PESONA PELAKOR LIAR

PESONA PELAKOR LIAR
Alex Ke Rumah Sisca


__ADS_3

Melupakan soal Dafina sejenak, Alex kembali fokus pada hubungannya dengan Sisca. Sekitar pagi-pagi sekali Alex mendatangi kos-kosan perempuan itu untuk meminta kejelasan. Namun, usahanya ternilai nihil karena Sisca sudah pergi membawa semua barang-barangnya.


Artinya wanita itu sudah tidak tinggal di kosan itu lagi. Dia benar-benar pergi bahkan tanpa berpamitan pada Alex sama sekali.


Alex yang baru saja dibuat emosi kemudian memacu mobilnya kembali.


Kali ini tujuan lelaki itu adalah pergi ke Bogor untuk menemui orang tua Siska.


Ia ingin bertanya kenapa orang tua Siska tega membuat hubungan mereka jadi begini.


Kisaran jam makan siang Alex sudah sampai di rumah Sisca. Ia baru saja hendak masuk, tapi tiba-tiba satpam di depan gerbang keluar dan melarang Alex masuk.


"Mas Alex! Di dalam sedang ada acara, dan Non Sisca berpesan untuk tidak membukakan pintu kalau Mas Alex datang."


"Memangnya kenapa?" Alex makin dibuat naik pitam karena ucapan Pak satpam. Apalagi udara siang itu terasa panas. Hati Alex jadi makin terbakar saat diperlakukan dengan miris seperti itu.


"Saya tidak tahu kenapa Mas, tapi itu adalah pesan dari Non Sisca nya langsung! Dan kebetulan di dalam juga akan diadakan acara lamaran Mas."


"Lamaran? Cih!" Alex meludah ke sembarang arah. "Dia itu masih pacar saya. Ngapain pake acara lamar-lamar segala?"


"Lah, mana saya tahu Mas Al! Saya hanya bertugas menjaga keamanan di sini. Bukan menjaga hati, eh," ujar si satpam lalu menutup mulut dengan gerakan slowmotion.


"Ya sudah sana panggilin Sisca, deh. Kalau dia nggak mau ke luar aku bakalan obrak-abrik acara yang ada di dalam," ancam Alex.

__ADS_1


"Ja ... Jangan dong, Mas! I ... Iya saya panggilkan!" Satpam itu buru-buru ngibrit masuk ke dalam.


Alex mengepalkan kedua tangannya. Rasanya ia ingin sekali mengamuk, dan kalau perlu ia bakar sekalian rumah Sisca biar semuanya keluar.


"Enak aja main tunangan-tunangan. Kamu pikir masalah kita sudah kelar?" sungut Alex.


-


-


-


Tak lama kemudian Ayah Sisca keluar.


"Yah, jangan Yah! Jangan lakuin itu!" teriak Sisca.


Alex menautkan dua alisnya heran. Mungkin Ayah Sisca mau ngajakin dia berantem, pikir Alex saat itu.


Ayah Alex kemudian membukakan pintu gerbang. "Masuklah! Kamu punya waktu setengah jam di sini. Setelah calon suami Sisca datang kamu tidak akan ada si sini lagi!" Ayah Alex masuk ke dalam setelah itu.


Alex mematung di depan gerbang. Ada rasa heran kenapa Ayah Sisca yang semula ramah menjadi galak begitu.


"Keren ya, Sis! Mentang-mentang udah dapet calon mantu terbaik ayahmu langsung galak banget sama aku!" ujar Alex.

__ADS_1


Sisca mengelap air matanya. Dia kemudian mendorong dada Alex supaya jangan masuk ke rumah.


"Pergilah, Al! Tolong jangan ke sini lagi," lirih Sisca.


"Memangnya kenapa? Ayahmu nyuruh aku masuk itu, loh. Kali aja dia mau ajak aku adu baku hantam," balas Alex Sinis.


"Please, Al! Kalau kamu memang sayang sama aku, tolong pergi dari sini. Tolong ikhlasin aku sama yang sekarang!"


"Hmmm. Enak banget kamu ngomong gitu. Kamu ini punya hati gak sih,? Kamu tau gak gimana hancurnya perasaan aku sekarang? Aku sudah seperti pengemis kayak gini, Sis!" Lontaran kata frustrasi keluar dari bibir Alex.


"Maafin aku, Al!" Air mata Sisca jatuh berderaian ssmakin banyak. Melihat Alex semarah itu ia makin tak kuasa melihatnya.


Andai waktu dapat diputar kembali, ia pasti tidak akan selingkuh dengan pria itu. Ia pasti akan setia kepada Alex sampai mereka berhasil menikah sesuai harapan keduanya.


"Sisca! Apa kamu tidak akan membiarkan dia masuk!" Suara Ayah Sisca kembali menggema dari dalam. Dia juga tampak marah seperti Alex.


Alex refleks mengedikkan bahu. "Kamu denger, kan Sis? Ayah kamu saja menyuruh aku masuk. Masa kamu ngusir aku?"


Dia menabrak bahu Sisca dengan bahunya, lalu masuk setelah berdecih sinis di telinga Sisca.


"Maafkan aku, Al!"


Sisca terpuruk jatuh setelah itu. Sementara Alex terus maju ke rumah Sisca dengan lantangnya.

__ADS_1


__ADS_2