PESONA PELAKOR LIAR

PESONA PELAKOR LIAR
Setan


__ADS_3

"Ren, cepetan ke sini,! Aku lagi ada masalah. Cepet dateng, please!"


"Hah, iya udah buruan gak pake lama!


Panggilan itu Alex akhiri. Setelah itu dia tampak mengetikan sesuatu dan membuang ponselnya ke atas kasur.


"Gimana ini, apa yang harus aku lakuin setelah ini?" Pikiran Alex campur aduk. Andai isi otaknya itu bisa digambarkan mungkin pecel dan urab tidak lebih campur aduk dari pikirannya saat ini.


Alex membanting tubuhnya ke atas kasur selagi menunggu sahabatnya datang. Di saat seperti ini tak ada yang bisa dia ajak ngobrol kecuali lelaki itu. Alex benar-benar butuh saran atas masalah yang menimpa dirinya dan juga Dafina.


"Apa karena dia merasa aku nggak pantes , makanya dia nggak mau sama aku?" Alex berguling ke sisi kiri.


Di saat hatinya tidak jelas ia malah diperlihatkan foto dirinya dan Sisca yang tengah berpelukan mesra.


"Ya elah! Ngapa masi di sini si fotonya?" Alex langsung mengambil bingkai foto dari atas nakas. Lalu membuangnya ke tempat sampah dengan gestur masa bodo.


Sekarang otaknya benar-benar lagi semrawut. Melihat ada sosok Sisca jelas hanya akan menambah beban pikirannya makin tidak karuan.

__ADS_1


"Bisa-bisanya gue dapet aku dapet masalah segambreng dalam satu waktu!" Alex melirik ke arah dinding. Ia makin emosi saat melihah foto preweeding dirinya dengan Sisca tergantung sempurna.


"Ya salaam! Masih ada lagi ternyata!" Seperti orang sibuk, Alex buru-buru mencopot foto besar itu lalu membuangnya ke tempat sampah besar yang ada di luar apartemen.


Baru saja Alex hendak masuk ke kamar, pandangannya terusik kembali saat melihat foto ia dan Sisca di ruang tamu.


"Jadi ada berapa banyak foto si sebenernya?" Alex mengambil bingkai foto itu lalu membuangnya ke tempat sampah yang ada di dapur.


"Mana lagi nih fotonya? Di kulkas ada nggak?" Alex benar-benar membuka pintu kulkas itu. Tapi yang ia temukan hanyalan minuman dingin dan sepiring roti basi.


Alex menutup pintunya lagi tanpa peduli.


Inilah yang membuat Alex merasa terganggu begitu melihat foto Sisca. Terus terang saja dia menyalahkan Sisca atas semua yang terjadi pada dirinya tadi malam.


Setengah jam kemudian.


Lelaki itu sudah belingsatan tidak jelas karena sahabatnya tak kunjung datang. Dia sudah banyak melakukan hal tidak berguna selama menunggu—contohnya mencari jejak-jejak Sisca dan membuangnya sesegera mungkin.

__ADS_1


"Ini si Reyno mana lagi! Naik apaan si dia? Keong?" Alex mencari ponselnya dengan niat menghubungi Reyno kembali. Namun, ia baru ingat ponsel itu ia lempar ke atas tempat tidur.


Lelaki itu buru-buru mengambil ponselnya. "Eh, setaann!"


Alex langsung membuang ponsel itu saat melihat foto Sisca masih terpajang sebagai foto profil. Kenapa di saat seperti ini harus ada Sisca di mana-mana. Lelaki itu menjenggut rambutnya kasar. Ia melirik kaca. Tampak wajahnya yang kacau dan jauh dari kata berseri-seri.


Suara bell di luar sana berbunyi. Alex yang semula nyaris gila langsung sumringah begitu mendengarnya.


"Itu pasti si Monyeet!" Lelaki itu gagas membuka pintu, tapi kedua bola matanya dibuat membola saat melihat ada dua ondol-ondol kembar di depannya.


"Ngapain lo bawa anak, Seeeetan?" Suara Alex sengaja dibuat melirih pada kata setan. Dia benar-benar tak habis pikir pada sahabatnya yang tidak bisa diandalkan ini.


"Kalo nggak bawa anak nggak bakalan boleh ke sini," bisik Reyno. "Sebentar lagi mereka tidur, kalo kamu bantuin aku kita bisa secepatnya ngobrol."


"Ya Tuhan!" Alex menepuk jidatnya. Ia terpaksa senyum melihat dua mata polos itu terus memandangnya.


"Beliin mereka jajanan dulu biar diem!" Dengan tidak tahu dirinya Reyno mengulurkan selembar uang seratus ribu kepada Alex begitu mereka masuk.

__ADS_1


"Lo nyuruh gue?" Alex tercengang tak percaya. Ia sedang butuh bantuan tetapi malah dijadikan pembantu secara dadakan.


__ADS_2