PESONA PELAKOR LIAR

PESONA PELAKOR LIAR
Kaget


__ADS_3

Di saat Dafina ketar-ketir karena hal itu. Alex justru tampak bersemangat. Rasanya sangat sulit untuk Dafina menjelaskan dalam keadaan seperti ini.


"Kapan kamu berniat ke rumahku?" tanya Dafina setelah beberapa saat saling diam.


"Mungkin besok, Miss!"


"Besok?" Dua bola mata Dafina mengerjap sempurna. "Apa tidak terlalu cepat Alex?"


"Tidak Miss! Lagi pula besok weekend, bukan? Sabtu kita ke rumah orang tuamu, dan Minggunya kita bisa ke rumah orang tuaku."


"Bagaimana kalau ke rumah orang tuamu dulu?" usul Dafina. Hal itu kontan membuat Alex curiga. Dia menatap Dafina dengan sorot mata heran. Pandangan itu seolah melontarkan sebuah pertanyaan; Kenapa harus ke rumahku dulu?


"Jangan salah paham, Al. Biasanya Sabtu Minggu orang tuaku selalu ada acara. Jadi aku harus membuat janji dulu kalau mau bertemu mereka," kata Dafina.


"Baiklah kalau begitu yang terbaik. Kenapa tidak? Besok kita ke rumahku dulu. Jam delapan aku akan menjemput Miss," ucap Alex girang. Dafina sedikit mengembuskan napasnya lega begitu Alex langsung setuju tanpa mikir macam-macam.


Dafina yang sejak awal tidak tertarik sama sekali dengan pertemua itu hanya bisa pura-pura mengulas senyum bahagia. Dia benar-benar tidak peduli kesan apa yang akan dia dapat besok.

__ADS_1


Andai orang tua Alex tidak menyukainya, itu akan jauh lebih baik untuk mereka mengakhiri hubungan satu sama lain.


"Aku tidak sabar menantikan hari esok, Miss. Aku yakin orang tuaku akan bangga jika aku membawa Anda."


"Benarkah? Kamu terlalu berlebihan. Dari mana kau belajar menjadi cenayang seperti itu?" Tawa Dafina pecah diikuti gelengan kepala pelan-pelan.


"Tentu saja aku tahu. Orang tuaku sangat menyukai wanita berpendidikan dan independen seperti miss D. Kalau tahu profesi Miss adalah seorang dosen dia pasti sangat bahagia."


"Hmmm. Kita lihat saja besok Alex."


*


*


*


"Miss!" Alex berteriak saat melihat Dafina celingukan mencari mobilnya. Perempuan itu mendekat. Dia agak terkejut saat melihat Alex menjemputnya dengan mobil mewah seharga milyaran rupiah.

__ADS_1


"Maaf agak telat, tadi aku pulang ke rumah buat ngambil mobil dulu," ucap Alex. Dia membuka pintu mobil dan mempersilakan Dafina untuk masuk.


"Memangnya mobilmu yang biasa kemana, Al?"


"Ada ... Tapi Mamiku bilang kalau mau menjemput orang spesial harus membawa mobil yang agak bagusan dikit. Jadi aku sengaja bawa mobil ini," ujar Alex.


Perasaan Dafina mendadak berubah tidak enak. Sebenarnya siapa Alex ini? Kenapa dia bisa punya mobil semewah itu? Apa Alex adalah anak konglomerat?


Berbagai pertanyaan muncul di kepala Dafina sampai tidak sadar mobil yang dikendarai Alex memasuki area megah bak istana.


"Al, kita tidak salah jalan, kan?" tanya Dafina panik. Dia mengedarkan pandangannya ke luar. Gedung yang ada di depannya ini tidak terlihat seperti rumah. Dia lebih seperti istana modern yang kalau dari luar tampak begitu mewah.


"Ini rumah orang tuaku, Miss," kata Alex.


Rasanya Dafina masih tidak menyangka. Mengingat kehidupan Alex yang biasa dan tidak begitu menonjol, Dafina nyaris tak percaya kalua anak itu keturunan orang kaya raya. Dan mungkin Alex adalah anak sultan.


Mobil yang biasa Alex tumpangi selama ini biasa saja. Apartemen Alex juga tidak jauh lebih bagus dari miliknya.

__ADS_1


"Kaget ya, Miss?" Alex menarik dua sudut bibirnya membentuk seringai kuda. "Aku memang berasal dari keluarga berada, tapi kehidupanku di luar sangat sederhana. Aku tinggal di di apartemen yang biasa. Mobil yang dipakai sehari-hari pun juga biasa saja. Bahkan orang tuaku memberi uang jajan pas-pasan. Itu sebabnya aku sering kekurangan dana di akhir bulan."


__ADS_2