
Glek!
Dafina menelan ludahnya dengan susah payah. Ia ingin sekali menjawab perkataan Alex. Tetapi lidahnya mendadak kelu. Bahkan untuk sekadar membuka mulut saja rasanya sangat sulit.
"Sekali lagi aku tanya, Miss. Bener Miss nggak ngerasain apa-apa sejak malam itu?" Alex menyeringai tipis. Dia tersenyum puas saat melihat ekspresi wajah Dafina berubah merah padam.
"Ma ... Mau kamu apa, Alex?" tanya wanita itu terbata-bata. Dafina berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya. Paru-parunya terasa sesak seakan oksigen di ruangan itu menghilang secara dadakakan.
"Simpel ... Aku cuma mau Miss tanggung jawab dan nikahin aku."
"What?" Dua bola mata Dafina mendelik seketika.
"Yang rugi itu aku Alex. Kenapa jadi kamu yang minta tanggung jawab?"
"Kita sama-sama rugi Miss. Tapi meskipun rugi, kita berdua juga sama-sama menikmati." Alex tersenyum tipis. Rona kemerahan yang menghiasi pipi Dafina sangat menandakan bahwa dia membenarkan ucapan Alex.
"Jadi kau mau kita menikah?"
"Hmmm." Alex mengangguk sambil berdeham.
Sebisa mungkin Dafina berusaha terlihat tegar di hadapan Alex. Dia tidak mau kalah apalagi sampai dianggap lemah. Wanita itu mengulas senyumnya tipis, kemudian mengangkat dagu Alex dengan jari telunjuknya. Dafina memaksa lelaki itu untuk menatapnya lebih dalam.
__ADS_1
"Apa yang kamu miliki sehingga kamu merasa pantas untuk aku nikahi?" tanya Dafina dengan kalimat mengintimidasi.
"Aku punya wajah tampan. Tubuh sempurnah. Dan tentunya aku punya kekayaan," ujar Alex.
"Benarkah itu?" Dafina menyeringai jahat.
"Menurutku tidak ada satu hal pun yang bisa dibanggakan dari dirimu Alex. Prestasimu di kampus sangat buruk! Kau pengangguran yang hanya bisa mengandalkan uang orang tua! Wajahmu memang tampan, tapi menikah tidak akan kenyang jika hanya melihat ketampanan semata. Masih belum paham?"
Dafina menarik naapas panjang sejenak.
"Simpelnya, aku dan kamu jauh berbeda. Aku wanita dewasa yang mandiri. Sejak umur 16 tahun aku tidak pernah mengandalkan bantuan uang orang tua sepertimu. Aku juga memiliki prestasi yang baik dalam hal pendidikan. Bukankah perbedaan itu sudah terlihat jelas?"
"Jadi tidak ada hal yang bisa aku lakukan denganmu kecuali hanya bersenang-senang. Untuk teman kencan kuakui kamu oke, tapi untuk menjadi suami BIG NO! Are you understand?"
Alex terdiam. Dia mati kutu dengan lemparan perkataan Dafina barusan. Kini giliran Dafina yang menunjukkan taringnya. Dia berharap Alex menyerah dan berhenti memiliki pikiran untuk menikahinya.
"Seorang dosen yang menikahi mahasiswanya itu hanya ada di novel. Jadi berhentilah menghayal. Mari kita mulai untuk kembali ke dunia nyata, dan ...."
Alex mendongak saat Dafina menghentikan bicaranya.
"Mari kita sudahi kegiatan kencan yang membosankan ini. Mulai sekarang kamu bebas, aku pun demikian. Aku akan mencari target pria baru yang lebih menarik darimu," kata Dafina lantang.
__ADS_1
Alex kemudian melempar senyum getir. "Tidak semudah itu ferguso! Sekarang aku memang jauh dari kata sempurna untuk mendampingi Miss. Tapi, apakah Miss pernah dengar kata: segalanya butuh proses? Jika aku berusaha, aku yakin Alex yang tampan ini mampu menjadi pria dewasa yang sesuai dengan keinginan Miss."
"Ck!" Dafina berdecak tak percaya. "Apakah kamu bisa membuktikan omonganmu itu Alex?" Nada suaranya meremehkan.
" Silakan beri aku tantangan yang sangat berat! Dan kupastikan aku akan menyelesaikan tantangan itu," ujar Alex yang membuat Dafina berdecih tambah makin meremehkan.
Sebelah alis perempuan itu meninggi satu. Dafina kemudian mengangkat tangannya. Membentuk sebuah angka tujuh.
"Kuberi waktu kamu tujuh hari dari sekarang. Selesaikan semua skripsimu. Jika kamu mampu, maka aku akan mengizinkanmu untuk mencoba menjadi pacar sungguhanku."
"Oke!" Alex menjawab lantang tanpa mikir-mikir dulu. Dafina cukup terkejut. Tapi ia yakin manusia seperti Alex tak akan mampu mengerjakan pekerjaan seberat itu.
"Tapi aku punya syarat! Tapi Miss tenang saja. Aku syarat itu tidak akan memberatkan Miss," ujar Alex.
"Silakan!" Dafina mengedikan bahu.
"Aku mau selama satu Minggi ini boleh diizinkan tinggal di tempat, Miss. Semua itu kulakukan agar Miss bisa memantau secara langsung. Dan tentunya Miss tidak berpikir aku menyewa gosh writter lagi."
"Baiklah!" Dafina menyanggupi. Tanpa wanita itu sadari mereka sedang menggali jurang perasaannya semakin dalam.
***
__ADS_1