PESONA PELAKOR LIAR

PESONA PELAKOR LIAR
Seminggu Yang Lalu


__ADS_3

Kisah kembali pada kejadian seminggu lalu. Sejak Alex melakukan itu pada Dafina, dia seperti kehilangan arah dan tujuan hidup.


Dafina terus menangis dan menyesali setiap perbuatannya dari waktu ke waktu. Andai Dafina bisa menahan diri dari fantasi gilanya, pasti semuanya tidak akan berakhir seperti ini. Tapi hal itu menunjukkan sekali apa yang dia lakukan tidak ada gunanya. Akhirnya Dafina pergi ke rumah orang tuanya untuk menenangkan diri.


Sesampainya di rumah kedua orang tuanya Dafina terkejut saat melihat ada banyak tamu. Ternyata ibunya sedang mengadakan acara arisan keluarga.


Mau tak mau Dafina harus bergabung di sana. Niat hati ingin mencari ketenangan, Dafina malah ditanya kapan nikah oleh para saudaranya.


Dafina sangat marah. Dia masuk ke kamar lalu membanting pintu.


Lagi, Dafina kembali menangisi keperawanannya yang hilang. Dia terus menangis tanpa terasa matahari sudah berganti malam. Kedua orang tua Dafina yang khawatir memaksa masuk ke dalam.


Ayah Dafina membuka pintu kamar sang anak bersama ibu yang membawakan nampan berisi makanan. Ibu meletakan makanan itu di atas nakas, lalu ikut bergabung duduk di pinggiran tempat tidur bersama sang Suami.

__ADS_1


"Dafina, makanlah! Ini sudah malam. Kamu belum memakan apa pun seharian ini, Nak!"


Dafina tak menjawab. Akhirnya ibu terpaksa membuka selimut yang menutupi wajah gadis itu.


"Dafina?" Dia amat terkejut saat melihat wajah Dafina yang kuyu seperti habis menangis. Buru-buru ia membangunkan Dafina supaya bisa tahu duduk perkaranya.


"Dafina apa yang terjadi? Apa ada seseorang yang melukaimu?"


Ibu memberi pelukan pada anak itu. Sementara Ayah mengelus-elus pundak Dafina dari arah belakang.


Dafina tersenyum datar. Dia menatap ayah dan ibunya secara bergantian. "Ayah, Ibu! Apakah kalian malu memiliki anak yang belum menikah sepertiku?"


"Kenapa bicara seperti itu? Apa para tante-tante kamu bicara aneh lagi? Sebut tante yang mana Dafina. Nanti itu akan memberinya pelajaran bila perlu," ujar Ibu.

__ADS_1


"Aku tidak ingin membahas mereka, Bu! Aku hanya ingin tahu, apakah Ayah dan Ibu merasa malu memiliki anak yang sudah setua ini tapi belum nikah?" tandasnya.


Sejenak Ayah dan ibu saling pandang. Ibu memilih diam, sementar Ayah yang menjawab pertanyaan Dafina.


"Kami tidak pernah sedikit pun merasa malu, Dafina. Hanya saja ... kami menghawatirkan masa depanmu. 29 tahun bukan usia yang muda lagi untuk seorang wanita. Dan umur segitu harusnya kamu sudah punya anak."


Mendengar itu senyum getir Dafina tercipta. "Berarti benar apa yang mereka bilang. Ayah dan Ibu malu memiliki anak sepertiku. Bahkan Ayah pernah menyuruh tante Elmira mencarikan jodoh untukku, bukan?"


"Apa Ayah dan Ibu tahu? Gara-gara hal itu semua orang berpikir aku tidak laku. Mereka menganggap aku adalah beban pikiran kalian!" pungkas Dafina.


"Tidak begitu Dafina. Kami sungguh tidak pernah berpikir demikian," kata Ibu.


Alis Dafina meninggi sebelah. Sepertinya Ayah dan Ibu sama sekali tidak paham dengan dampak dari apa yang mereka lakukan.

__ADS_1


"Kalian memang tidak pernah berpikiran demikian. Aku juga tidak menuduh, Yah, Bu!" Suara wanita itu makin terdengar kesal.


"Tapi dampak dari perbuatan kalian membuat kalian berada di posisi itu. Mereka berpikir bahwa aku adalah beban yang selalu membuat malu keluarga. Apa sekarang kalian puas?"


__ADS_2