PESONA PELAKOR LIAR

PESONA PELAKOR LIAR
Buat Aku Bosan, Al!


__ADS_3

Dafina menarik tangan Alex, berniat menggandeng tangan lelaki itu, tapi tepat di depan pintu Alex mogoh jalan. Matanya menatap teduh Dafina yang menoleh sambil menatap bingung.


"Apalagi? Ada yang ketinggalan."


Alex menggeleng. Hal itu membuat Dafina bingung dan mendekatkan diri kepadanya.


"Kenapa Alex?" Dia membelai wajah Alex perlahan. Lalu merengkuh tubuh itu dengan penuh kasih sayang. Sejenak pikiran mereka larut dalam pelukan tersebut.


"Miss, kemarin Miss bilang, jika kita pacaran satu bulan, Miss bakalan berhenti penasaran, apa itu benar?" Lelaki itu bicara sambil melepas pelukan. Dafina mengernyit. Merasa kesal karena Alex masih tidak percaya.


"Tentu saja benar! Aku memang sudah terbiasa seperti ini Alex. Aku mudah terobsesi saat melihat berondong. Tapi kalau sudah menjalin hubungan dua atau tiga minggu aku akan bosan sendiri. Akhirnya hubungan itu berakhir dan aku mencari target lain."


"Jadi selalu seperti itu setiap saat? Jadi Miss hanya sekadar terobsesi tapi tidak mencintai?"


Dafina mengangguk. "Selama ini yang terjadi seperti itu," jawabnya sungguh-sungguh Namun, Alex masih gagal paham.


"Bagaimana kalau yang ini beda?"


"Maksudnya?" Kening Dafina membentuk tiga kerutan lurus. Ia agak paham dengan perkataan Alex, tapi ia butuh penjelasan lebih jelas lagi.


"Bagaimana jika setelah satu bulan pacaran Miss makin sayang sama aku? Bahkan cinta ... Bagaimana jika itu terjadi, Miss?"


"Hahaha." Dafina tertawa renyah. "Itu tidak mungkin Alex. Dokter psikiaterku bilang ini semacam penyakit. Dan hal ini juga berlangsung sangat lama. Jadi kamu tidak perlu khawatir. Kupastikan setelah satu bulan ini hidupmu aman."


Alex mengangguk paham. Sekarang justru ia yang merasa takut pindah kelain hati. Sejak awal dia sudah tahu bahwa semua ini hanya permainan. Namun, siapa yang tahu mainan ini akan berubah menjadi sungguhan.

__ADS_1


Hanya Tuhan yang mampu membolak-balikkan hati manusia.


Dafina menepuk pundak Alex. "Al, aku tahu tidak ada sesuatu yang tidak mungkin di dunia ini. Tapi ada satu hal yang bisa kamu yakini. Aku selalu konsisten akan sesuatu, jadi kamu tidak perlu khawatir. Andai kata aku jatuh cinta padamu, aku tetap akan menghentikan hubungan ini setelah perjanjian kita berakhir. Jadi sekali lagi aku harap kamu tidak perlu mencemaskan apa pun."


"Baik Miss. Aku paham," ujarnya. Setelah itu tak ada sepatah kata terucap dari bibir Alex. Dia hanya berekspresi diam sambil memperhatikan wajah Dafina.


Cantik, batin Alex.


"Al, aku punya satu permintaan." Wanita itu berkata sambil membenarkan kerah baju Alex. Lelaki itu merasa tergelitik, tapi coba tahan sebisa mungkin.


"Permintaan apa, Miss?"


"Aku ingin selama kita pacaran kamu bisa berpura-pura mencintaiku. Simpelnya bertingkahlah seperti pacar yang mencintai kekasihnya."


"Karena aku tidak suka diperhatikan dan disayangi. Biasanya aku akan bosan jika pacarku mulai seperti itu."


"Kok aneh?" gumam Alex.


"Aku suka pria yang menantang dan sulit didapatkan. Jadi jika pria itu sudah luluh, aku yang pada akhirnya akan menjadi bosan," tutur Dafina.


Alek menganggup paham. "Baiklah. Aku akan mengabulkan permintaan Miss. Jadi sekarang kita mau pergi ke mana?"


"Bandung!"


"Hah?"

__ADS_1


-


-


-


Sesuai pemintaan Dafina, Alex benar-benar bersikap layaknya sang kekasih. Dia menggandeng Dafina. Memayungi Dafina di kala hujan. Bahkan menyuapi Dafina saat jam makan siang.


Hanya satu hal yang tidak bisa Alex lakukan. Dia tidak bisa membayar semua tagihan dan biaya jalan-jalan karena biayanya cukup mahal. Setara dengan uang jajan Alex satu bulan beserta uang korupsi juga.


Hari berganti sore. Setelah puas mengelilingi kota Bandung dengan motor sewaan, akhirnya mereka kembali ke Jakarta menaiki pesawat. Dafina dan Alex naik pesawat bisnis class. Padahal mereka hanya pergi ke Bandung.


"Miss bagaimana dengan hari ini? Apa Miss sudah mulai bosan denganku? Aku sudah melakukan semua yang Miss inginkan," kata Alex.


Dafina berdecih sinis. Muka memilih berpaling menghadap kaca.


"Lah, kok malah marah, Miss? Aku 'kan bertanya apa adangya?"


"Kamu membuat moodku jadi buruk Alex! Memangnya menjadi bosan semudah itu?"


"Ya mana aku tahu, Miss!" Lelaki itu mengedikkan bahu. Dia melipat bibir dan tersenyum.


"Aku hanya bercanda, Miss. Maafkan aku."


Satu tangannya meraih tangan Dafina untuk digenggam. Sementara kepala Alex sudah bersandar di bahu Dafina.

__ADS_1


__ADS_2