PESONA PELAKOR LIAR

PESONA PELAKOR LIAR
Mengantar Dafina


__ADS_3

Setelah menikmati makanan bersama, Dafina kembali berbincang-bincang dengan Alex. Tak lupa Alex membahas konsep skripsinya. Sepertinya untuk kali ini dia akan lulus karena Dafina merespon dengan baik.


Asal skripsi itu bukan hasil sewa gosh writter, Dafina akan mempertimbangkannya lagi.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul satu pagi. Saking asiknya mereka bercanda, mereka sampai lupa waktu, dan, tentunya juga lupa segalanya.


Termasuk Alex yang sejenak melupakan masalahnya dengan Sisca.


Dafina melirik jam di tangannya. Ia lalu berdiri. "Sudah malam, aku harus pulang!"


"Tapi, Miss--" Alex memandang wanita itu dengan perasaan berat. "Bisakah Miss menginap di tempatku. Malam ini saja Miss ... Aku butuh teman," ujar lelaki itu.


Terdengar kurang ngajar, tapi Alex memang sangat membutuhkan teman. Dia pasti akan teringat masalahnya dengan Sisca jika Dafina tak ada.


"Please, Miss!" pinta Alex.


Dafina nyaris terkecoh dengan rayuan Alex. Tapi, sebisa mungkin iya menyadarkan diri. Berduaan dengan lelaki semalaman penuh terlalu berisiko untuk dirinya.


Alex adalah seorang pria. Dan Dafina sadar seluruh tubuhnya adalah dambaan seorang pria. Mereka bisa saja melakukan hal yang tidak baik jika Dafina terus melanjutkan permintaan Alex.


"Maaf, Al! Aku tidak bisa. Mungkin di matamu aku perempuan yang seperti itu. Tapi sebenarnya aku masih punya harga diri. Aku belum pernah sekalipun menginap di tempat pria," ucapnya.


Alex tertunduk dalam. Dia raih tangan Dafina dan ia cium punggung tangannya dengan perlahan. "Maaf Miss! Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya sedang butuh teman."


Alex berdiri lalu tersenyum. "Kalau begitu ayo, aku antar pulang."


"Tapi kamu tidak marah, 'kan?" tanya Dafina begitu perhatian. Entah saja kapan dia peduli dengan perasaan Alex. Yang jelas sebelumnya dia tidak pernah peduli Alex mau marah ataupun menangis karena sikapnya.


Lelaki itu kemudian menggeleng. Ia mendekat dan nyaris mencium bibir Dafina.


"Ini bukan hari kencan kita Al!"


Sontak Alex memundurkan wajahnya. Suasana yang semula di penuhi melodi seketika berubah menjadi canggung.


"Aku lupa Miss." Lelaki itu melipat bibirnya salah tingkah. Dafina juga sama. Baru kali ini ia merasa gugup. Padahal mereka berciuman bukan lagi sekali dua kali.

__ADS_1


Perasaan aneh macam apa ini?


"Aku mau pulang sekarang." Perempuan itu berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Iya, ini juga aku mau nganterin Miss. Kalo nganter sampe depan pintu boleh kan, Miss?"


Pertanyaan Alex hanya dibalas dengan anggukan kepala. Tetapi ia cukup senang mendengarnya.


-


-


-


Jarak apartemen Alex dan Dafina tidak terlalu jauh. Hanya dalam waktu sepuluh menit mereka sudah sampai ke depan pintu apartemen Dafina.


Alex menatap lelus. Padahal dia sudah jalan kaki sepelan mungkin. Namun, waktu itu seolah berputar lebih cepat untuk dirinya dan Dafina.


"Terima kasih, Al. Selamat malam," ucap Dafina. Ia baru saja hendak menutup pintu saat tangan Alex tiba-tiba menahannya begitu saja.


"Buat apa?" Dafina mengernyit heran.


Biasanya dia selalu tertawa dan menggoda Alex saat momen-momen seperti ini terjadi. Tapi untuk kali ini situasinya sangat jauh berbeda.


Dafina justru takut saat Alex meminta waktunya 10 menit.


"Aku kesepian, Miss. Aku butuh teman. Bukankah tadi Miss sendiri yang bilang mau jadi tempat curhatku.


Bagaikan terhantam oleh bomerang. Dafina kini sedang termakan oleh ucapannya sendiri.


"Baiklah, ayo masuk!" Dafina membuka pintunya lebar-lebar. Padaha akhirnya dia kalah telak dan berhasil membuat Alex masuk.


Lelaki itu mengedarkan pandangannya. Apartemen Dafina ini bergaya klasih dan dua kali lipat lebih besar dari milik Alex..


"Apartemen Miss besar sekali! Apa Miss sering membawa teman ke sini?"

__ADS_1


"Tidak, kamu orang pertama yang masuk ke rumah ini selain kedua orang tuaku." Setelah mengatakan itu Dafina gagas masuk ke area dapur untuk mengambilkan minum.


Alex menyusul dengan binar mata cerah. Ada rasa tak percaya saat kata itu keluar dari mulut Dafina.


Benarkah dia yang pertama? Kenapa rasanya jadi sesenang ini?


"Teh atau kopi?"


"Terserah," balas Alex tidak peduli. "Miss tidak bohong 'kan?"


"Bohong apa Alex?"


"Tentang yang Miss katakan tadi. Aku adalah orang pertama yang masuk rumah ini selain kedua orang tua Anda."


"Tentu saja tidak. Lagi pula untuk apa bohong."


Dafina menyodorkan kopi kalengan yang ia ambil dari kulkas. "Minum ini saja, ok. Aku sedang malas membuat minuman.


Alex menerimanya dengan tersenyum. Euforia di wajahnya perlahan muncul.


"Berarti aku spesial dong! Bisa masuk ke apartemen Miss untuk pertama kalinya," pancing lelaki itu.


Perempuan itu terkekeh. "Bukan spesial. Tapi memang aku tidak memiliki teman."


"Teman laki-laki Miss kan banyak! Anda sendiri yang bilang seperti itu, bukan?"


Ukiran senyum kecut tiba-tiba menghiasi wajah Dafina. "Kamu sama saja dengan pria lain di luar sana Al. Selalu menganggap aku segampangan itu."


"Eh, bukan begitu, Miss. Maksudku hanya sekadar main ke rumah. Bukan berarti gampangan, 'kan?"


"Al ...." Dafina mendekat perlahan. Ia sentuh wajah Alex dengan jari-jemarinya yang lentik.


"Meskipun aku banyak di kelili pria. Tapi mereka hanyalah sebuah boneka yang kupakai untuk bersenang-senang. Tak ada satu pun yang bisa menyentuhku secara pribadi. Termasuk kamu!" Dafina menekankan nada bicara di kalimat terakhir.


Alex tertohok. Sepatah pun tak keluar dari bibirnya. Alex sudah tahu sejak awal bahwa Dafina memang seperti itu. Tapi untuk kali ini ia benar-benar merasa sakit.

__ADS_1


Perasaan aneh apa ini?


__ADS_2