
Ucapan Alex sukses membuat Dafina tidak bisa tidur semalaman. Sekitar jam lima pagi dia keluar kamar, tampak Alex sedang terlelap di atas sofa dengan keadaan laptop yang masih menyala.
Dafina sedikit tersenyum melihat kegigihan Alex. Andai lelaki itu bukan bocah kemarin sore mungkin Dafina akan mempertimbangkan Alex untuk dijadikan pacar.
Tak munafik perempuan itu memang menyukai Alex. Tapi ketertarikan yang didasari dengan fantasi tidak bisa dibandingkan dengan cinta yang murni.
Jauh di dasar hati Dafina masih ada harapan kecil bahwa suatu hari nanti ia akan menemukan lelaki tepat, yang pasti bukan Alex orangnya.
"Ah, anak itu benar-benar menyebalkan!"
Dafina mendekat perlahan saat menyadari dirinya terlalu lama berdiri memandangi Alex. Rasa kagum itu ia tepis mentah-mentah.
Jangan Dafina. Jangan kau taruh hati untuk bocah ingusan seperti itu. Sudut hatinya berkata lain.
Dia mendekat ke tempat Alex berada untuk menutup laptop di atas meja. Kemudian, dengan gerakan hati-hati sekali Dafina berjongkok di samping Alex untuk mengambil selimut yang terjatuh.
"Miss ...."
Brakkk!
Saura Alex kontan membuat Dafina terjungkal ke belakang. Kepalanya menabrak sudut meja dan itu sakit sekali.
"Miss ... Miss tidak papa?" Buru-buru Alex bangun dan membantu Dafina untuk duduk. Perempuan itu terlihat meringis kesakitan. Tangan satunya memegangi lengan Alex dan satunya lagi mengelus-elus kepala bagian belakang.
__ADS_1
"Kamu membuatku kaget, Alex!"
"Maaf, Miss! Aku juga kaget karena Miss tiba-tiba mendekatiku," ujar lelaki itu.
Sebenarnya Alex sudah terbangun dari sejak Dafina membuka pintu kamar. Namun, ia sengaja pura-pura tidur supaya bisa melihat gerak-gerik Dafina.
Wanita itu terlihat menatap Alex dengan begitu intens. Dan saat dia mendekat, Alex sudah tidak mampu lagi berpura-pura tidur. Mulutnya yang semula rapat tanpa sadar terbuka dan menyapa dengan sendirinya.
"Maafkan aku, Miss! Mana yang sakit, sini aku lihat."
Alex menangkap kepala Dafina dengan dua tangan. Hal itu seketika menimbulkan debaran tidak biasa di hati Dafina. Di dalam tubuh sana ada sesuatu yang bertalu-talu tidak jelas.
"Yang ini?"
Tangan Alex sudah berpindah ke belakang. Dia mengusap-usap kepala belakang Dafina tanpa menyadari jarak pandang mereka terlalu dekat. Dafina bahkan bisa merasakan embusan napas hangat Alex menerpa wajahnya.
Dia memijit lebih keras lagi. Rasa sakit yang terdapat pada belakang kepala Dafina tak terasa saking gugupnya.
Dafina berusaha keras untuk bersikap biasa saja. Tapi, tanpa sadar matanya tertuju ke bawah. Ia melihat ada sesuatu yang menyembul di balik boxer spidermen milik Alex.
Glek.
Dafina lagi-lagi dibuat menelan ludah karena canggung. Entah kenapa juga matanya terus mengarah ke situ. Seolah mata itu dipenuhi rasa penasaran yang teramat tinggi.
__ADS_1
Menyadari ada yang aneh, Alex buru-buru menarik selimut dengan tangan yang satu untuk menutupi pahanya.
"Maaf, Miss! Dia memang suka bangun sendiri kalau pagi-pagi begini" lirihnya tak enak hati.
Perkataan Alex barusan membuat pipi Dafin makin merona. Rasanya ia ingin kabur, tapi tangan Alex masih setiap mengusap belakang kepalanya.
Situasi seperti ini adalah situasi paling canggung yang tidak pernah Dafina rasakan sebelumnya.
2 hari ....
Hanya dua hari lagi Alex akan pergi. Namun, dua hari itu terasa lama sekali untuk Dafina. Dia semakin terjerat dan kesulitan mendapat udara.
Rasa sesak menghimpit dada, dan itu jelas terasa tidak enak.
"Apakah, Masih sakit Miss?" Suara Alex membuyarkan Dafina dari lamunan. Dia terlihat meringis, dan ....
Astaga!
Dafina langsung melompat ke belakang saat menyadari tangannya bergerak ke gurun terlarang. Tak seharusnya tangan itu berada di sana.
"Maaf, aku tidak sengaja."
"Tidak masalah, Miss! Dia suka, kok." Alex mengedipkan mata genit sebelum akhirnya beranjak ke kamar mandi.
__ADS_1
"Mau ke mana?" tegur Dafina.
"Mandi Miss. Ada sesuatu yang harus aku siram pakai air dingin supaya tenang."