
Dafina menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Ia baru saja selesai membaca skripsi Alex yang isinya jelas jauh dari kata pertimbangan.
"Bagaimana mau lulus jika kamu tidak mau berusaha, Alex? Nulis skripsi saja dibantu tangan orang lain, dasar bocah," gumam Dafina.
Bayangan wajah gugup Alex saat di mobil tadi tiba-tiba melintas begitu saja.
Dia kemudiam tersenyum saat menyentuh bibirnya dengan ujung jari. Akhirnya Dafina bisa merasakan apa yang selama ini ingin sekali ia rasakan. Dafina sangat senang, tetapi bagian sudut hatinya yang lain merasa sedih dan miris.
Dafina menarik napas panjang. Kelopak matanya berkedip seraya memandangi langit-langit.
"Tuhan, sejujurnya aku juga tidak ingin menjadi wanita menjijikan seperti ini. Jika ada karma yang bisa membuatku jera, silakan turunkan karma itu untukku," gumam Dafina sungguh-sungguh.
Matanya perlahan memejam.
Sejenak Dafina ingin melupakan keanehan yang terjadi pada dirinya. Dia malu karena harus mengejar-ngejar pria kecil yang notabene sudah memiliki kekasih pula.
Dafina berharap waktu satu bulan itu lebih dari cukup dipakai untuk mengobati rasa penasarannya terhadap Alex. Dan setelah itu dia bisa kembali menjalani kehidupan seperti biasa.
Meskipun Dafina tidak yakin bisa berhenti terobsesi pada berondong, setidaknya berondong itu bukanlah Alex. Dafina takut image-nya di kampus jadi jelek gara-gara hal ini.
*
*
*
Di apartemennya.
Alex terkekeh saat melihat sahabatnya datang sambil memasang wajah manyun.
"Manyun mulu kayak anak perawan," goda Alex.
"Susah ya, kalau tidak merepotkan teman sendiri!" ujar teman Alex yang satu itu. Dia melempar kunci dengan gerakan gemulai ke dada Alex. Lalu masuk dan berjalan menuju kulkas. Tentu saja tujuan utamanya cowok yang sedang kepanasan itu dalah mencari air dingin.
"Habis mau bagaimana, Reyn. Kamu 'kan hari ini diantar oleh supir. Jadi aku bisa minta tolong kamu bawakan mobilku dulu."
"Tapi hari ini aku banyak kerjaan tahu. Ngambil sendiri 'kan bisa?"
"Yaelah, Ren! Santai aja kali. Lama-lama kamu kayak Bokap aku. So sibuk."
"Bukan so sibuk, tapi kita emang beda kasta! Kamu duda, aku pria berkeluarga," cibirnya.
"Dih, enak aja duda! Aku perjaka tau."
"Perjaka gak guna maksudnya?" Mata Reyno memicing sinis.
__ADS_1
Alex tertawa. "Lagian kalau bisa minta tolong kenapa tidak? Bener 'kan?"
"Gitu ya?" Anak itu sudah merah padam, tapi Alex masih terus menggodanya.Lelaki itu menyilangkan kedua kakinya.
Lagi-lagi dengan gerakan gemulai yang membuat Alex heran, bisa-bisanya laki-laki yang kadang mirip bencong kaleng rombeng itu sudah punya istri dan anak. Anaknya dua pula, pikir Alex.
"Reyn ...." Alex melirih setelah beberapa saat saling terdiam.
Dari nada suaranya lelaki bernama Reyno langsung tahu kalau Alex sedang ada masalah.
"Adaapa lagi? Kalo suruh nolongin kamu lagi aku ogah!" dengkus lelaki itu penuh waspada.
"Yaelah, Reyno! Negatif thinking, an banget lu!"
"Bukannya negatif thinking, tapi muka kamu jelas menggambarkan wajah orang susah. Jadi aku sengaja nolak duluan sebelum kamu minta bantuan."
"Hmmm. Kebiasaan. Aku cuma mau minta pendapat, kok."
"Pendapat apaan?" Sorot mata Reyno dipenuhi tanda tanya. Sesekali ia mengibas-ngibaskan tangannya karena gerah.
"Kalo semisal aku kencan satu bulan sama cewek selain Sisca, itu termasuk selingkuh, bukan si?"
"Ya selingkuh dong! Itu 'kan sama aja kamu bersenang-senang sama wanita lain. Gimana si kamu. Begonya kelewatan, deh!"
Alex menarik napas kasar. Tampak frustrasi gara-gara kalimat Reyno yang satu itu.
Dua alis Reyno menukik tajam. Pandangannya yang semula santai berubah semakin menyelidik.
"Kamu gimana si, Lex? Tadi katanya semisal, kok malah terjadi beneran?"
"Belum beneran, Reyn. Baru misalkan ini ...."
"Hmmm." Lelaki itu memutar bola matanya. "Sisca tau nggak tentang chalenge itu?"
"Ya enggak dong!"
Reyno mengangguk-anggukkan kepala. Tampak berpikir sejenak, lalu bicara kembali.
"Asal kencannya nggak macem-macem si gak masalah menurut aku. Lagi pula cowok belum menikah wajar begitu."
"Jadi gak masalah, Reyn?"
"Iya," jawab Reyno. "Tapi kamu harus hati-hati. Takutnya dari yang cuma chalenge jadi kebawa hati."
"Iya sih. Tadi aku juga deg-degan banget pas ciuman."
__ADS_1
"Hei!" Reyno berteriak karena Alex tiba-tiba keceplosan. "Jadi ini misalkan apa udah terjadi si, beego?"
"Emmmm." Alex mendadak bingung harus menjawab apa. Pasalnya dia sudah terlanjur kepalang basah seperti ini.
"Sebenarnya beneran, Reyn. Tadi siang aku udah mulai mengikuti permainan cewek itu."
"Ya ampun Lex! Buat apa si mainan ngikutin permainan kayak gitu? Emang kamu nggak kasian sama Sisca? Dia pasti kecewa kalau tahu kelakuan pacaranya yang kaya garong begitu," sungut Reyno.
"Ya gimana lagi, Reyn. Ini semua demi kebaikan kita berdua. Cewek itu janji gak bakalan gangguin aku lagi kalau aku mau kencan satu bulan sama dia."
Pada akhirnya Alex berkata jujur. Dia memang sedang butuh-butuhnya teman curhat. Dan hanya Reynolah satu-satunya mahluk dewasa yang paham jika diajak cerita soal beginian.
"Emang siapa si ceweknya, hah?" Reyno melipat tangannya di depan dada.
"Miss D."
"Haaaaaah?" Jawaban lirih itu sukses membuat Reyno berteriak sekencang-kencangnya.
"Kamu gila ya, Lex? Gara-gara skripsi kamu mau j!lat dosen sendiri?"
"Siapa yang mau kayak gitu, Com? Miss D dulu yang suka. Sebenarnya dia udah lama ngejar aku. Dia bilang aku menarik."
"Jadi sampai terjadinya chalenge gila ini. Kalian sebenarnya udah ada hubungan?"
Mau tidak mau Alex mengedikkan bahunya. "Dia yang ngejar, tapi aku ogah. Miss D itu tipe wanita yang gigih. Dia bilang gak akan berhenti penasaran sampai berhasil macarin aku. Jadi beginilah hasilnya."
"Terus Sisca gimana?"
"Ya nggak gimana-gimana, Reyn! Tapi kalau dia sampai tahu pasti marah."
"Bukan marah, tapi kamu langsung diputusin." Reyno mendelik garang. Kalau istrinya sampai tahu ia berteman dengan orang macam Alex, mungkin dia tidak akan menginjakkan kakinya ke tempat Alex lagi.
Reyno berdiri.
"Mau kemana?"
"Mau pulang. Jemputan aku udah nunggu di bawah." Ia lalu menepuk bahu Alex. "Menurut aku segera akhiri chaleng gila itu sebelum kamu menikmati. Aku nggak tega liat Sisca nangis gara-gara kelakuan kamu."
"Iya, Reyn ... Iya ...."
"Dilakuin jangan iya iya doang!"
"Iya baacyot! Kamu ini lama-lama kaya Nyokap aku ya?"
"Jadi gue nyokap apa bokap"
__ADS_1
"Dua-duanya!" sungut Alex.