
"Permintaan apa, Alex?"
Dafina mengulang pertanyaannya untuk kedua kali. Di pikirannya saat ini, Dafina mengira Alex akan meminta sesuatu yang berkaitan dengan tubuh, lebih tepatnya dia ingin tidur bebas bersama.
Oh tidak! Dafina jelas tidak akan memberikan itu jika Alex sampai meminta.
"Kau tidak akan memintaku untuk melayanimu dalam hal aneh-aneh, kan?" Belum sempat menjawab, tebakan itu sudah melayang-layang di pikiran Dafina.
Kepala lelaki itu menggeleng. "Tenang saja, Miss. Aku tidak akan meminta hal-hal yang berkaitan dengan hubungan badan meski kita sudah pernah tidur seranjang," jawab Alex paham.
Dafina baru bisa bernalas lega saat mendengar itu. "Huhhh." Dia menyandarkan punggungnya ke belakang. Wanita itu memotong secuil daging lalu memasukkannya ke mulut dengan gerakan pelan.
"Aku pikir kamu akan meminta hal seperti itu Alex."
"Selama otak masih waras aku tidak akan melakukan itu," balas Alex cepat.
"Benarkah?" Dafina tersenyum. "Jujur aku benci sekali dengan laki-laki yang mengutamakan hal seperti itu. Apalagi semua laki-laki yang dekat denganku hampir 99 persen mengincar hal itu," ujar Dafina.
__ADS_1
Lagi-lagi Alex tersenyum. Dia mendekatkan kursi duduknya supaya lebih leluasa memotong daging. Emmm ... atau mungkin juga karena ingin lebih leluasa memandangi wajah Dafina yang mendayu-dayu.
"Jadi aku harap kamu sedikit berbeda, Al. Mengenai apa yang terjadi pada kita di belakang, aku memaafkanmu karena itu diluar batas kewarasan manusia."
"Terima kasih atas pengertiannya, Miss. Untuk saat ini ada hal lain yang ingin kulakukan. Menurutku ini jauh lebih penting dari sekadar hubungan badan."
"Apa itu?" Kelopak mata Dafina mengerjap. Ia ukir senyumnya yang paling manis saat menatap Alex.
Lelaki itu mengedikkan setengah bahunya. Dia tersenyum. "Keinginan yang sederhana kok, Miss. Aku cuma ingin bertemu dengan kedua orang tua, Miss D."
"Uhukkk!" Kontan Dafina tersedak secuil Daging yang belum sempat tertelan dengan sempurna. "Apa kamu bilang? Ketemu sama orang tuaku?"
"Itu tidak mungkin Alex!" tandas Dafina cepat.
"Kenapa tidak mungkin?" Alex memiringkan sebelah kepalanya. "Hubungan yang ingin aku jalani dengan Miss itu serius. Meskipun baru pacaran, meskipun belum ada cinta yang tulus, tapi aku serius. Aku serius ingin melangkah ke jenjang yang lebih dari ini," ucap Alex.
Ekspresi wajah Dafina berubah dalam sepersekian detik. Jelas ia tidak setuju dengan permintaan Alex karena itu bisa merusak hubungan yang baru dimulai.
__ADS_1
Dia tahu betul orang tuanya sangat selektif dalam memilih calon menantu. Pemuda yang masih berstatus kuliah pasti jelas akan tersingkir dari daftar calon menantu baik.
"Emm ... Apa ini tidak terlalu cepat? Kita kan bisa memulai hubungan dengan saling mengenal satu sama lain dulu. Tidak harus langsung ketemu orang tua," ujar Dafina.
Alex mengernyit. Ia mengambil segelas air putih lalu meminum setengah dari gelas itu.
"Tentu saja tidak, Miss. Ini adalah waktu yang paling pas. Nanti setelah aku bertemu dengan orang tua Miss, aku juga akan membawa Miss bertemu dengan orang tuaku. Menurutku hubungan paling baik adalah hubungan yang diketahu kedua orang tua kita," kata Alex yakin. Dulu saat dengan Sisca dia juga melakukan hal sama.
"Lalu bagaimana dengan masalah yang terjadi padamu dan Sisca? Orang tuamu pasti kaget kalau tiba-tiba saja kamu bawa orang baru ke rumah."
"Aku akan segera menceritakannya setelah kita datang ke sana. Aku yakin kedua orang tuaku pasti akan mengerti." Alex menarik satu tangan Dafina lalu menciumnya dengan lembut. Ia tatap perempuan anggun itu dengan binar bahagia. "Miss tidak perlu takut. Orang tuaku tidak terlalu banyak ikut campur jika itu berkaitan dengan pasangan anaknya. Asalkan aku bahagia ... Mereka juga pasti bahagia.
Dafina tersenyum simpul. Dia sama sekali tidak takut dan tidak memikirkan reaksi orang tua Alex saat melihatnya. Dafina justru takut kedua orang tuanyalah yang akan murka karena dia membawa seorang bocah ke rumah ke rumah utama.
"Bagaimana, Miss? Apa Anda setuju?"
Pertanyaan Alex berikutnya membuyarkan Dafina dari lamunan. Dia terpaksa mengangguk karena anak itu tampak bersemangat sekali.
__ADS_1
Aku yakin dia akan mengerah jika sudah bertemu dengan kedua orang tuaku. Tapi kenapa aku jadi merasa cemas? Bukankah ini bagus? Aku tidak perlu susah-susah membuat bocah ini lepas dariku, batin Dafina. Entah kenapa sudut hatinya yang lain merasakan ada keanehan yang sulit didefinisikan.