PESONA PELAKOR LIAR

PESONA PELAKOR LIAR
Maafkan Saya, Bu


__ADS_3

"Bu Mira, ini tidak seperti yang ibu pikirkan," ucap Dafina panik.


"Jadi?" Bu Mira memiringkan kepalanya. Dia butuh penjelasan. Tapi saat Dafina hendak bicara, ibu Mira ini tiba-tiba berceletuk cukup heboh.


"Saya belum budek, lho, Dafina."


"Tadi kamu sendiri yang bilang kalau kamu nyuruh anak saya supaya merahasiakan status pacaran kalian dari saya," ucap Bu Mira.


"Bu ... Bukan begitu, Bu Mira. Saya tidak bermaksud ...."


"Hallah ...." Bu Mira masuk ke dalam rumah sambil mengentakkan kakinya kesal meninggalkan mereka berdua.


"Aduh!" Dafina memijit pelipisnya. "Kenapa malah jadi begini si, Al?"


Kepalanya berdenyut ngilu. Seluruh keberanian Dafina bagaikan ditelan bumi saat ini. Nyalinya menciut, rasanya Dafina ingin kabur saja.


"Miss tenang saja. Mamiku bukan orang yang pemarah. Dia cuma salah paham sedikit. Makannya tadi aku bilang juga apa? Lebih baik cerita apa adanya ... Toh niatku ke sini membawa Miss juga karena ingin memperkenalkan pada Mami," ujar Alex. Dafina tak menjawab. Ia masih larut dalam perasaan bersalahnya.


Melihat Dafina yang tampak panik. Alex tersenyum. Perempuan itu terlihat menggemaskan saat menggigit bibir bawahnya seperti itu. Darah di tubuh Alex serasa dipacu ketika menyaksikan bibir merekah itu dipermainkan oleh si pemilik.


"Sudah, Miss. Ayo kita masuk saja. Percaya sama aku ... Aku anaknya jadi aku lebih tahu bagaimana sikap Mami."

__ADS_1


Alex kembali mengajak Dafina masuk. Perempuan itu hanya bisa mendesahkan napasnya pasrah saat Alex memaksanya duduk di tempat semula.


Bu Mira sendiri terlihat memasang wajah datar. Dafina sampai bingung bagaimana membaca ekspresi wajah perempuan paruh baya itu. Entah dia sebal, atau dia sedang marah kepada Dafina.


Seorang pelayan tiba-tiba datang membawa jamuan teh. Dia menuangkan tiga gelas teh ke dalam cangkir lalu menyodorkannya satu persatu kepada mereka.


"Minum dulu," ucap Bu Mira. Dia meminum teh itu terlebih dahulu, di susul oleh Alex kemudian baru Dafina yang pura-pura mengangkat cangkir tapi tak meminum isinya sama sekali.


Jangankan minum, mau bernapas saja Dafina merasa tidak enak pada Bu Mira.


"Dafina, terus terang aku sangat kecewa padamu. Kupikir kita sudah lama saling mengenal, tapi ternyata ...."


"Bukan masalah itu," ketus Bu Mira.


"Lalu masalah yang mana?" Dafina menatap heran.


"Kamu tahu tidak. Mati-matian saya mendidik Alex sejak kecil supaya dia jujur dalam hal apa pun. Terutama soal asmara."


Dafina diam menyimak.


"Tapi kamu dengan beraninya menyuruh Alex berbohong soal hubungan kalian. Enam tahun kita saling mengenal lho, Daf. Harusnya kamu tahu kalau aku tidak suka dibohongi."

__ADS_1


"Maaf, Bu. Terus terang saya panik. Saya malu pada ibu."


"Kenapa harus malu? Alex saja dengan bangganya memperkenalkan kamu pada ibunya, masa kamu malu punya pacar seperti dia? Apa jangan-jangan kamu cuma niat mau mainin dia?"


"Bukan begitu maksudnya, Bu."


Duh, Dafina menggaruk kepalanya bingung. Apa pun yang dia ucapkan rasanya selalu salah kaprah. Tatapan Bu Mira selalu berhasil membuat Dafina kehilangan kata-kata.


"Udah, Dong, Mi! Jangan bikin Miss D jadi bingung begitu. Alex ngajak dia kesini untuk hal yang baik supaya kalian bisa saling mengenal satu sama lain. Bukan debat-debat aneh seperti itu," ucap Alex.


"Untuk masalah mengenal kita sudah jauh lebih mengerti satu sama lain Alex. Meskipun usia Dafina jauh dari Mami, tapi dia sudah Mami anggap seperti temen Mami."


"Tapi untuk kali ini dia datang bukan sebagai teman Mami. Dia adalah pacar aku ... Jadi Mami harus menghargai Miss D. Alex yakin tadi Miss D cuma panik. Dia nggak bermaksud nyuruh aku bohongin Mami," ujarnya.


"Lagian manusia mana si yang tidak panik saat mengetahui ibu pacarnya adalah temannya sendiri?" lanjut Alex kemudian.


"Hmmm. Mami paham soal itu. Tapi sebelumnya, izinkan Mami bicara sama Dafina empat mata."


Deg.


Apa lagi ini, batin Dafina. Perasaannya mengatakan ada sesuatu yang akan terjadi berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2