PESONA PELAKOR LIAR

PESONA PELAKOR LIAR
Terus Gimana?


__ADS_3

Kini Alex dan sahabatnya itu terduduk di selembar karpet bermotif macan tutul.


Setelah berhasil menidurkan dua ondol-ondol kembar milik sahabatanya, Alex sedikit bisa menghela napas lega.


"Hidup aku sekarang bener-bener susah! Mau tidur aja harus nunggu monster pengacau itu tidur dulu," kesal Alex. Dua bola matanya mengindahi seisi kamar yang porak-poranda seperti kena tsunami.


"Ya mau gimana lagi, Al? Siapa suruh temenan sama bapack-bapack. Lagi weekend gini aku mana bisa si, pergi tanpa bawa anak," balas Reyno dengan ekspresi menyalahkan.


"Hmm. Untuk ukuran anak manusia mereka terlalu mengerikan, Reyn. Aku jadi takut punya anak," ujar Alex.


"Udahlah gak usah dibahas! Sekarang mendingan kamu curhat sebelum monster kecil aku bangun," kata Reyno kemudian.


"Hmmm." Alex menjawab dengan dehaman. Sebenarnya mood untuk cerita sudah menghilang. Tapi dia coba hadirkan itu sekali lagi. Bagaimanapun juga Alex masih butuh saran, 'kan?


"Kemarin aku ke rumah Sisca!" Alex terdiam. Ia kembali mengindahkan kamarnya yang acak-acakan. Duh, entah berapa lama ia membereskan kekacauan yang sisebabkan oleh si anakan piranha ini.


"Ngapain diem? Kamu pikir aku jauh-jauh ke sini cuma buat dengerin cerita kamu main ke rumah Sisca doang?" kesal Reyno merasa diabaikan.


"Sabar, Nyet! Ini juga lagi membangun suasana yang pas buat cerita!" sungut Alex.

__ADS_1


Setelah menemukan awalan yang pas, Alex langsung menceritakan masalahnya dengan Sisca. Tentu saja itu tidak bisa dijelaskan secara panjang lebar mengingat si ondol-ondol kembar bisa saja bangun sewaktu-waktu.


"Gila! Aku nggak nyangka Sisca kaya begitu. Sampe 48 kali lagi," seru Reyno.


"Ya nggak usah disebut juga bagian itunya, Nyet! Kamu mau bikin aku hati aku tambah panas?"


"Namanya juga kaget! Gak nyangka!" kata Reyno. Alex menarik napas sejenak sebelum pembahasan mereka berpindah ke masalah yang lebih berat lagi. Alias masalahnya dengan Miss D.


"Untuk masalah Sisca skip dulu, ada masalah besar yang sekarang harus aku hadapi."


Sontak Reyno menggaruk kepalanya bingung. Ekspresi wajahnya yang sejak tadi tercengang sekarang dibuat tercengang lagi.


"Apalagi ini, Al? Emang masih ada masalah yang lebih parah dari diselingkuhin, diputusin, diboongin, dan--"


"Dan ditinggal nikah karena hamil duluan," ucap Reyno berusaha melanjutkan kalimatnya.


Alex menggeleng geram. Kalau bukan teman mungkin ia sudah memutilasi bapak-bapak gemoy yang satu ini, pikirnya.


Lelaki itu kemudian mengatur pernapasannya lagi. Curhat kepada Reyno memang butuh tenaga ekstra. Kalau dia punya terman normal lain tak Alez mencari lelaki gemoy itu.

__ADS_1


Alex mengembuskan napasnya, kasar. "Gara-gara itu semalam aku mabok. Dan hal yang gak terduga terjadi gitu aja. Tanpa sadar aku datengin apartemen Miss D---"


"Terus?" Pikiran Reyno mendadak cemas. Semoga dugaannya tidak benar.


"Terus aku perkosa dia!"


Eh? Dua bola mata lelaki itu dibuat bergetar nyaris melompat.


"Gilaaa!" Reyno berteriak nyaring sampai ondol-ondolnya pada kaget. Buru-buru lelaki itu menenangkan mereka supaya tidur kembali.


"Kok bisa si Al ...?" Ia bertanya dengan suara lemah tak percaya. Hal pertama yang Reyno rasakan saat mendengar cerita itu adalah lemas.


"Bisa-bisanya kamu perkosa dosen sendiri, otak kamu ketinggalan dimana Alex?" Lagi-lagi Reyno bicara dengan suara lemah. Ia masih belum percaya kata itu keluar dari mulut sialan Alex yang penuh dosa.


"Aku juga nggak tau Reyn! Mungkin karena nggak ada tempat lain, jadi aku datengin apartemen dia. Selain itu jarak apartemen kami terlalu dekat. Mungkin itu salah satu faktor utamanya juga," ujar Alex.


"Ya tapi kenapa harus Miss D, si? Gimana kalau kamu di DO karena hal ini?"


"Nggak mungkin, Reyn. Miss D bukan orang yang seperti itu."

__ADS_1


"Terus gimana sekarang? Apa yang mau kamu lakuin setelah semuanya terjadi?"


Pada akhirnya pertanyaan itu lolos dari bibir Reyno. Inilah hal yang paling Alex bingungkan untuk saat ini.


__ADS_2