
Alex sudah benar-benar kesetanan. Ia rebut ponsel itu dari tangan Sisca dalam sekejap waktu.
Sisca sempat memberontak dan terjadi tarik ulur. Tetapi pemenangnya sudah jelas Alex. Tanpa membutuhkan tenaga yang banyak Alex berhasil merebut ponsel itu dari tangan Sisca.
Sesegara mungkin ia mendial nomor orang tua Sisca. Akan tetapi dua-duanya kompak tidak aktif, dan itu membuat Alex semakin marah besar.
"Ah, sialan!" Lelaki itu melempar ponselnya ke sembarang arah. Mukanya merah padam. Emosinya meletup-letup dan rasanya ingin mengunyah orang.
Sisca terus menangis. Ia tidak tega melihat reaksi Alex. Tapi mau tidak mau dia harus mengatakan itu karena di dalam perutnya sudah ada janin yang tertanam.
What? Janin?
Janin siapa itu? Apakah itu milik Alex?
Tentu saja itu bukan hasil perbuatan Alex karena selama ini mereka berpacaran secara sehat.
Mentok-mentok kejahatan yang Alex lakukan adalah ciuman sambil meraba isi beha. Hanya itu saja, dan itu juga kadang membuat Alex merasa bersalah kepada sang pencipta.
Ya, selama ini Sisca selingkuh dengan pemuda Bogor. Setiap kali Sisca mengatakan pulang ke rumah orang tua pada hari Sabtu dan Minggu, sebenarnya dia sekalian pergi menemui lelaki itu. Mereka kencan diam-diam hingga tak terasa sudah setengah tahun melakukannya.
Sisca tidak pernah menyangka bahwa kegiatan selingkuh itu berhasil menghadirkan nyawa di perutnya. Rasanya Sisca juga ingin mati saat mengetahui dirinya hamil. Padahal dengan pria itu Sisca hanya berniat main-main.
"Kenapa nggak diangkat? Mereka sengaja ngehindar dari kita?" murka Alex kesal.
"Jangan pikir aku nggak bisa nekat ke sana ya, Sis! Kalo mereka tetep nekat jodohin kamu. Aku bakalan laporin mereka ke polisi dengan tuduhan pemaksaan!" Nada mengancam keluar dari bibir Alex. Sisca semakin tidak tega melihat kekalutan kekasihnya itu.
"Stop Al ... Stop!" teriak gadis itu. "Berhenti membuang-buang waktu dengan hal yang tidak penting," ujarnya.
"Nggak penting gimana, Sis? Kamu ini masa depan aku! Dan aku lagi berjuang buat mempertahankan masa depan yang kita impikan. Laki-laki bego mana yang cuma tinggal diam liat pacarnya mau dijodohin?" makinya.
__ADS_1
Dia menjambak rambutnya penuh emosi. "Memangnya aku mereka orang tua kamu yang gak dewasa? Baru ditelpon aja langsung menghindar. Pura-pura gak aktif nomor keduanya!"
"Jangan hina orang tuaku, Al. Mereka nggak salah. Orang tuaku nggak angkat panggilan kamu karena sibuk. Mungkin saja mereka berdua sedang bertemu dengan laki-laki itu buat nentuin tanggal pernikahan!"
"Gila! Ini bener-bener gila!" Alex menonjok tembok saking kesalnya. Hal yang lebih membuatnya kesal lagi adalah Sisca. Mendadak Sikap wanita itu menjadi aneh dan sulit ditebak.
"Kenapa si kamu malah berpihak sama cowok itu bukannya aku? Memangnya kamu nggak kasian sama aku?" Alex benar-benar tak mengenali Sisca yang saat ini. Dia seperti bukan Sisca yang Alex kenal.
"Justru karena aku kasihan! Makanya aku pengin kamu dapetin yang lebih baik dari aku!" ujar Sisca penuh tekad.
"Alaaah, banyak bacoot kamu!" Alex kemudian berbalik badan.
"Besok aku ke sini lagi. Aku harap kamu renungin semua sifat jelek kamu yang satu itu. Jangan lupa Sis, kita itu udah empat tahun pacaran. Itu bukan waktu yang sebentar!"
Setelah mengatakan itu, Alex pergi dari kos-kosan Sisca. Ternyata di depan sudah kumpul banyak orang. Mereka semua siaga melerai, takut bila mana Alex menggunakan kekerasan.
-
-
-
Alex kembali ke apartemennya dengan wajah hampa. Dia terkejut saat melihat Dafina sudah bangun dan sedang memasak di dapur, tapi Alex memilih diam karena moodnya sedang hancur.
Dafina yang peka langsung menyusul Alex. Dia duduk di hadapan Alex sambil memandangi lelaki itu.
Bajunya berantakan. Wajahnya kusut dan matanya sembab seperti habis menangis.
"Kamu sedang ada masalah?" tanya Dafina berusah menginterogasi. Alex menggeleng samar, berusaha menutupi itu tapi Dafina jauh lebih peka.
__ADS_1
"Katakanlah, aku siap menjadi teman curhatmu bila perlu," ujar Dafina. Dari muka lelaki itu Dafina langsung menebak, kalau Alex pasti sedang ada masalah soal cinta.
"Apa ini ada hubungannya denganku? Apa Sisca tahu kalau aku dan kamu---"
"Bukan! Semua ini tidak ada hubungannya sama Miss!" Alex memotong pembicaraan itu sebelum Dafina berpikir yang tidak-tidak.
"Aku putus sama Sisca, Miss!"
"Putus?" Dafina menajamkan pendengaran. Tapi anggukan kepala Alex mengonfirmasi ulang pertanyaan Dafina.
"Putus kenapa Alex? Bukannya hubungan kalian selama ini selalu baik-baik saja?"
"Justru karena hubunganku dengan Sisca baik-baik saja, Miss. Aku jadi seperti kehilangan arah saat Sisca mengucapkan kata itu."
"Tenang dulu Alex. Kamu harus menyelesaikan masalah itu dengan kepala dingin." Dafina beralih tempat duduk tepatnya di samping Alex.
"Jika kamu butuh pelukan kamu boleh peluk aku."
Tanpa menunggu lama Alex langsung menarik Dafina ke dalam pelukannya. Lelaki itu menangis seperti bocah tak tahu malu di hadapan Dafina.
Layaknya seorang ibu, Dafina berusaha membuat hati Alex tenang dengan cara semampunya. Perlahan tangin Alex mereda. Pikirannya yang gelap juga berangsur-angsur pulih.
"Miss, sepertinya aku menemukan kejanggalan."
"Kejanggalan bagaimana?" Dafina bahkan belum tahu permasalahan putusnya Alex dengan Sisca apa.
"Aku merasa Sisca bohong!"
"Bohong, bohong gimana maksud kamu?"
__ADS_1