PESONA PELAKOR LIAR

PESONA PELAKOR LIAR
Putuuss


__ADS_3

Alex belingsatan seperti cacing kepanasan saat memeluk Dafina.


Sudah satu jam ia dalam posisi itu, dan itu membuatnya semakin tersiksa. Baik secara mental maupun secara fisik.


Sebagai lelaki normal yang memiliki gairah, tentu saja sekujur tubuh Alex menegang tidak karuan.


Dafina sendiri tampak nyaman di pelukan pria itu. Dia tertidur lelap, dan suhu badannya perlahan turun mendekati normal.


"Situasi gila macam apa ini?" jerit Alex dalam hatinya. Rasanya ia ingin kabur, tapi tak mungkin ia meninggalkan Dafina dalam keadaan seperti ini.


Pandangan Alex perlahan turun, tepatnya menuju wajah damai Dafina yang berbaring nyaman di lengannya.


"Di saat seperti ini Anda sangat menggemaskan, Miss." Sejenak Alex merasa Dafina seperti bocah yang butuh perlindungan. Dia juga tampak polos dan memercayakan dirinya begitu saja kepada Alex.


Andai Alex tidak bisa menahan diri, mungkin dia akan berbuat jahat kepada perempuan itu.


Belum genap satu menit Alex memandangi wajah Dafina.


Sayangnya Alex bukan malaikat pelindung. Otaknya yang nakal terus memacu bibirnya maju selangkah demi selangkah.


Tanpa menunggu waktu lama, lelaki itu berhasil mencuri satu kecupan dari bibier Dafina, dan tangannya meraba halaman angker yang selama ini selalu dibatasi pagar tinggi-tinggim


"Maaf, Miss. Aku hanya penasaran dan ingin menyentuhnya sedikit saja," lirih lelaki itu. Alex kemudian bangun setelah bergerak hati-hati. Dia menyelimuti Dafina lalu beranjak pergi dari kamar itu sebelum gairahnya makin tak terkendali.


"Sudah, ah! Anuku bisa mati tegang kalau lama-lama berada di sisinya," batin Alex kesal sendiri.



-

__ADS_1


Ponsel Alex di saku celana tiba-tiba berdering. Tertera nama Sisca dan itu membuat Alex langsung mengangkatnya tanpa basa-basi.


"Halo Sis? Hmmm Apa?"


"Putus?"


Alex menggeleng tak percaya. Mendengar kata putus terlontar dari bibir Sisca secara tiba-tiba membuat lelaki itu bergetar seluruh tubuhnya.


"Kamu di mana? Aku kesitu sekarang!" Lelaki itu langsung menutup panggilan setelah Sisca memberitahukan keberadaannya.


Tanpa peduli dia meninggalkan Dafina yang tengah sakit di kamarnya seorang diri.


Pikiran Alex semrawut. Pria itu kembali mengendarai mobilnya secara brutal menuju kos-kosan tempat Sisca tinggal.


Sesampainya di sana Alex langsung masuk ke dalam. Pintu ia biarkan terbuka karena pemilik kos sangat galak. Bisa mati kalau sampai ketahuan menutup pintu saat berduaan.


"Ada apa Sis? Kenapa kamu tiba-tiba ngomong gitu? Yang aku denger tadi bohong 'kan, Sis? Kamu gak bener-bener mutusin aku?"


Alex yang tak tahu harus bersikap bagaimana langsung mencengkeram pundak Sisca kuat-kuat.


"Jawab Sis! Yang kamu katakan di telepon tadi bohong kan?" serunya lagi.


Mendongak penuh, perempuan itu menatap Alex dengan linangan air mata. Sisca rekam wajah Alex lekat-lekat sebelum ia tidak bisa melihatnya lagi.


"Maafin aku, Al. Aku dijodohkan dan bulan depan aku harus menikah."


"Gak, ini gak mungkin! Kamu pasti bohong Sis! Aku gak percaya!"


"Aku serius, Al. Besok aku mau ngajuin surat pengunduran diri dari kampus," lirihnya.

__ADS_1


Bagai tersambar petir di siang bolong. Alex menganga tak percaya begitu mendengar semua kata kejam itu keluar dari mulut Sisca.


Apa itu karma untuk dirinya yang beberapa hari ini bersikap abai? Kenapa datangnya begitu cepat? Alex bahkan masih berharap chalenge satu bulan itu segera berakhir supaya bisa menjalani hubungan baik dengan Sisca.


Lantas, kenapa semuanya jadi begini?


Sambil mengepalkan dua tangan, Alex menggeram. Dia masih ingin melanjutkan hubungannya bersama Sisca, dia tidak mau terjebak dalam kerangkeng main-main seorang Dafina.


Lelaki itu kemudian memeluk Sisca. Dia mengelus pundak Sisca dari atas ke bawah.


"Kamu tenang aja Sis. Hari ini juga aku bakal ngomong ke orang tua kamu kalau aku bakalan seriusin kamu. Bila perlu aku ajak orang tua aku biar mereka percaya."


Sisca menggeleng samar. Dua tangannya mendorong bahu Alex agar berhenti memeluknya.


"Nggak bisa Al! Kamu nggak bisa lakuin itu karena pernikahan ini pasti akan terjadi. Aku sudah terlanjur bilang mau sama orang tuaku."


Duaar !


Lagi-lagi Alex merasa disambar petir untuk kedua kalinya. "Bilang mau? Memangnya kamu cinta sama dia?"


Sorot mata Alex berubah marah.


"Bukan begitu Al. Tapi situasi ini sangat rumit dan sulit dijelasin."


"Nggak ada masalah yang nggak bisa diselesaikan, Sis." Alex menggenggam tangan Sisca dengan kedua tangan. "Percaya sama aku, selama kita kompak pasti kita bisa lalui semua ini!"


"Nggak Al! Aku mohon kamu tolong lupain aku dan semua kenangan yang pernah kita lalui. Aku harap kamu dapetin jodoh yang lebih baik dari aku."


"Nggak, aku nggak mau!" Dengan cepat Alex menggeleng. "Saat ini juga aku bakalan ngomong ke orang tua kamu kalo aku bakalan menentang perjodohan ini! Mana hape kamu? Aku mau ngomong sama bapak kamu."

__ADS_1


"Al, please." Sisca langsung mengambil ponsel di nakas dengan wajah ketakutan.


Sebenarnya ada apa ini, batin Alex.


__ADS_2