sigap menggandeng tangan perempuan itu.
Hanya senjata inj yang bisa Alex katakan. Biasanya Sisca akan menolak tiap kali Alex mengajaknya pulang ke rumah orang tua.
"Nggak Ah, aku malu kalau ke sana nggak bawa tentengan. Ya, udah. Salam buat mama ya, Al." Sesuai rencana Alex, Sisca pergi berlalu setelah mengatakan itu.
"Fiuhhh." Lelaki itu menghela napas. Akhirnya ia lepas juga dari marabaya, pikirnya sambil mengelus dada.
Sebenarnya Alex tak suka dengan situasi macam ini. Namun, saat bersama Miss D rasa tidak nyaman itu mendadak hilang. Semua rasa itu berganti dengan ribuan rasa campur aduk yang tidak bisa Alex jabarkan.
-
-
-
Sesampainya di sana Alex langsung membawa langkah kakinya menuju kamar.
"Nggak dikunci perasaan. Terus Miss kenapa?" Anak itu bermonolog dengan diri sendiri sebelum benar-benar membuka pintu.
Namun, sedetik kemudian matanya tiba-tiba membeliak saat melihat Dafina berbaring lemas di atas tempat tidurnya.
"Miss. Miss kenapa?" Alex mengguncang-guncangkan tubuh Dafina panik. Wajah Dafina sangat pucat. Tubuhnya juga dingin seperti orang mati.
"Bangun, Miss! Tolong jangan mati di sini!' seru lelaki itu.
__ADS_1
Menyadari ada kehadiran orang, Dafina membuka matanya perlahan. Ia berusaha duduk sambil memijit keningnya yang terasa berat.
"Aku belum mati Alex. Aku cuma sedikit demam," ujarnya lirih.
"Habisnya badan Miss dingin sekali. Siapa yang tidak panik melihatmu seperti itu!"
"Iya, sepertinya aku tidak enak badan gara-gara semalam tidur terlalu larut."
"Pantas saja kucari di kampus tidak ada! Ya sudah kalau begitu Miss tidur lagi saja." Alex kembali membaringkan Dafina secara perlahan. Wanita itu menatap Alex, lalu sedikit tersenyum saat melihat guratan kekhawatiran terukir di wajah Alex.
"Kenapa? Kamu kangen ya gara-gara aku tidak ada?"
"Apaan si, Miss. Miss ini sedang sakit!" Alex hendak berdiri mengambil obat demam, tapi Dafina menahan tangan lelaki itu supaya jangan ke mana-mana.
"Jangan pergi, Al!"
"Sebentar Miss! Aku cuma mau ambil obat pereda demam doang."
kepala Dafina menggeleng pelan tanda ia tidak membutuhkan benda itu.
"Aku tidak mau obat! Tolong peluk aku saja Alex. Aku dingin ...."
"Hah?"
Dua mata Alex kontan membola. Pikirannya jelas langsung melanglang buana ke mana-mana.
Pelukan?
__ADS_1
Di kasurku?
Alex benar-benar tidak bisa menebak apa yang akan terjadi pada dirinya di menit berikutnya.