PESONA PELAKOR LIAR

PESONA PELAKOR LIAR
Tidak Bisa Berjanji


__ADS_3

Alex tak bisa berbuat apa-apa saat sang Mami perlahan membawa Dafina pergi jauh dari dirinya. Apakah Sang Mami akan memarahi Dafina?


Rasanya Alex benar-benar kesal. Ia hanya ingin mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada Dafina. Tapi kenapa harus sesulit ini?


Apakah niat baik tak selamanya disambut dengan hal baik? Rasanya Alex benar-benar tak mengerti.


Sementara di ruangan lain. Tepatnya di samping kolam, Bu Mira mendudukkan dirinya di sana. Keduanya duduk di kursi sambil menghadap ke arah kolam.


"Jadi sudah sejauh mana hubungan kalian, Daf?" Bu Mira membuka suara.


"Hanya dekat biasa, Bu. Mungkin Alex begitu untuk melupakan masalahnya yang lalu," kilah Dafina. "Tapi jika Anda menyuruh saya menjauh, Anda tidak usah khawatir. Saya pasti akan melakukannya dengan segera," tegas Dafina.


"Justru itu yang aku khawatirkan Dafina." Bu Mira menoleh.


Bersamaan dengan itu Dafina juga menoleh ke arahnya.


"Aku tahu siapa Alex. Kalau dia berani membawa perempuan ke sini pasti dia sudah berniat baik sejak awal. Anakku Alex baru kemarin patah hatinya, jadi aku tidak mau dia sakit hati untuk kedua kali. Apa kamu serius dengan hubungan kalian?"


Dafina tersenyum. Namun, beberapa detik kemudian dia menggelengkan kepalanya, ragu.

__ADS_1


"Saya tidak yakin, Bu. Ibu tahu sendiri berapa perbedaan usia kami."


"Hmmm. Sudah kuduga," gumam Bu Mira. Orang sepertimu mana mungkin menyukai Alex yang masih anak ingusan itu.


Bu Mira jadi ingat salah satu temannya yang bergelar profesor ditolak oleh Dafina. Dia perempuan hebat dan pintar. Pasti untuk mencari jodoh akan lebih selektif lagi, pikir Bu Mira.


"Jadi sekarang hubungan kalian itu apa? Kenapa putraku terlihat bersemangat sekali saat memperkenalkanmu?"


"Mungkin ini bisa disebut percobaan, Bu. Kami sedang mencoba dekat satu sama lain. Apa Anda keberatan?"


"Tidak! Hanya saja aku tidak ingin putraku sakit hati lagi. Aku juga tidak mau dia dipermainkan. Apa kamu bisa memastikan itu?"


"Semoga saja aku tidak mendengar kabar buruk seperti rumor yang pernah aku dengar kalau kamu mengencani pria muda hanya untuk bersenang-senang. Aku tidak mau Alex diperlakukan seperti itu olehmu." Bu Mira menaikan sebelah alisnya. Namun semua itu sudah terlambat karena Dafina sudah berhasil menjerat Alex ke dalam pelukannya.


"Semoga saja tidak, Bu." Dafina berdiri dengan senyuman. Dia tidak terkejut Bu Mira mengetahui hal itu, tapi sebisa mungkin Dafina tetap memasang wajah tenang seolah tuduhan itu adalah rumor bohong.


***


Setelah selesai dengan urusan itu, mereka kembali ke ruang tamu. Wajah Alex terlihat sangat cemas selama menunggu keduanya kembali.

__ADS_1


"Kenapa lama sekali? Apa yang kalian bicarakan."


"Ini hanyalah obrolan orang tua," ucap Bu Mira.


Alex mendekat saat Dafina kembali duduk di sampingnya.


"Hei, apa Mami bicara aneh-aneh padamu?" bisik lelaki itu. Bu Mira bisa mendengar jelas ucapan Alex, tetapi dia memilih diam tak mempedulikan.


"Ibumu Bilang kalau beliau sangat merestui hubungan kita. Bukankah begitu, Bu Mira?"


"Hmmm." Bu Mira mengangguk.


Wajah Alex terlihat senang. Tampak rona kebahagiaan perlahan muncul di pipinya. "Sudah kubilang apa, ibuku pasti merestui hubungan kita berdua, Miss. Terima kasih, Mam."


Alex langsung bergeser memeluk ibunya di seberang meja. Dia tidak tahu saja bahwa setelah ini Bu Mira akan menyuruh Dafina untuk menjauhi putranya.


Setelah dipikir-pikir sepertinya Dafina tidak cocok dengan Alex. Bagimana pun juga kepribadian mereka sangat berbeda.


Bu Mira tidak mau Alex menyesal di kemudian hari karena telah memilih perawan tua seperti Dafina.

__ADS_1


__ADS_2