Pewaris Dewa Kematian

Pewaris Dewa Kematian
Prolog : Beberapa Saat Sebelum Menjadi Dewa


__ADS_3

Yo! Perkenalkan, namaku Ray, Ray Harris. Aku lahir tanggal 7 Juli 2007 di Bali, dan saat ini aku dan keluarga masih tinggal di Bali. Saat ini usiaku 17 tahun, baru masuk kelas 12.


Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara. Aku merupakan putra dari ayah dan ibuku, dan kakak dari adikku.


Selama aku hidup, hari-hariku terasa cukup menyenangkan. Sampai suatu malam yang aku lupa kapan tepatnya itu, semuanya berubah menjadi lebih menarik.


Kita mulai saja kisahnya dari beberapa saat sebelum awal kejadiannya.


*******


"Ray!! Bangun!!" teriak suara yang sangat kukenal dari lantai bawah rumahku. Kalian juga pasti tahu, kan? Yap! Dia adalah ibuku.


Sebenarnya saat itu aku sudah cukup lama terbangun. Tapi aku masih benar-benar mau berbaring, alias malas untuk bangun. Aku pun hanya berbaring melihat ke atap kamarku sambil bernapas dan mengedipkan mata tiga detik sekali.


Beberapa detik setelah panggilan dari ibuku tadi,


BRUKK.


Tiba-tiba adikku mendobrak pintu kamarku dengan tendangan supernya.


"Heh? Apa itu?" gumamku yang masih berbaring seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Yah karena aku sudah terbiasa mengalami kejutan itu, aku tetap berbaring melihat atap kamarku.


"Kakak bangun!!" teriak adikku dengan suara manisnya sambil melompat ke arah perutku.


"Aaagh!!!" Aku pun menjerit kesakitan. Dari semua kebiasaan adikku yang aku sudah terbiasa. Hanya ini yang aku belum terbiasa.


"Hehehe ...," tawa adikku seakan-akan tak bersalah.


"Mia ... sudah berapa kali kakak bilang jangan melakukan itu lagi?!" ucapku kesal sambil menahan rasa sakit di perutku.


"Hehe, Mia minta maaf yah." Adikku tersenyum dan menunjukkan wajahnya yang imut. Keimutan adikku itu pun melelehkan kekesalanku tadi. Aku pun membalas senyumannya itu.


Setelah itu, aku dan Mia keluar dari kamarku. Sebelum keluar aku mengambil handuk yang tertimpa pintu kamarku yang sudah roboh ditendang raksasa kecil.


Lalu, aku dan Mia mandi untuk bersiap ke sekolah. Kamar mandi di rumahku ada dua, jadi kami bisa mandi di waktu yang sama.


Meskipun mulai di waktu yang sama, tapi adikku selesai lebih dulu dibanding diriku. Di ruangan yang kusebut dengan nama bilik renung itu, aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk bernapas dibanding membasuh diri.


Yah ... untungnya karena saat itu masih sangat pagi, jadi aku tidak perlu khawatir terlambat ke sekolah. Dan selama ini aku juga tidak pernah khawatir dengan hal itu.


Setelah hampir setengah jam, aku pun keluar.


"Kakak kenapa lama sekali mandinya?" tanya Mia.


"Kakak hanya melakukan hal yang sangat penting dalam hidup." Aku berjalan ke atas, ke arah kamarku.


"Apa itu?" tanya Mia lagi yang heran dengan jawabanku.


"Bernapas," jawabku sambil menaiki tangga yang sudah berkembang biak, sehingga menjadi beberapa anak tangga.

__ADS_1


"Em?" gumam adikku yang masih heran dengan sepotong roti di mulutnya.


Setelah memakai baju, aku turun ke bawah. Saat aku turun, Mia dan ayahku sudah berada di halaman rumah.


"Ibu, Kakak, aku pergi ya." Mia melambaikan tangannya.


"Ray, jangan sampai terlambat ya!" ucap ayahku memperingatkanku.


"Iya," jawabku sambil tersenyum.


Lalu, Mia pergi ke sekolahnya dengan diantar ayahku menggunakan motor. Adikku diantar karena sekolahnya searah dengan kantor tempat ayahku bekerja. Selain itu, ada alasan yang lebih penting, jarak sekolah adikku cukup jauh.


Setelah itu aku berjalan ke meja makan untuk menyantap sarapan, aku mengambil tas sekolah dan berjalan ke arah pintu depan rumahku.


"Bu, aku pergi ya." Aku membuka pintu.


"Ya, hati-hati!" ucap ibuku.


Aku bersekolah di SMA Citra Bangsa, sekitar 600 meter dari rumahku. Belum setengah perjalanan, alarm sekolahku sudah berdering dan terdengar sampai ke telingaku.


Hari ini, adalah hari pertama sekolah semester 1. Jadi berapa menit pun aku terlambat, selama belum sampai satu jam, aku tidak akan dihukum. Begitulah pikirku.


Dan benar saja, aku tidak dihukum. Bahkan, upacara pun masih belum dimulai.


*****


"Wahh Ray, kita sekelas lagi." seseorang merangkulku dari belakang. Dia adalah orang yang mengaku-ngaku sebagai teman akrabku dari kecil, hanya karena kami sering mengobrol, bermain, dan menghabiskan waktu bersama.


"Siapa kau?" kataku yang pura-pura tidak tahu, agar dia menjauhiku.


"Ehh?! Masa baru libur beberapa minggu kau sudah amnesia, sih?" ucapnya.


'Dia salah arti,' kataku dalam hati.


"Aku ini Ashley, Ashley Shiraz." Pria itu memperkenalkan dirinya dengan senyum yang lebar.


"Oh," kataku.


Setelah itu dia menarikku ke kelas kami.


*****


Beberapa menit setelah kami masuk ke kelas, seorang guru wanita yang mungkin adalah wali kelas kami, masuk ke dalam kelas kami. Selama di kelas, kami hanya memperkenalkan diri, yang sebenarnya hal itu tidak terlalu diperlukan. Karena dari tahun-tahun sebelumnya, mayoritas dari kami sudah saling mengenal. Dan setelah memperkenalkan diri, kami pun memilih pengurus kelas.


Saat istirahat, semua orang di kelasku keluar kecuali aku, Ashley, dan seorang wanita yang merupakan teman sekelasku. Wanita itu berjalan ke arahku dan Ashley yang sebangku denganku.


"Woi Ray, saat upacara tadi kau terlambat, kan?" kata wanita itu.


"Kau itu sudah kelas 12, kau harus memberi contoh pada adik kelas kita! Apalagi kau itu adalah murid terpintar seantero sekolah!" wanita itu marah-marah padaku.

__ADS_1


Oh ya, perkenalkan. Wanita ini adalah Clarissa Endora. Ketua kelas, Ketua OSIS, dan Ketua ekskul ikan koi di sekolahku.


Dia mendapatkan julukan Ratu Koi dari anggota ekskulnya. Entah kenapa dia merasa sangat terhormat dijuluki seperti itu.


"Oi, Ray! Kau mendengarku tidak?!" teriaknya. Ashley pun berusaha untuk menenangkannya.


Hanya dengan Risa, begitulah panggilan Clarissa. Prinsipku yang berbunyi, "Semakin banyak kau diam, semalin sedikit pula masalah yang timbul," tidak berlaku.


Meskipun Risa terus menerus marah-marah padaku, tapi aku tidak sekalipun membalas ucapannya.


*****


Setelah alarm pulang sekolah berbunyi, aku pun pulang. Dan aku bersama Ashley berjalan pulang bersama, karena rumah Ashley hanya berjarak 4 rumah dari rumahku.


"Dah, Ray!" ucap Ashley melambaikan tangan ke arahku sambil terus berjalan. Aku pun hanya mengangkat tangan kananku untuk merespon lambaian tangannya.


Setelah masuk rumah, aku langsung berjalan dan menaiki tangga untuk masuk ke kamarku.


"Ray, kau tidak makan?" tanya ibuku.


"Tidak sekarang," jawabku.


"Ehh, dasar Kakak!" gumam Mia yang sudah pulang. Ia merasa kesal padaku, mungkin karena aku tidak menemaninya makan, siang itu.


Setelah masuk ke kamar, aku segera mengganti pakaian dan menjatuhkan badanku ke kasur. Saat itu setengah dua siang, jadi aku pun tidur siang.


Dua jam kemudian aku bangun, aku langsung pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukaku dengan air. Lalu, aku masuk lagi ke kamar dan duduk di kasurku.


Di sana, aku melakukan hobiku.


BERNAPAS.


Sampai beberapa menit kemudian, seseorang mengetuk pintu kamarku dan berkata, "Ray, aku mas-" tiba-tiba pintu kamarku roboh


NGEET, BRUK.


"E?" ternyata orang itu adalah Ashley. Ia tampak terkejut dan hanya mengedipkan mata beberapa kali.


"Adikmu lagi?" tanyanya sambil menunjuk pintu itu.


Saat kami pulang sekolah Ashley selalu datang ke rumahku untuk bermain video game. Tapi hari ini dia datang sore hari. Kami pun bermain sampai senja.


Hari-hari yang menyenangkan dalam hidupku selalu terjadi. Sampai malam itu ... suatu hal yang merepotkan pun terjadi.


AKU ...


MENJADI ...


DEWA.

__ADS_1


__ADS_2