
Alex memajukan wajahnya perlahan. Dia sudah bersiap diri melemparkan ciuman erotis kepada Dafina. Namun, tiba-tiba saja Dafina spontan mendorong tubuh Alex jauh-jauh.
Lelaki itu tak berkomentar. Dia hanya melempar tatapan penuh tanda tanya yang menyiratkan kepana Dafina bersikap seperti itu.
Padahal dulu Dafina selalu suka saat berciuman dengan Alex. Dia meminta 30 kali ciuman, tapi baru dilaksanakan sebanyak 8 kali Dafina sudah menghentikannya secara paksa.
"Jangan melewati batas Alex. Ingat, perjanjian kita sudah berubah!"
Menyandarkan punggungnya ke belakang, lelaki itu sedikit mengulas senyum kecut. " Aku tahu! Tapi aku bersikap seperti tadi hanya ingin memastikan sesuatu," ujarnya.
"Sesuatu apa?"
Pertanyaan Alex menimbulkan tanda tanya besar di kepala Dafina. Dengan santainya lelaki itu tersenyum. Terlihat rona kepuasan mengembang dan menghiasi rahangnya yang tegas.
"Aku penasaran. Dulu Miss selalu bersikap santai saat kita berciuman. Tapi sekarang baru didekati saja sudah terlihat gugup begitu! Aku curiga ... Jangan-jangan tanpa sadar obsesi yang ada dalam diri Miss sudah berubah menjadi cinta. Miss cinta kepadaku!" ujarnya penuh penekanan. Mendengar itu ekspresi wajah Dafina berubah seketika. Dia marah, tapi pipi yang merona tidak bisa disembunyikan dari perhatian Alex.
"Jangan sembarangan bicara Alex! Dari dulu perasaanku ke kamu selalu sama. Kamu tak lebih dari mainan pelengkap obsesiku, paham?" Dafina berseru tak setuju. Dia berusaha menampik ucapan Alex, tapi sejujurnya Dafina sendiri tidak paham dengan apa yang dia rasakan saat ini.
"Kalau perasaan Miss masih sama harusnya tidak keberatan dong, kalau dicium seperti biasa?"
__ADS_1
"Tentu saja tidak! Yang tadi hanya refleks saja," ucap perempuan itu.
Tanpa sadar perkataan Dafina berhasil menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.
Alex yang merasa mendapat sinyal jawaban langsung mendekat. "Kalau begitu buktikan!"
Dafina berubah lemas. Dia tak punya wewenang untuk menolak permintaan Alex karena ucapannya sendiri.
Akhirnya wanita itu membiarkan Alex mendekatkan wajahnya.
Lelaki itu mengecup bibir Dafina lembut. Lalu melakukannya dengan gerakan kasar yang beriarama.
Perasaan tidak karuan mulai menggerayangi pikiran Dafina saat ini. Apakah ini karena efek samping traumanya Minggu lalu? Atau jangan-jangan ....
"Miss ... Bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Tanya saja!" Dafina yang masih belum sepenuhnya pulih dari kesadaran langsung pura-pura mengambil mangkok mi instan. Ia pura-pura melahap mienya yang dingin walau pikirannya sudah tidak ingin.
"Mengenai apa yang kita lakukan Minggu lalu, bagaimana jika di perut Miss sekarang sudah ada bayinya?"
__ADS_1
"Uhukk!"
Dafina tersedak kuah mi instan. Tentu saja dia sangat terkejut dengan pertanyaan Alex barusan. Sesegera mungkin Dafina menaruh mangkuk mi di tangannya ke atas meja. Kemudian membalas tatapan Alex dengan mata melotot garang.
"Jangan ngaco Alex. Kita cuma ngelakuin satu kali. Masa iya langsung jadi?"
"Siapa tahu saja 'kan, Miss?" Alex mengedikan bahunya tidak tahu diri. Dia tertawa jahat dalam hati saat melihat raut wajah Dafina perlahan berubah.
Panik!
Jelas muka Dafina sekarang terlihat panik.
"Di saat Miss nyuruh aku segera pergi seolah tidak terjadi apa-apa, yang aku takutin cuma itu saja. Aku takut benih yang aku tanam sudah ada di perut Miss."
Glek.
Dafina menelan ludah. Refleks ia memegangi perutnya yang terasa aneh.
"Tapi aku belum ada terlambat haid, Al! Jadwal haidku juga masih lama sekali."
__ADS_1
Tersenyum, Alex mengangguk paham. Dia mendekat lantas berbisik manja tepat di telinga Dafina.
"Kalau begitu jangan lupa beri tahu aku kalau Miss sudah terlambat datang bulan!"