PESONA PELAKOR LIAR

PESONA PELAKOR LIAR
Kok Diam?


__ADS_3

***


"Miss kok diam? Jawab aku, dong! Jika aku jelek Miss tidak akan menyukaiku?" ulang lelaki itu untuk kedua kali.


"Tentu saja bukan hanya karena tampan, karena kamu polos dan sangat menggiurkan," ucap Dafina tanpa rasa canggung.


Alex yang merasa muak memilih diam setelah mendengar jawaban dari Dafina. Otak warasnya tidak akan nyambung kalau sudah berurusan dengan wanita itu.


Tak lama kemudian makanan pesanan mereka datang. Keduanya memilih makan dan tak mengucapkan sepatah katapun. Hingga semua makanan di meja bersih tak tersisa.


Alex beranjak, hendak ke kasir untuk membayar tagihan makanan mereka. Dafina mencegah Alex dan berkata, "Sudah kubilang tidak usah membayar tagihan, semua biaya kencan kita aku yang tanggung."


"Tidak mau! Aku tidak ingin memiliki hutang pada, Miss D."


"Apa sih .... Gunakan saja uangmu untuk keperluan sehari-hari, aku tidak butuh dibayari oleh pria kecil sepertimu."


"Tapi, Miss-" Dafina menjeda ucapan Alex seraya mengangkat tangannya.

__ADS_1


"Stop!" Gadis itu memilih pergi setelah mengatakan itu, lalu beranjak ke arah kasir dan mengeluarkan kartu kredit miliknya untuk membayar tagihan.


Alex mendesah lemah, ia benci sekali melihat wanita yang suka seenaknya seperti Dafina.


Ditatapnya punggung sexy itu dengan perasaan kesal, menyebalkan. Kenapa sih, ia harus terjebak pada situasi yang tidak diinginkan seperti ini?


Selesai menemani Dafina makan, mereka pun bergegas menuju parkiran mobil. Hari ini niatnya Dafina hanya ingin makan berdua dengan Alex, setelah itu ia akan mengantarkan cowok itu pulang ke rumahnya.


"Kita mau ke mana lagi?" taanya Alex dengan nada datar.


"Maunya kemana?"


"Kalau begitu pulang saja. Istirahat dan mulai serius menggarap skripsimu."


"Bagaimana mau serius kalau scripsi saya saja selalu ditolak oleh, Miss?" kesal lelaki itu.


"Karena scripsimu jelek."

__ADS_1


"Bukan karena Miss pengin aku tidak lulus?" Mata Alex memicing sinis.


Dafina tersenyum. Meski dia menyukai Alex, tapi hubungannya dengan lelaki itu tidak ada hubungannya dengan skripsi.


"Skripsimu itu terlalu buruh. Untuk masalah pendidikan aku tidak pernah main. Sekalipun dia tampan membahana, scripsinya tetap akan kutolak jika isinya tidak bermutu."


"Jadi scripsi saya dianggap tidak bermutu? Asal Miss tahu ya? Saya mengerjakan itu sampai tidak tidur berhari-hari.


"Oh ya? Jika hasil skripsi itu bukan hasil tangan orang lain mungkin aku akan mempertimbangkan." Dafina menyemburkan kalimat menohok.


Alex spontan terdiam.


Bagaimana dia bisa tahu, batinnya dalam diam.


"Sudahlah, tidak usah dibahas. Aku pasti akan menyetujui skripsimu jika kamu mengerjakannya dengan sungguh-sungguh." Wanita itu tersenyum manis sekali.


Dafina kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Alex, lantas memasangkan seat belt milik Alex. Aroma parfum yang manisnya langsung membangunkan gairah kelakian Alex saat gadis itu mendekatinya. Pria itu juga sedikit terkesima oleh perlakuan spesial yang Dafina lakukan untuknya. Memasang seat belt. Hal yang tidak pernah Alex dapatkan dari wanita manapun.

__ADS_1


Dalam diam Alex mulai penasaran dengan kehidupan pribadi Dafina. Ia memiliki sifat yang jauh berbeda dengan para gadis yang Alex kenal sebelumnya. Jika kebanyakan gadis selalu menjaga image dan malu-malu, Dafina malah tak tanggung-tanggun menunjukkan keagresifannya. Terlepas dari itu, caranya memberikan perhatian pada Alex juga sangat Aneh. Ia banyak melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan laki-laki pada wanita. Dalam arti, Dafina meliki sifat yang sangat mandiri, tidak bergantung pada laki-laki, dan tentunya senang memanjakan pasangannya.


__ADS_2