
Satu Minggu dengan segala hari-hari yang buruk telah berlalu.
Selama satu Minggu itu Alex benar-benar tak melihat Dafina pergi ke kampus. Nomornya mendadak tidak bisa dihubungi, dan apartemennya selalu dalam keadaan kosong setiap kali ia berkunjung.
Kejanggalan itu pun membuat Alex sangat bingung harus mencari Dafina kemana lagi. Ia tak ada koneksi dan tak tahu di mana rumah orang tua Dafina.
"Huhh." Dia mengembuskan napas lalu duduk di salah satu bangku taman yang ada di kampus.
Kini Alex baru menyadari, bahwa selama ini ia tidak pernah mengenali dunia Dafina seperti apa. Dia hanya tahu Dafina dari sisi luar. Namun, Alex tidak tahu di bagian dalamnya wanita itu seperti apa.
Selama ini Alex sering mengolok-olok Dafina sebagai dosen binal, tapi dia tak pernah tahu seperti apa kepribadian gadis itu. Semua yang Alex lihat dan rasakan selama ini terasa semu. Itu hanyalah kesenangan yang diciptakan semata-mata untuk gambaran fatamorgana.
"Miss D!"
Alex berseru tatkala menyadari sosok Dafina berjalan dari kejauhan. Setelah menghilang selama satu Minggu tiba-tiba wanita itu muncul kembali ke hadapan Alex.
Buru-buru Alex berlari menghampiri Alex. Ada guratan bahagia sekaligus cemas di wajah lelaki itu kini.
"Miss ke mana saja? Apa Anda tahu betapa khawatirnya saya pada Anda?" seru Alex. Dia sengaja menggunakan percakapan baku karena ini di area kampus.
"Diamlah Alex. Sikap aneh kamu bisa membuat orang lain curiga pada kita," bisik Dafina. Suaranya terdengar kesal saat mengatakan itu.
"Aku ada perlu dengan, Miss. Aku ingin membahas tentang skripsiku," ujar Alex pura-pura.
__ADS_1
"Nanti siang aku akan menghubungimu, sekarang pergilah!" bisik Dafina lagi. Setelah menggertak Alex dia langsung pergi. Mereka berpisah di perempatan lorong. Dafina menuju ruangannya, dan Alex masuk ke kelas.
Alex agak mendesah kesal karena sikap Dafina. Padahal dulu Dafina jauh lebih santai. Dia tidak terlalu menjaga jarak seperti yang dilakukan barusan.
Sesuai perjanjian. Siang harinya Alex menghubungi Dafina. Nomor itu akhirnya aktif setelah sekian lama dimatikan.
Dafina kemudian langsung menyuruh Alex datang ke apartemennya agar mereka bisa leluasa bicara. Wanita itu yakin bahwa Alex pasti akan membicarakan hal lain di luar masalah skripsi.
Sesampainya di apartemen Dafina, Alex mengempaskan tubuhnya kasar. Ia tatap perempuan itu dengan sorot mata yang begitu tajam.
"Mau minum apa?"
"Terserah Miss saja." Alex masih terus menatapnya. Dafina gegas ke dapur tanpa memedulikan sikap aneh Alex. Dia membuat minuman teh hangat, lalu menyodorkannya pada Alex setelah minuman itu selesai dibuat.
Alex malah mendesah kasar. Dia menyandarkan punggungnya ke belakang tanpa mengalihkan pandangannya Dari Dafina barang sedikit pun.
"Aku bahkan belum memulainya," ucap Alex enteng. Kontan ekspresi Dafina berubah merah. Ia merasa dipermainkan oleh anak itu.
"Kalau begitu pergi dan mulai kerjakan. Kenapa malah ke sini?"
"Ada hal yang lebih penting dari sekadar skripsi Miss! Yaitu urusan pribadi kita. Mau sampai kapan Miss menghidariku tanpa kejelasan? Bukannya Miss seharusnya menjelaskan semua itu kepadaku?" kesal Alex. Ia menyambar cangkir yang ada di depannya. Lalu meminum teh itu hingga tandas tak tersisa.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi di antara kita. Semuanya sudah selesai." Dafina menatap datar. Jawaban itu jelas membuat Alex meradang. Kepalanya panas dan terasa ingin meledak saat mendengarnya.
__ADS_1
"Enteng sekali Miss bicara seperti itu? Apa Miss lupa? Sejak awal Miss sendiri yang menyeretku ke dalam permainan ini. Kita bahkan belum mengakhiri perjanjian kencan sebulan itu!"
Mendengar itu Dafina tertawa getir.
"Semua permaianan itu adalah fantasi yang aku ciptakan. Hanya aku yang berhak memulai dan mengakhirinya," ujar Dafina.
Alex benar-benar meradang dengan ucapan angkuh itu. Apakah semua yang Reyno katakan benar? Dafina hanya sedang beromong kosong. Dia tidak mengatakan itu murni dari hatinya.
Benarkah itu?
Dari cara Dafina bicara saja terlihat serius. Sama sekali tidak ada gerak-gerik bahwa Dafina sedang menyembunyikan kebenaran itu sendiri.
"Lalu bagaimana dengan aku? Aku sudah kehilangan keperjakaanku. Apakah Miss tidak mau tanggung jawab?" Akhirnya Alex mengeluarkan jurus jitu setelah berpikir cukup keras. Ia berusaha membalik keadaan dan menganggap dirinya seolah wanita yang butuh pertanggungjawaban.
"Jangan ngaco Alex. Apa yang kamu lakukan tidak membekas di tubuhnya. Bahkan jika kamu mengaku perjaka pada setiap wanita mereka tetap bakal percaya," kata Dafina.
Alex mendengkus lalu bergeser posisi duduk ke samping Dafina. Ia menarik tangan perempuan itu, kemudian meletakannya di antara hati dan da-da.
"Bagaimana dengan ini, Miss? Semua yang kita lakukan waktu itu sangat membekas di hatiku. Dan aku yakin menghilangnya Miss selama satu Minggu ini juga karena hal itu. Apa Miss mau mengelak? Mau membohongiku seperti bocah bayi?"
Dafina sontak menelan ludah. Pandangan mereka saling bertemu, dan itu membuat Dafina semakin gugup. Kepercayaan dirinya yang terlampau tinggi mendadak hilang. Jantungnya berdegup kencang seiring dengan wajah Alex yang semakin mendekat.
"Benarkah Miss tak merasakan sesuatu sejak malam itu terjadi?"
__ADS_1