
"Nah itu dia! Aku bingung, Reyn! Aku nggak tau harus gimana."
Plak!
Satu geplakan mendarat di kepala pria itu. Tatapan Reyno yang semula biasa saja kini berubah garang tiba-tiba. Reyno membenarkan posisi duduk dan menyorotkan pandangannya kepada Alex yang tengah meringis kesakitan sambil memasang wajah bingung.
Mukanya yang menyebalkan itu seolah mengatakan: Ngapain lo pukul kepala gue?
"Kamu itu cowok apa lemper si, Al? Kalau kamu merasa berbuat salah ya tanggung jawab bukannya bingung! Lagian Miss D udah jelas kegilaan sama kamu, pasti mau kan dinikahin?" Reyno bicara dengan Nada pelan tapi menusuk. Apalagi saat mengucapkan kata lemper menggunakan intonasi bicara yang lantang dan juga jelas.
"Jangan kaya anak TK!" gertak lelaki itu lagi.
Alex baru saja membuka mulut hendak menjawab, tapi lagi-lagi Reyno menyerangnya dengan kalimat jahat bertubi-tubi.
"Mendingan kamu nikah aja. Biar Sisca tau kalo kamu bisa dapetin wanita yang lebih baik. Mau dibolak-balik kaya gimana pun Miss D jauh lebih baik dari Sisca. Dia cantik. Bohay. Berpendidikan. Pasti Sisca bakalan panas. Itung-itung dengan nikahin Miss D kamu bisa balas dendam secara halus."
Reyno menarik napas setelah bicara. Terlihat Alex menyender sambil menggeleng-gelengkan kepala. Lelaki kesal karena tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan sama sekali.
"Ucapan kamu yang tadi muji-muji Miss D udah aku rekam dan bakalan aku kirim ke istrimu!" ancam Alex sengaja.
"Eh, kamu kok gitu?" Reyno mengerjap kaget.
"Siapa suruh kamu nggak mau dengerin penjelasan aku. Aku ngundang kamu ke sini buat curhat. Bukan dengerin ceramah kamu," sungut Alex.
"Temen belum juga ngomong udah dipotong-potong terus. Kapan aku boleh bicara, Setan?" Alex meninju udara seolah di udara itu ada gambar Reyno-nya.
__ADS_1
"Hmmm. Iya maaf! Namanya juga terbawa suasana. Siapa suruh kamu begoo!" Reyno mencebik. "Ya udah lanjut lagi ceritanya. Sampai mana tadi?"
"Sampai kamu ngatain aku bego!" tandas Alex. Ia melengos sejenak. Ada air putih di nakas. Alex langsung bangun dari posisi lalu meminum air itu hingga tandas.
Lelaki itu kemudian balik ke posisi sambil menyeka keringat. Emosinya agak mendingan setelah disiram air kehidupan alias air akua galon.
"Aku sebenarnya udah bilang berkali-kali kalo mau tanggung jawab, tapi Miss D malah bersikap cuek seolah tidak terjadi apa-apa. Terus aku harus gimana?"
Plak!
Satu geplakan lagi mendarat di kepala Alex tanpa kata permisi. Lelaki itu jelas menggeram marah. Di mana letak salahnya sampai Alex harus menerima kekejaman ini, pikirnya bingung.
"Kamu itu bodoh ya, Al! Hal seperti itu udah biasa terjadi di dunia perfileman. Dafina pasti nyuruh kamu lupain kejadian itu kan? Nyuruh kamu santai? Nolak tanggung jawab kamu? Terus nyuruh kamu pulang seolah tidak ada yang terjadi?"
"Ya iyalah!" Reyno menepuk udara di depan wajah Alex seolah ada lalat yang hinggap. Dia tersenyum, membanggakan betapa pekanya diri itu.
"Apa yang dia katakan itu bukan murni dari hati. Miss D cuma lagi bingung. Dia nggak mau melibatkan kamu dalam masalah ini."
"Lah kok gitu? Kan sejak awal juga aku udah terlibat?" Alex menggaruk kepalanya bingung. Ia makin tidak paham dengan arah bicara Reyno saat ini.
"Ya begitulah perempuan! Meskipun kamu mau bertanggung jawab dia tetep punya pertimbangan untuk menerima tanggung jawab kamu atau tidak. Menikah itu bukan cuma ada kata sah! Ada tanggung jawab yang harus diemban seumur hidup!"
"Kok ribet banget, ya? Terus aku harus gimana, Nyet!"
"Hehe." Bapak anak dua itu tersenyum ala cowok sigma. "Gak salah kamu ngundang aku ke sini. Beruntung kamu punya temen sepintar aku. Jadi kamu bisa selamat."
__ADS_1
Mendengar Reyno sibuk memuji diri sendiri Alex mendengkus. Ia menjitak kepala si bapak itu saking kesalnya.
"Oke ... Oke! Terus aku harus gimana?" tanya lelaki itu tidak sabaran.
"Simpel, Al. Kamu harus buktiin ke Miss D bahwa layak menjadi pendampingnya. Tunjukin kalau kamu adalah lelaki bertanggung jawab yang siap mencintai dan menyayanginya dengan sepenuh hati."
"Oh gitu? Emang dulu kamu ke istri kamu juga begitu?" Alex bertanya untuk memastikan langkah berikutnya tidak salah. Tidak etis bukan kalau Alex belum mengetahui reviuw jujur dari Reyno?
"Aku jauh lebih parah dari kamu. Dulu istriku sangat membenciku sampai aku dianggap kuman gak guna! Tapi tidak lantas menyerah. Aku berjuang buat buktiin kalau aku adalah pria sejati. Semua hal dilakuin sampai rela jadi kuli bangunan di usia 18 tahun."
"Terus istri kamu jadi luluh?"
"Ya, pelan-pelan luluh, dong. Intinya kalau mau diliat sama cewek harus ada pengorbanan."
"Oh, pantes dia langsung nolak gitu aja. Ternyata aku kurang berkorban," guman Alex.
"Harus berjuang juga," timpal Reyno. Dia berharap hidup sabahatnya ini bisa lurus setelah semua kejadian buruk yang menimpanya.
"Sahabat gak selamanya ada buat kamu, Al! Jadi kamu harus berjuang sendiri demi tujuan kamu. Fighting!"
Setelah mengatakan itu Reyno pergi ke dapur untuk membuat kopi. Tenggorokan anak itu terasa kering karena ngoceh tanpa ditawari minum sedari tadi.
"Baiklah ... Mulai sekarang aku bakalan berjuang buat yakinin Miss D." Alex berdiri seperti seorang pahlawan. Dia tersenyum bangga, tapi sedetik kemudian matanya dibuat membola.
"Reyno sialan! Anak lo ngompol di kasur gue!"
__ADS_1