
Seperti tidak ada yang terjadi kepada mereka, Dafina gagas melangkah ke kamar mandi setelah pembahasan itu dia akhiri secara paksa.
Alex sendiri dapat melihat betapa susahnya Dafina berjalan. Dia tampak meringis kesakitan, langkahnya berat dan tertatih-tatih, tapi wanita itu masih tetap gengsi untuk sekadar mengeluh apalagi meminta bantuan.
Tak lama kemudian Dafina kembali lagi ke kemar di mana Alex masih berbaring. Dia memberikan satu stel baju laki-laki kepada Alex.
"Semalam aku membuang bajumu yang terkena muntahan. Untuk sementara pakai baju ayahku dulu, sepertinya ukurannya muat di kamu," ucap Dafina.
Sialnya Alex sama sekali tak menghiraukan ucapan itu. Tatapannya terlalu fokus pada Dafina dan apa yang telah mereka lakukan semalam."
"Miss ...," lirih Alex dengan mata berbinar sedih.
"Mandilah, setelah sarapan kamu boleh pulang!" Dafina langsung pergi dari kamar itu seolah sengaja menghindari sesuatu.
"Ah, sial!" Alex meninju udara dengan dua tangannya.
Kecanggungan sialan macam apalagi, ini?
Lelaki itu menjuntaikan kakinya ke lantai. Namun, noda darah di atas seprai kembali terlihat begitu Alex menyibakan selimut.
Alex membelai kain halus itu dengan satu tangan. "Maafkan aku Miss," lirihnya.
Lelaki itu berharap Dafina bisa diajak kompromi setelah ini. Ia tidak mau dijadikan lelaki pengecut yang tidak bertanggung jawab atas perbuatannya.
Paling tidak, harus ada solusi atas perkara yang sudah terjadi. Dan tentunya hal itu juga tidak merugikan satu sama lain.
__ADS_1
_
_
_
Sekitar tiga puluh menit kemudian Alex keluar dari kamar. Dafina tersenyum. Wanita itu mendekat ke arah Alex lalu merapikan kerah bajunya.
"Sepertinya baju ayahku cocok di kamu. Kamu boleh menyimpannya untuk kenang-kenangan," kata Dafina.
"Ayo kita makan!" Dafina berniat menggandeng Alex ke meja makan. Tapi lelaki itu terlebih dahulu bergerak cepat.
Alex menarik Dafina dan mengunci tubuhnya di antara tembok. Jarak merek sekarang sangatlah dekat. Bahkan Dafina bisa merasakan jantung Alex yang berdetak secara tidak wajar.
"Miss, aku mohon jangan menghindar lagi! Jangan membuat aku merasa bersalah karena kejadian semalam," tandas lelaki itu.
"Sejak awal tidak ada yang menyalahkanmu Alex. Jadi jangan terlalu berlebihan menyikapi semua ini! Lupakan, dan jalani kehidupanmu tanpa rasa bersalah! Mudah bukan," tegas Dafina. Ada helaan napas kasar yang kemudian diembuskan secara kasar oleh wanita itu.
"Ya Tuhan, Miss!" Tubuh Alex menjauh. Dia menjambak rambut sendiri saking kesalnya.
"Aku ini sudah mengambil mahkota yang paling berharga di hidupmu. Bagaimana bisa Miss masih pura-pura santai begitu?"
"Siapa yang pura-pura? Aku memang sesantai ini. Cepat atau lambat mahkotaku akan hilang. Dan mungkin ini sudah waktunya," ujar Dafina enteng.
"Tapi aku tahu persis sekeras apa Miss menjaga mahkota itu agar tidak hilang!"
__ADS_1
"Kamu jangan sok tahu! Selama ini yang kita lakukan hanyalah bersenang-senang. Kamu sama sekali belum tahu tentang aku," potong Dafina cepat. Perdebatan terjadi di mana tak lama kemudian Alex melempar satu buah kursi.
Dafina tersentak. Entak kenapa dadanya terasa nyeri sekali. Untuk kali pertamanya air mata perempuan itu menetes di hadapan Alex.
"Maaf aku tidak bermaksud kasar, Miss."
"Pergi!"
"Tapi, Miss!"
"Aku bilang pergi ya pergi!" teriak Dafina.
Dengan napas yang masih tersengal-sengal, dia coba untuk bicara kembali.
"Untuk terakhir kalinya aku tegasin! Hubungan kita hanya senang-senang. Dan ada pun kerugian yang terjadi padaku, itu bukan tanggung jawabmu! Paham?"
Alex kontan menggeleng tak percaya. "Aku bener-bener gak ngerti apa yang ada di otak Miss! Aku cuma berniat baik dengan cara menjadi lelaki yang bertanggung jawab. Tapi ... Tapi balasannya apa? Miss malah membuat aku menjadi pecundang!" lontar pria itu.
setelah itu Alex pergi meninggalkan Dafina seorang diri.
Dafina menarik napas panjang. Lututnya sudah terasa lemas sekali, dan ia terpuruk tak berdaya setelah kepergian Alex.
Dia sudah berusaha sekuat mungkin untuk tetap tegar. Tapi pada kenyataannya kejadian ini menimbulkan sejuta trauma untuk dirinya.
"Harusnya kau tidak perlu menangisi hal seperti ini Dafina. Ini adalah resiko yang harus kau tanggung ketika memilih menjadi kuda binaal," lirih Dafina.
__ADS_1
Pandangannya mendongak penuh ke atas langit-langit. Air mata menetes dan tak bisa dibendung lagi.
"Ayah, ibu, maafkan aku," lirih wanita itu kemudian.