PESONA PELAKOR LIAR

PESONA PELAKOR LIAR
Anjeeeng


__ADS_3

Hubungan Alex dengan Ayah Sisca kembali membaik. Bahkan Ibu Sisca sempat keluar untuk meminta maaf kepada Alex. Mereka mengatakan semua yang terjadi di luar kendali keduanya, jadi mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain menyetujui pernikahan itu.


Setelah berpamitan, Alex keluar dari rumah Sisca membawa bongkahan rasa sakit yang tak tertahankan. Ia masih tidak percaya Sisca tega menghianatinya, bahkan sampai berani hamil dengan pria lain.


"Mas Alex ...."


Satpam yang ada di depan tadi menyapa dengan suara gemulai, tapi Alex terus berjalan maju tanpa peduli.


Ia membuka pintu mobil, lalu sejenak menatap rumah gedong Sisca yang mungkin tidak akan pernah ia datangi lagi seumur hidup.


"Semuanya telah berakhir. Selamat tinggal Sis," lirik Alex lalu masuk ke mobil. Ia akan berusaha mengubur semua kenangan tentang Sisca mulai detik ini.


Air mata Alex kembali berjatuhan. Lelaki itu memutar lagu galau supaya suasananya pas dengan hatinya saat ini.


"Al ...." Tiba-tiba ia mendengar suara yang tak asing. Buru-buru Alex menoleh dan mendapati Sisca sedang bersembunyi di belakang kursi penumpang.


"Sisca, ngapain kamu di sini?" Alex langsung mengusap air mata supaya tidak dibilang cowok lemah.


Sisca terlihat bengong dan bingung. Ada gurat malu di wajah ayunya saat ini.


"Aku ... Aku ...." Sisca tak bisa menjawab. Alex langsung menepikan mobilnya lalu menoleh ke belakang. Dan tentunya sambil memasang muka garang.

__ADS_1


"Turun Sis! Aku nggak mau ada urusan lagi sama cewek kayak kamu!" ucap Alex ketus.


"Alex please maafin aku!"


"Turun Sis! Aku udah gak mau denger kata-kata apa pun dari mulut kamu. Bagiku semua yang dijelasin sama bokap kamu udah lebih dari cukup!" tandas lelaki itu.


Apakah dia mau membuat luka di hati Alex makin menganga? Ngapain masuk ke mobil orang sembaranga?


Sisca yang sudah nekat langsung mendekat. Dia maju ke depan dan duduk di samping Alex dengan tidak tahu dirinya.


"Bawa aku pergi, Al!"


"Kamu gila ya? Sebentar lagi kamu itu mau lamaran. Jadi jangan membuat ayah kamu pusing gara-gara kelakuan kamu! Dia sudah cukup menderita!" maki Alex.


"Lah, kenapa jadi gini, dah?" Alex menganga tak percaya. Sejenak dia melupakan rasa sakit di hatinya dan fokus pada masalah Sisca.


"Aku nggak serius nerima lamaran dia Al. Aku terpaksa melakukan itu demi bayi yang ada di perut aku," ucap Sisca.


Wajah Sisca terlihat kacau sekali. Riasan yang semula cantik berubah semrawut. eyeliner-nya luntur, dan dia tampak seperti kuntilanak di arak-arak.


Kini Alex terpaku diam. Dia menatap kekacauan Sisca dari atas sampai ke bawah. Lalu membuang napasnya kasar.

__ADS_1


Galau sudah pasti ia. Tapi yang lebih menyesakkan lagi adalah kemunculan Sisca yang terlalu tiba-tiba.


"Mau kamu sebenarnya apa sih, Sis? Kamu mau buat aku mati sakit hati, hah?"


"Aku ... Aku ...."


"Hu ... Hu ... Hu ...."


Sisca tiba-tiba menangis berderu-deru. Suaranya melengking kuat dan membuat hati Alex meleleh ketika mendengarnya.


Dia membiarkan Sisca menangis puas di mobilnya. Dan setelah itu dia akan mengantar Sisca kembali ke rumahnya.


Tak berapa lama kemudian wanita itu tiba-tiba menarik satu tangan Alex dan menggenggamnya begitu erat.


"Aku tahu kamu masih cinta sama aku, Al!"


"Memang masih, tapi sekarang cinta itu bakalan aku hapus perlahan! Aku nggak pengin lagi berurusan sama wanita penghianat kaya kamu! Jadi gak usah ngomong macem-macem," sungut Alex.


"Percayalah padaku, Al! Aku cuma cinta sama kamu!" Kontan Alex membeliak. Dia menatap Sisca dengan wajah murka luar biasa.


"Ternyata selain gak punya hati kamu juga nggak punya malu ya, Sis? Kalau cinta sama aku kenapa hami sama orang, Anjeeeng?"

__ADS_1


***


__ADS_2