PESONA PELAKOR LIAR

PESONA PELAKOR LIAR
Hari Ke Tujuh


__ADS_3

Dafina baru saja selesai menerangkan mata kuliah untuk mahasiswanya. Dia duduk di ruang dosen sambil memandangi kalender di atas meja.


Sudah hari ke tujuh, pikirnya. Nanti malam adalah malam eksekusi untuk penentuan lolos tidaknya skripsi yang Alex buat.


Kemarin Dafina sudah mengecek pekerjaan Alex. Dari apa yang dia periksa, Dafina yakin kalau nanti malam Alex tidak akan berhasil memenuhi chalenge yang dia buat.


Dafina tahu kalau Alex sudah sangat bekerja keras selama satu Minggu ini. Tapi waktu tujuh hari terlalu sedikit untuk seseorang yang biasa bermalas-malasan seperti Alex.


Perempuan itu tersenyum kecut. Pada akhirnya permainan itu berahkir lebih singkat dari waktu yang ditentukan sejak awal. Nyatanya waktu satu bulan itu terpaksa Dafina setop secara mendadak demi kebaikan bersama. Dafina lebih suka menjerat, dia tidak ingin jika dirinya bermain terlalu dalam dan pada akhirnya harus terjerat dengan para berondong yang menjadi targetnya.


"Kira-kira siapa pria yang aku kencani berikutnya?" Dafina berusaha menghibur diri. Tapi tak di pungkiri nama Alex sedang berputar-putar di kepala.


Ada rasa sesak yang menghimpit dada ketika dia menyadari akan berpisah dengan Alex.


Apa itu karena belum genap satu bulan?


Pertanyaan itu muncul di kepala Dafina. Padahal biasanya ia selalu berhasil meninggalkan para berondongnya sebelum waktu yang ditentukan habis. Namun, dengan Alex ini rasanya sedikit berbeda. Sudut mata Dafina terasa memanas. Ia takut jika nanti malam ia akan menangis karena perpisahannya dengan Alex.


*

__ADS_1


*


*


Singkat waktu. Mereka berdua sudah ada di restoran langganan Dafina. Mereka memesan ruang VIP supaya segala aktivitasnya tidak terganggu orang lain.


Malam ini Alex terlihat sangat tampan. Dafina juga berdandan sangat canti. Sengaja karena ini adalah malam perpisahan mereka.


"Anda sangat cantik, Miss."


"Terima kasih! Aku anggap ini pujian terakhir sebelum kita berpisah. Kedepannya kita harus saling melupakan satu sama lain. Jangan lupa kamu juga harus bersikap seperti mahasiswa dan dosen saat bertemu aku," perintah Dafina.


Dafina sangat terkejut saat melihat Alex berhasil menyelesaikan skripsinya. Terlepas tentang isinya, dia sudah punya satu poin penting untuk maju satu langkah lagi.


"Kenapa? Apa Anda sangat terkejut?"


Dafina masih diam. Bibirnya kelu. Suaranya menghilang bagai ditelan antah brantah di tengah hutan.


"Berapa lama waktu yang Anda perlukan untuk membaca isinya? Saya harap kali ini Anda sportif. Nilailah pekerjaan yang saya buat tanpa memikirkan status kita," ucap Alex. Nada bicara lelaki itu terdengar menyindir dan penuh peringatan.

__ADS_1


Dafina lalu membuka setiap susunan skripsi yang ditulis oleh Alex. Tidak terlalu detail karena dia sudah memeriksa setiap lembaran sebelumnya.


Hanya saja ....


Untuk hasil akhir Dafina masih belum yakin Alex bisa melakukannya. Ia kemudian membaca lembaran yang belum dilihat sebelumnya. Dafina cukup kagum karena Alex berhasil menyelesaikan itu.


"Bagaimana, Miss? Apakah aku sudah diperbolehkan mengikuti sidang? Apakah skripsi itu layak untuk di presentasikan?"


Alex menaikkan sebelah alisnya. Kali ini Dafina kalah telak karena pekerjaan Alex jauh lebih sempurna dari dugaannya.


"Baiklah ...." Dafina terpaksa mengulurkan tangannya. "Mulai malam ini kamu adalah pacarku," lanjutnya kemudian.


Alex tersenyum miring. Akhirnya ia bisa mendengar secara langsung apa yang sudah dia nanti selama satu Minggu ini. Alex kemudian menjabat tangan Dafina.


"Terima kasih, Miss. Sebagai pacar baru, bolehkan aku mengusulkan satu permintaan?"


Deg.


Dua bola mata Dafina melotot garang. "Permintaan apa?"

__ADS_1


Jantungnya bertalu-talu tidak jelas saat Alex mendekatkan wajahnya perlahan.


__ADS_2