
"Aku khilaf, Al!"
"Oh, khilaf?" Lelaki itu mengangguk-angguk. Ada emosi yang coba ia tahan sebisa mungkin. Lebih jelasnya Alex berusaha sekuat tenaga untuk tidak mencekik leher Sisca saat ini juga.
"Maafin aku, Al! Aku bener-bener khilaf!"
Kata-kata Sisca membuat senyum kecut Alex mengembar sempurna. Dia nyaris tidak bisa berkata apa-apa.
"Kira-kira khilafnya berapa kali biar bisa jadi bayi, hah?" Wajah murka lelaki itu tak bisa disembunyikan lagi. Alex sungguh ingin melampiaskan semua kekesalan yang ada di dalam dirinya kepada Sisca. Paling tidak ia bisa menampar perempuan itu, pikirnya.
"Al, kenapa kamu bicara begitu? Kamu tidak seperti Alex yang aku kenal sebelumnya!" ujar Sisca. Alex tercengang. Bola matanya melotot hingga mau copot.
"Kamu udah nyakitin aku Sis! Dan sekarang kamu masih berharap aku bakalan jadi Alex yang kamu kenal sebelumnya! Otak kamu di mana?"
Sisca melepas genggamannya pada tangan Alex. Lalu fokus menatap gerobak tukang cimol yang kebetulan berhenti di depan mobil lelaki itu.
Pandangannya menerawang bulatan-bulatan putih mengembang yang baru saja selesai diangkat.
"Aku tahu aku salah! Tapi apa perlu kamu ngehina aku kayak begitu?"
"Aku nggak ngehina! Aku cuma nanya?"
"Nanya apa?"
__ADS_1
Alex mendesahkan napasnya berat. "Tadi kan udah bilang! Berapa kali kamu khilaf sampai jadi berhasil jadi bayi? Masih kurang paham?"
Tertegun, Sisca menunduk dalam sambil memainkan jemarinya di atas pangkuan.
"Aku nggak tahu Al! Yang jelas aku pacaran sama dia sekitar setengah tahun, dan setiap weekend kita selalu melakukannya," ujar Sisca.
"Waoww! Hebat!" Alek menganga sebesar biji cimol. Bisa-bisanya selingkuh setengah tahun dan Alex sama sekali tidak tahu. Mungkin jika Sisca tidak hamil duluan Alex tidak akan pernah tahu, pikirnya.
Lelaki itu sempat memalingkan wajah sebelum menoleh pada Sisca lagi dengan pandangan menyelidik.
"Jadi kalian udah sering ngelakuin begituan ya, ternyata? Bisa-bisanya aku sampai gak tahu! Kalian berdua hebat bisa main cantik begitu!"
"Nggak sering, Al! Cuma pas weekend doang," ucap Sisca lirih.
"Weekend di kali setengah tahun berapa banyak Sis? Itu udah banyak banget!"
Alex kontan membeliak. "48 kamu bilang gak banyak? Aku bahkan belum pernah buka beha kamu satu kalipun. Emang sialan ya kalian! Cowok saangee ketemu cewek gatel. Pas banget jadi," maki lelaki itu.
"Namanya juga khilaf Al! Coba kalau kamu ada di posisi kita. Aku yakin kamu bakalan paham gimana rasanya."
Ucapan Sisca membuat Alex teringat akan hubungannya dengan Dafina.
Tidak! Tidak! Hubungannya dengan Dafina tidak sejahat itu, batin Alex. Ia kemudian menatap Sisca kembali.
__ADS_1
"Gue tahu lo khilaf. Tapi kenapa khilafnya bukan sama gue aja, Anjeeng!" Lelaki itu menonyor dahi Sisca saking kesalnya. Sisca agak meringis, tapi ia tidak berani membalas perlakuan Alex apalagi sampai melontarkan kata protes.
"Aku ... Aku ...."
"Stop Sis! Udahlah Stop! Bisa-bisa aku tambah gila kalau begini caranya. Sekarang gini aja deh! Mau kamu apa? Kalau kamu mau kita balikan aku udah gak bisa!"
"Aku juga nggak mau kita balikan. Aku cuma mau minta tolong sama kamu. Bantu aku kabur," kata Sisca penuh permohonan.
"Kabur?"
Alex malah menyalakan mobilnya kembali. Dia berbalik arah ke rumah Sisca.
"Itu juga nggak bisa! Gue nggak mau dicap egois karena misahin Bapak sama Anaknya!"
"Tapi Al--"
"Belajar tanggung jawab sama masalah kamu sendiri Sis. Sekarang yang harus kamu pikirin bukan cuma diri sendiri, tapi bayi yang ada di perut kamu juga perlu dipikirin!"
Sisca terdiam tanpa jawaban. Tak lama kemudian mobil Alex telah sampai di depan gerbang rumah Sisca kembali.
Beda dengan yang tadi, kini Alex tersenyum legowo. Dia membuka pintu mobilnya dan mempersilakan Sisca keluar. Dia pikir dia harus membuat momen manis sebelum mereka benar-benar berpisah.
"Aku yakin kamu kuat menghadapi semua ini, Sis!" Lelaki itu memeluk Sisca untuk yang terakhir kali. Detik itu juga Sisca meraung. Merasakan nyeri atas perbuatan jahat yang ia lakukan kepada Alex.
__ADS_1
Rasanya Sisca tidak kuat berada di posisi ini. Melihat mobil Alex perlahan menjauh, rasanya sama persis dengan melihat masa depannya yang menghilang ditelan Dinosaurus.
Waktu tidak bisa diputar kembali, dan dia benar-benar harus menghadapi semua ini.