PESONA PELAKOR LIAR

PESONA PELAKOR LIAR
Kedatangan Sisca


__ADS_3

Satu Minggu Berlalu.


Alex sangat senang karena Dafina selalu menepati janjinya. Setiap pagi selalu ada tukang antar yang membawakan sarapan untuk Alex. Selain irit uang jajan, perutnya juga termanjakan oleh berbagai menu penuh kegembiraan.


Ting ... Tong!


Suara bell berbunyi. Alex yang sudah menunggu kiriman rantang segera berlari membuka pintu.


"Loh, Miss? Kok tumben dianterin sendiri?"


Alex buru-buru menarik Dafina masuk dan menutup pintu. Bukannya mengambil rantang itu, Alex malah memeluknya.


"Apakah ini termasuk dari bagian sandiwara? Kupikir perhatian ini seperti nyata," batin Dafina.


"Aku sangat merindukan, Miss," lirih lelaki itu tepat di telinga Dafina. Wanita itu buru-buru melepas pelukan dan menatap wajah Alex. Dia mencari setitik kebohongan atau gelagat sandiwara. Tapi sayangnya Dafina tidak menemukan itu. Dia malah melihat ketulusan di wajah Alex.


"Al, sepertinya sandiwara ini terlalu berlebihan," ujar Dafina. "Aku agak risi melihat kamu bermanja-manja sepagi ini. Ini 'kan bukan waktu kencan kita," ujar Dafina.


Mendengar itu Alex langsung merubah intonasinya sedikit datar. "Bukannya bagus kalau Miss merasa risi? Ini 'kan bagian dari sandiwara kita," ucap Alex.


"Iya si, tapi ...." Tapi aku merasa ini seperti nyata Alex.

__ADS_1


Tentunya kalimat itu hanya terucap di dalam hati saja. Dafina tersenyum. Lantas menyodorkan rantang di tangannya kepada Alex.


"Makanlah selagi hangat."


"Terima kasih, Miss. Tapi jangan pergi dulu ya, temani aku makan sebentar." Pria mengajak Dafina menuju meja makan. Baru saja Alex hendak membuka rantang, tiba-tiba bell pintu di tekan. Tampak wajah Sisca memenuhi layar cctv.


"Miss, gawat!"


"Kenapa Alex?" Dafina menoleh bingung.


"Ada Sisca. Miss cepat masuk ke kamarku!" seru Alex. Lelaki itu segera menarik Dafina ke kamar. Alex menyembunyikan rantang makanan Dafina, lalu segera membukakan pintu sebelum Sisca curiga.


"Emm ... Sis?" Alex menggaruk kepalanya bingung. Hal itu tentunya membuat Sisca terheran-heran.


"Ngapain berdiri di pintu? Aku 'kan mau masuk," ujar gadis itu. Sekarang malah Sisca yang jadi bingung dengan sikap aneh kekasihnya itu.


"Aaanu, Sis. Aku mau berangkat ke kampus."


"Sepagi ini!? Biasanya juga kamu berangkat jam delapan!" Gadis itu nyelonong masuk. "Makan dulu yuk. Aku udah bikinin sarapan nasi goreng buat kamu."


"Tapi--"

__ADS_1


"Kamu itu kenapa si, Al?" Sisca menatap marah.


"Ya udah ayo makan." Alex memilih pasrah daripada Sisca curiga. Sekarang Alex berharap Sisca cepat pergi dan jangan sampai masuk ke kamar.


"Ayo makan." Sepiring nasi goreng tersaji di atas meja.


Alex menarik kursi dan mulai menyendok nasi goreng itu. "Emmmp."


Suapan pertama rasanya sangat hambar, dan suapan kedua Alex menggigit partikel garam yang melekat di giginya.


"Kenapa? Nggak enak?"


"Enak banget, kok Sis." Alex menyendokan satu kali lagi.


Rasanya ia benar-benar ingin memuntahkan makanan di mulutnya. Tetapi jelas itu tidak mungkin.


Sebenarnya masakan buatan Sisca tidak terlalu buruk. Dulu bahkan Alex sangat menyukainya. Hanya saja lidah Alex mulai berubah sejak ia mencicipi masakan Dafina.


Menurutnya tidak ada masakan yang enak selain masakan Dafina.


Selesai sarapan Alex mengajak Sisca untuk berangkat ngampus. Dia terpaksa meninggalkan Dafina di kamar. Biarlah wanita itu keluar sendiri kalau ia dan Sisca sudah pergi, pikirnya.

__ADS_1


__ADS_2