
Dafina sedang santai-santai membaca buku saat seseorang menekan bell pintu di luar sana. Dia melirik sekilas pada jam yang ada di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul satu malam, siapa yang datang, pikirnya.
"Manusia tidak tahu diri dari mana yang mau bertamu jam segini?"
Walau malas, kaki wanita itu perlahan melangkah. Sebelum membuka ia melihat dulu siapa yang datang lewat monitor CCTV.
"Astaga, Alex ...?" Dafina langsung membukakan pintu begitu melihat pria itu berdiri sempoyongan di luar sana.
Brugh!
Lelaki itu terjatuh di pelukan Dafina begitu pintu terbuka. Dafina nyaris ikut terjatuh andai ia tidak siaga menopang tubuh berat Alex
"Alex ... Alex! Bangun Alex, apa yang terjadi?" Dafina berusaha menggoyang-goyangkan pipi anak itu, tetapi pria yang tengah hancur hatinya itu tak bereaksi sama sekali.
Akhirnya Dafina menutup pintu lalu membawa Alex ke kamar tamu. Dia membanting tubuh Alex di atas ranjang setelah berhasil membawanya dengan susah payah.
"Sebenarnya apa yang terjadi kepadanya? Sepertinya selama ini tidak pernah dia mabuk sampai tidak sadar," ujar Dafina. Ia lepas satu persatu sepatunya. Dafina juga berusaha membuka baju Alex yang basah terkena muntahan.
"Ah, sial!" Wanita itu langsung membuang baju-baju Alex ke tempat sampah. Persetan dengan semuanya, Dafina sungguh tidak menyukai sesuatu yang kotor apalagi bau.
Kini Alex hanya memakai boxer dan kaus dalam. Dafina si biasa saja melihatnya. Namun, tidak dengan Alex yang kejiwaannya sedang terusik.
Dia menarik tangan Dafina begitu menyadari bau badan wanita itu. Alex memaksa Dafina agar ikut berbaring di sampingnya.
"Jangan pergi, Miss! Aku butuh Anda!"
__ADS_1
"Ternyata kamu masih punya kesadaran juga ya, Alex?" Perempuan itu mencibir.
Dengan tidak tahu dirinya Alex merangkul Dafina. Dia tumpahkan semua rasa kecewanya pada perempuan itu.
Kandungan alkohol yang menguasai diri Alex membuat pria itu tak sadar telah menangis di pelukan Dafina seperti bocah bayi.
Dafina sedikit tersenyum melihat tingkah Alex yang sangat manja. Kalau tidak mabuk Alex tidak mungkin bisa seperti itu, pikirnya.
"Aku akan merekam untuk dokumentasi!" Dafina mengambil ponsel yang tadi diletakkan di atas nakas. Ia mulai merekam. Ada banyak hal yang dilakukan Dafina dalam durasi video tiga menit itu. Video itu akan dia pakai untuk jaga-jaga bila mana Alex membuat dia kesal nantinya. Dafina bisa menggunakan video itu untuk mengancam Alex.
Setelah puas memainkan Alex, Dafina kembali meletakkan ponselnya ke atas nakas. Ia tepuk-tepuk pipi Alex supaya lelaki itu sadar.
"Kamu sudah mengusik ketenanganku malam-malam. Jadi kamu harus cerita apa yang terjadi sebenarnya," ucap Dafina penuh ancaman.
Alex yang masih dikuasai alkohol sepenuhnya hanya menjawab dengan dehaman tidak jelas. Itu membuat Dafina kesal dan teruji rasa penasarannya.
"Jangan Miss ... Aku butuh kamu!" Lelaki itu bicara setengah sadar. Bahkan bahasanya sudah mendekati tidak formal.
"Sisca ... Dia ...."
"Sisca kenapa? Cepatkan bicara!"
"Sis--" Alex berhenti bicara. Tiba-tiba ia mendengkur dan nyaris tidur.
Plakk!
__ADS_1
Dafina yang sudah sangat kesal terpaksa menampar pipi Alex. Lelaki itu sedikit membuka mata, lantas menatap Dafina sambil meringis kesakitan.
"Kenapa kamu menampar aku? Apa kamu mau jadi seperti Sisca yang jahat itu?" gumam Alex. Dari sikap dan nada bicara Alex, Dafina bisa menebak kalau lelaki itu amat frustrasi.
"Makanya katakan apa yang terjadi padamu? Jangan membuat orang khawatir!"
Mendengar kata khawatir, Alex tersenyum kecut. "Terima kasih sudah mau mengkawatirkanku, Miss."
" Hmmm. Terus kapan kamu mau cerita sialan!" Perempuan itu mencubit ginjal Alex hingga lelaki itu agak terusik. Perlahan Alex mulai sadar lagi dan mau membuka mulutnya.
"Sisca ... Dia hamil," lirih pria itu kemudian.
Sejenak Dafina terdiam. Dia menatap jijik dan menjauhi dari tubuh Alex.
"Apa Sisca hamil anakmu?" tanya Dafina. Jika ia dia akan membatalkan perjanjian pacaran mereka.
Segila apa pun Dafina, ia masih waras untuk tidak menggoda pria yang mau punya calon bayi.
"Kalau itu anakku mungkin aku tidak akan diusir oleh manajer bar karena mengamuk di sana. Itu bukan," jawab Alex setengah sadar.
"Si brengseek itu ... Dia ... Dia hamil dengan pria lain. Dia hamil dengan selingkuhannya," kata Alex lagi.
"Ya Tuhan, Alex! Apakah itu benar? Pantas saja kamu sampai seperti ini. Ternyata?" Dafina tak berani melanjutkan kalimat sensitif berikutnya. Dia kemudian memeluk Alex. Membenamkan wajah kuyu itu ke dadanya yang nyaman.
"Miss ... Aku sakit. Hatiku hancur!"
__ADS_1
"Berpikir jernihlah Alex. Mulai saat ini kamu harus sadar. Lupakan Sisca. Dia bukan wanita yang pantas untuk kamu tangisi," ujar Dafina.
Meski kata-katanya tidak bisa menyembuhkan luka di hati Alex, setidaknya Dafina berharap Alex sedikit sadar bahwa Sisca adalah perempuan yang tidak layak untuk ditangisi.