
Melihat Sisca berpakaian kebaya seperti tadi, dada Alex terasa nyeri sekali. Apalagi begitu masuk ke rumah Alex langsung disuguhkan dengan pemandangan tak biasa.
Happy Engagemen
Sisca & Basstian
Hati Alex makin tidak karuan begitu melihat hiasan dinding bertuliskan kata sialan itu.
"Duduklah!" Ayah Sisca mempersilakan Alex duduk. Wajahnya yang tadi sempat merah padam perlahan melembut. Namun, sorot matanya tampak memerah seperti sedang menahan tangis.
"Karena kamu sudah datang jauh-jauh dari Jakarta ke sini, pasti Ayah yakin ada hal penting yang ingin kamu sampaikan. Bicaralah ..." Ayah Sisca mempersilakan Alex bicara terlebih dahulu karena wajah lelaki itu tampak menggebu-gebu. Selain itu juga supaya lebih paham duduk perkaranya.
Alex segera membenarkan posisi duduknya. Ia tatap wajah Ayah Sisca dengan pandangan serius.
"Benar Ayah! Saya ke sini memang ingin bicara dengan Ayah secara langsung. Lebih tepatnya saya mau meminta keadilan kepada Ayah!"
"Keadilan apa yang ingin kamu dapatkan dari manusia tak berdaya sepertiku?" Suara parau itu tiba-tiba bergema. Bahkan Ayah Sisca seperti hendak menjatuhkan air di pelupuk matanya.
Sejenak ekor mata Alex melirik ke ambang pintu. Ia menunggu Sisca masuk ke dalam, tetapi wanita itu tak kunjung ada. Mungkin Sisca terlalu takut menghadapi masalah ini bersama-sama, pikir Alex saat itu.
"Saya ingin tanya kenapa Ayah tega menjodohkan Sisca dengan orang lain? Padahal selama ini respon Ayah pada hubungan kami selalu baik, bahkan Ayah sendiri merasa percaya dan berani menitipkan Sisca pada orang seperti saya! Bukankah itu artinya Ayah sudah menyetujui hubungan kami? Lalu kenapa akhirannya jadi begini, Yah?"
Alex menjeda ucapannya sejenak. Ia menarik napas panjang supaya emosinya agak reda sedikit. Karena jujur, sekarang hati Alex sedang meledak-ledak tidak jelas.
"Saya pikir kita sudah dekat satu sama lain. Tapi ternyata--" Lagi-lagi pria itu tak sanggup melanjutkan ucapannya.
Alex menelan saliva, baru kemudian bicara lagi. "Jujur saya tidak paham dengan semua ini, Ayah. Saya butuh penjelasan," tegas Alex kemudian.
Menarik napas panjang, Ayah Sisca kemudian menyodorkan segelas air putih kepada Alex.
"Minum dulu!"
Alex meraih segelas air putih yang ada di meja lalu menenggaknya sampai habis. Air putih itu sudah ada sejak Alex belum datang, tapi Alex mau meminum segelas air putih itu tanpa ragu.
__ADS_1
"Itu adalah air putih yang Ayah sediakan untuk kamu sejak pagi tadi. Berarti insting ayah benar, kamu pasti akan datang ke sini!"
"Sayangnya saat ini saya sama sekali tidak tertarik dengan insting Ayah! Saya ke sini karena butuh penjelasan!" tegas Alex lantang.
"Hmmm. Ayah tahu itu ... dan Ayah juga sudah menduga sejak awal. Sisca pasti tidak mungkin mau jujur kepadamu!"
"Maksudnya?" Kening Alex membentuk tiga kerutan lurus. Tampak keringat memenuhi seisi dahi, tapi Alex benar-benar tidak peduli.
"Ayah akan menjelaskan semuanya kepadamu! Tapi Ayah harap kamu tidak menyakit anak itu. Busuk-busuk begitu juga Sisca adalah anak kesayangan Ayah. Mungkin Ayahnya yang busuk karena tidak becus mendidiknya!"
"Maksudnya bagaimana, Ayah?" Lelaki itu makin tidak paham.
Namun, ia bisa melihat ada rasa sakit mendalam di mata Ayah Sisca. Dan dari ucapan itu, sepertinya Ayah Sisca jauh lebih sakit daripada Alex.
"Berjanji dulu kepadaku!"
"Ya, saya berjanji tidak akan menyakiti Sisca. Sejak awal kami pacaran saya juga tidak pernah menyakiti anak itu, bukan?"
Senyum berat mengembang di pipi Ayah Sisca. Dia menatap bangga. "Kamu memang anak yang baik. Ayah selalu percaya padamu!"
Ayah Sisca kembali fokus pada topik pembicaraan yang belum terpecahkan. Dia benar-benar tidak tega mengatakan ini pada Alex. Tapi anak itu berhak tahu kelakuan busuk pacarnya.
"Sebenarnya Ayah ataupun Ibu tidak pernah menjodohkan Sisca dengan siapa pun, Alex! Itu semua hanya kebohongan yang dibuat-buat oleh Sisca."
Kontan dua bola mata Alex membola. Apa maksudnya ini?
Dia semakin memajukan posisi duduknya. Menunggu penjelasan dari Ayah Sisca dengan wajah tidak sabaran. Sejenak dia melirik ke arah pintu, tapi Sisca benar-benar tidak nampak batang hidungnya.
"Sisca telah membohongimu. Dia sudah dihamili oleh pria lain, maka dari itu mau tidak mau mereka harus menikah!"
"Hamil?" Axel memiringkan kepalanya.
"Nggak ini nggak mungkin! Ayah pasti bohong 'kan? Ini hanyalah akal-akalan Ayah supaya aku percaya dan berhenti mengejar Sisca?" tebak Alex. Bahkan di ambang kehancuran hubungannya saja Alex masih berusaha percaya dengan gadis pembohong itu.
__ADS_1
"Ini adalah aib keluarga! Untuk apa Ayah membohongimu dengan hal yang memalukan begini," ujar Ayah.
Kepala Alex menggeleng tak kuasa. Mengingat bagaimana Sisca begitu baik kepadanya, rasanya tidak mungkin jika Sisca selingkuh.
Ayah Sisca kemudian mengambil sebuah amplop dari kolong meja dan membuka isinya. Dia menyerahkan selembar foto itu kepada Alex.
"Itu adalah hasil USG yang Sisca berikan. Dia hamil sembilan Minggu!"
Deg!
Nyawa Alex melayang bagaikan dimakan burung elang. Telinganya berdengung, dan otaknya mendadak bingung.
Hamil?
Dengan Pria lain
Ia nyaris tidak percaya kata itu akan ia dengar dari Ayah Sisca. Alex bahkan masih berharap apa yang didengarnya ini hanyalah bohong.
Namun, hasil USG yang disodorkan Ayah Sisca menjawab semua keraguan Alex. Di situ juga ada keterangan dokter bahwa Sisca dinyatakan hamil 9 bulan.
"Kenapa jadi begini, Ayah?" Air mata Alex perlahan menetes.
Dari sekian banyak sad boy di dunia ini, kenapa Alex harus tergabung ke dalamnya.
Alex tahu jodoh ada di tangan Tuhan. Tapi ia masih belum menyangka saja. Kenapa hancurnya hubungan mereka harus disebabkan oleh Sisca yang hamil dengan pria lain.
"Semalam Sisca pulang dan mengakui perbuatannya. Dia bilang sudah setengah tahunan ini menjalani hubungan terlarang dengan salah satu anak Pejabat di komplek ini."
Ayah bergeser tempat duduk. Kini ia duduk mensejajari Alex. Dan untuk terakhir kalinya lelaki paruh baya itu merangkul pundak Alex seolah meratapi luka di hati masing-masing.
"Terima kasih sudah menjaga anak Ayah selama ini Alex. Sekaran waktunya kamu memikirkan masa depanmu. Ayah yakin kamu akan mendapatkan wanita yang lebih baik dari Sisca!"
Kata kejam itu pada akhirnya keluar dari mulut Ayah Sisca. Terasa menusuk ke jantung, tapi Alex tidak mungkin terus hidup bergantung.
__ADS_1
Seperti yang dikatakan si camer gagal, Alex harus mulai melupakan Sisca dan mencari masa depannya sendiri.
Alex kemudian melirik ke arah pintu. Ia masih berharap Sisca datang untuk menjelaskan semua itu secara langsung. Tapi sepertinya wanita itu tidak punya nyali lagi untuk bicara.