PESONA PELAKOR LIAR

PESONA PELAKOR LIAR
Mi Instan


__ADS_3

Dafina agak terkejut saat mengetahui Alex adalah lelaki yang penuh tekad. Sejak perjanjian itu Alex terus berusaha mengerjakan skripsinya. Dia mengerjakan itu siang dan malam bahkan hanya tidur 2 jam sehari.


Ini adalah hari ke tiga. Alex menyerahkan susunan dan rangkaian skripsinya untuk diperiksa Dafina.


Karena Alex tinggal bersama wanita itu, jadi Dafina tidak punya alasan untuk menuduh pembuatan skripsi Alex dibantu oleh mahkluk gaib.


Dafina memantau secara langsung, dan ia tahu setiap perkembangannya.


"Bagaimna, Miss? Apa rangkaiannya sudah pas?" Alex memasang wajah sumringah saat Miss D keluar dari kamar. Dia baru saja selesai memeriksa pekerjaan Alex.


"Lumayan ... Kamu bisa lanjut mengerjakannya lagi. Tapi ingat ... Jangan ada typo karena aku tidak suka itu! Jangan lupa juga perhatikan setiap tanda baca."


"Ini skripsi bukan Novel, Miss!" Alex membantah ucapan Dafina dengam mulut cemberut.


"Jadi kamu mau membantah?" Dafina menaikan sebelah alisnya. Jika sudah begitu Alex langsung mundur teratur. Ia kembali ke ruang tamu untuk mengerjakan skripsinya.

__ADS_1


Dafina melengos. Pandangannya beralih ke arah dapur. Karena jam menunjukkan pukul satu pagi jadi ia putuskan untuk membuat makanan hangat.


Dia mulai menyalakan kompor. Hanya makanan sederhana yang hendak ia masak. Yaitu dua mangkuk mi instan untuk dirinya juga Alex.


Setelah setengah jam kemudian Dafina menyusul Alex ke ruang tamu. Ia taruh dua mangkuk mi di tangannya ke atas meja.


"Makanlah, anggap ini bonus untuk kerja kerasmu selama tiga hari," ucap Dafina. Dia ikut bergabung duduk di samping Alex.


Lelaki itu cukup terkejut ketika Dafina datang membawakan mi instan. Walau hanya semangkuk mi, itu adalah kali pertamanya Dafina menunjukkan sebuah perhatian selama tiga hari ini.


"Miss ...." Alex tersenyum. Dia memperhatikan Dafina yang tengah mengunyah mi di mulutnya.


"Jangan sok kegeeran! Cepat makan dan lanjutkan tugasmu. Masih banyak yang harus di kerjakan," ujar Dafina tanpa menoleh.


Alex melipat bibirnya. Bukannya menuruti permintaan Dafina ia malah merapatkan duduknya lebih dekat.

__ADS_1


"Mau apa kamu?" Dafina langsung mengambil ancang-ancang. "Mangkuk mi ini akan melayang ke wajahmu jika kamu berani macam-macam padaku!"


"Tidak Miss. Lanjutkan makan saja ... Aku hanya ingin melihat Miss makan dari dekat."


"Cih!" Dafina memutar bola matanya setelah berdecih sinis. Ia kembali lanjut makan tanpa mempedulikan Alex yang terus mengaguminya dalam diam.


"Kamu tidak takut mata kamu copot?" Akhirnya Dafina kembali buka suara karena terlalu risih. Alex malah terkekeh pelan.


"Bahkan jika harus copot karena memandang kecantikan Miss aku sangat sangat rela," ujar pria itu.


Kontan Dafina menoleh dengan tatapan muak. "Alex. Aku memang tidak tahu apa yang ada di pikiranmu saat ini. Tapi jika kamu bertingkah aneh begitu dengan maksud ingin merayuku, kupastikan kamu mati malam ini juga!" ancam Dafina.


"Aku tidak merayu. Aku hanya ingin berkata jujur kalau Miss sangat cantik. Aku bahkan kaget karena baru menyadari belakangan ini."


"Oh ya?" Dafin memainkan gerakan kepala pelan. Ucapan Alex tak beda jauh dari pria di luar sana yang suka menggombal.

__ADS_1


__ADS_2