
Pagi ini seharusnya Dafina mengajak Alex ke rumahnya. Dia sudah berjanji, tapi berhubung Bu Mira mengajaknya untuk bertemu, Dafina mau tak mau harus mengundur acara mereka menjadi sore hari.
Beruntung Alex tak mempermasalahkan. Dia juga tidak banyak bertanya apa alasan yang membuat Dafina memundurkan jadwal pertemuan itu.
Di sebuah restaurant steak yang terkenal enak dan mewah, Dafina menghentikan mobilnya di sana.
Dia masuk ke dalam seorang diri lalu mencari sebuah room VVIP. Dafina pun masuk setelah mendapat arahan dari salah seorang pelayan yang mengantarnya.
"Selamat pagi, Bu Mira," sapa Dafina dengan senyuman. Sebisa mungkin Dafina memasang wajah santai. Dia tahu apa maksud dan tujuan Bu Mira mengajaknya bertemu sepagi ini.
"Tidak usah basa-basi, kita langsung ke intinya saja."
Bu Mira menyodorkan satu porsi steak yang sudah dipesankan untuk Dafina.
"Terima kasih. Ini adalah acara sarapan pagi termewah. Senang bisa berkesempatan melakukan sarapan pagi bersama wanita terhormat seperti Anda, Bu Mira."
Sambil terus tersenyum Dafina mengambil pisau dan garpu. Ia potong daging itu dengan gerakan pelan, lalu ia masukan ke dalam mulut seakan sangat menikmati hidangan yang ada di depannya.
Padahal yang menjadi kenyataan, hidangan itu adalah simbol dari harga dirinya yang sedang dilecehkan oleh Bu Mira.
__ADS_1
Itu sama sekali bukan acara makan enak apalagi pertemuan antar seorang teman.
"Kita langsung ke intinya saja, Dafina. Berhubung kau adalah temanku, dan aku juga tidak mau hubungan kita rusak begitu saja, jadi bagaimana jika kau mulai jauhu Alex dari sekarang?"
"Anda salah paham, Bu Mira. Sepertinya hubungan saya dengan Alex tidak terlalu dekat untuk dianggap jauh," balas Dafina.
"Bagus kalau begitu. Jadi kau bisa secepatnya tinggalkan Alex bukan?"
Sambil mengunyah anggun, Dafina mengangguk.
"Tentu saja bisa. Tapi terus terang saya takut anak Anda yang tidak bisa. Bagaimana jika nanti anak Anda kalap dan balik mengejar-ngejar saya?" tanya Dafina.
Mendengar itu Bu Mira menarik napasnya kesal.
Tawa Dafina menggema tiba-tiba.
"Wah, aku akan sangat senang jika itu terjadi. Tapi .... Apakah Anda yakin cara itu akan membuat Alex berhenti mengejarku? Bagaimana kalau dia terus memburuku sampai ke ujung dunia?"
"Hmmm. Maumu apa Dafina?"
__ADS_1
"Saya tidak mau apa-apa. Saya hanya ingin memberi tahu kalau anak jaman sekarang susah di atur. Bu Mira pasti sudah jauh lebih paham," ujar Dafina.
"Hati-hatilah dalam bersikap. Terus terang saya tidak takut berpisah dengan Alex. Saya justru takut Anda menangis karena ditinggalkan oleh anak semata wayang Anda."
"Jangan sembarangan bicara kamu Daf. Apa maksudmu?" kesal Bu Mira.
Kekesalan perempuan itu membuat Dafina tersenyum. Sekarang dia merasa jauh lebih terhormat dan lebih unggul dibandingkan Bu Mira.
"Jika Anda ingin saya menjauhi Alex dengan cara Anda, saya akan ikuti saat ini juga. Tapi saya harap Anda bisa menanggung konsekuensi itu sendiri tanpa melibatkan saya," kata Dafina penuh penegasan.
Bu Mira diam menyimak.
"Saya harap si Anda mau percaya dengan saya. Biarkan saya meninggalkan Alex dengan natural. Tapi saya tidak bisa melakukannya dengan cepat."
"Hmmm." Bu Mira melihat tangannya di depan dada.
Dafina mengedik. "Terserah, mau gunakan cara saya, atau lanjut mengikuti cara Anda yang kuno itu."
Kontan Bu Mira berdiri. Ia ambil satu buah tisu. Kemudian ia lempar ke sembarang arah setelah dipakai untuk menyeka mulut.
__ADS_1
"Segera pikirkan cara untuk meninggalkan Alex secepatnya. Kamu tahu aku bukan tipe orang yang sabaran."
Setelah itu Bu Mira pergi meninggalkan Dafina di ruangan itu sendirian. Dafina tersenyum puas melihat Bu Mira mati kutu karena kebodohannya sendiri.