PESONA PELAKOR LIAR

PESONA PELAKOR LIAR
Gedung


__ADS_3

Alex menarik napas panjang untuk sekadar menetralkan pikiran. Dia sedikit memundurkan posisi duduk supaya bisa mengobrol lebih nyaman.


"Aku merasa ada yang beda dari Sisca Miss. Kalau aku sambungkan dengan kejadian ini, sepertinya itu masuk akal."


"Tunggu dulu Alex. Bisakah kamu jelaskan masalahmu sejak awal. Terus terang aku tidak mengerti kalau kamu terus bicara begini," ujar Dafina. Alex mengangguk. Sorot mata hampanya menatap lekat wajah Dafina.


"Selama empat tahun pacaran hubunganku dengan Sisca selalu baik-baik saja. Begitupun dengan orang tuanya. Mereka sangat baik padaku, bahkan selalu mengatakan titip Sisca, jaga Sisca baik-baik karena di Jakarta dia tidak punya siapa-siapa--"


Alex menjeda bicaranya untuk sekadar mengambil napas.


"Sekitar dua Minggu lalu aku menjemput Sisca ke bogor. Mereka masih sangat baik, bahkan sempat membawakan oleh-oleh talas bogor untuk ibuku. Tapi--"


Lagi, ia berhenti bicara. Itu membuat Dafina tidak sabar. Namun, tak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu dengan sabar.


"Tapi apa, Al?" Dafina bertanya setelah bosan menunggu selama lima menit.


Alex memutar otaknya sejenak. Berpikir sampai mana tadi dia bicara.


"Tapi tiba-tiba saja Sisca bilang ke aku, kalau dia dijodohkan secara paksa oleh orang tuanya. Dia juga akan berhenti kuliah," ucap Alex.


"Aneh!" Dafina mengangguk dan membenarkan ucapan Alex. "Sepertinya ada yang disembunyikan oleh Sisca. Bagaimana kalau besok kamu temui Sisca."


"Aku juga berniat seperti itu, Miss. Meski hubunganku dan Sisca berakhir buruk, setidaknya tidak ada hal yang disembunyikan di antara kami."

__ADS_1


"Terus, apa kamu akan mengaku bahwa kamu juga dekat dengan aku?" tanya Dafina tiba-tiba. Alex yang sedang menunduk langsung mendongak.


"Aku tidak tahu, Miss. Tapi mungkin saja ia," ujar lelaki itu.


Dafina tak menjawab. Dia kembali ke dapur untuk menyelesaikan kegiatan masaknya.


-


-


-


"Miss, apakah Miss marah padaku?" tanya lelaki itu. Alex merasa tidak enak karena Dafina langsung pergi tanpa menyelesaikan obrolannya.


"Jika kamu ingin lakukan tinggal lakukan saja. Kenapa aku harus marah?" ucap perempuan itu ketus. Alex makin tersudutkan baik otak maupun hatinya.


Dafina yang baru selesai menyiapkan makan malam lantas menarik kursi. Dia duduk sambil menatap Alex yang masih berdiri mengatung di depannya.


"Itu sudah resikoku. Sekarang lebih baik kamu makan. Setelah ini antar aku pulang."


"Memangnya Miss tidak bawa mobil?" Alex menarik. "Tumben," ujarnya. Beberapa saat mereka melupakan sejenak pembahasan soal Sisca.


"Aku ke sini jalan kaki."

__ADS_1


"Hah, memangnya tempat tinggal Miss dekat dari sini?"


Mendengar itu Dafina tersenyum.


"Gedung apartemenku ada di belakang apartemen ini. Jika kamu nongkrong di balkon itu. Kamu akan berhadapan langsung dengan tempat tinggalku."


Telunjuk Dafina mengarakh ke balkon.


"Dari apartemenku, aku bisa melihat jelas balkon itu. Bahkan benda segitiga yang selalu kamu pakai aku bisa melihatnya," seloroh Dafina sembrono. Alex melongo, lalu sesaat kemudian menatap Dafina dengan muka jengah. Pantas saja dia tahu Alex selalu memakai boxer bergambar spiderman.


"Wah. Ternyata Miss ini nakal sekali. Apa Anda sengaja tinggal di gedung itu untuk memata-mataiku?"


Dafina menggeleng. "Tidak. Tapi aku pertama kali bertemu denganmu di kawasan ini."


"Jadi bukan di kampus?"


"Tentu saja bukan! Aku baru tahu kita satu kampus setelah beberapa hari kemudian kamu jadi mahasiswa baru."


"Woah, hebat!" Alex menggelengkan kepala. Dia baru tahu kalau mereka tinggal di kawasan yang sama, dan hanya dibedakan oleh gedung.


"Jangan-jangan kita jodoh, Miss." Alex tertawa bergela.


Dafina kontan terdiam.

__ADS_1


Jodoh?


Itu jelas tidak mungkin, batinnya dalam hati.


__ADS_2