Pewaris Dewa Kematian

Pewaris Dewa Kematian
Dungeon


__ADS_3

Sebelumnya, aku bertarung dengan prajurit-prajurit yang menjaga halaman Istana Air. Dan dengan kekuatan dan kecerdasanku ini, aku pun berhasil mengalahkan mereka semua.


*****


"Huhh. Merepotkan," gumamku sambil membuang napas berat karena kelelahan.


"Wahh tak kusangka kau bisa menggunakan otakmu saat bertarung," ujar Nishide yang membuatku sedikit kesal.


"Aku sangka yang bisa kau lakukan hanya bernapas saja," ejeknya.


"Berisik," batinku.


"Hahhahahah ...," tawa Nishide dengan sangat keras.


"Tunggu. Kurasa tadi prajurit yang masih bertahan sejak aku mengeluarkan jurus tebasan tiga ratus enam puluh ada empat orang. Tapi yang kulawan hanya ... dua orang," gumamku.


"Berarti dua orang lagi ...," pikirku sambil melihat ke arah pintu masuk istana yang terbuka.


"Sudah melaporkan apa yang terjadi kepada prajurit lainnya," ujar Nishide yang tahu apa yang kupikirkan.


"Cih. Sudah kuduga ini memang merepotkan," gumamku.


"Jadi, apa rencanamu?" tanya Nishide padaku.


Aku lalu melihat ke arah salah satu prajurit yang sudah kukalahkan tadi. Dan dengan saraf otakku yang sisa oksigennya masih cukup banyak ini, aku berhasil mendapatkan ide.


Aku langsung mengambil seragam dari prajurit itu lalu memakainya di tubuhku. Dan aku juga memakaikan jubah abu-abuku ke tubuh prajurit itu. Setelah itu, aku langsung melempar tubuh prajurit tadi ke luar pagar istana.


"Heheh. Bagaimana?" tanyaku pada Nishide dengan sedikit terkekeh setelah memakai seragam prajurit Kerajaan Air itu.


"Heh. Tak kusangka otak napas sepertimu juga bisa membuat ide cemerleang. Kusangka kau bisanya cuma napas doang," ujar Nishide.


"Yah, dengan bernapas berarti kau masih bisa berpikir. Coba jika kau tidak bisa bernapas lagi, maka kau tidak akan bisa berpikir. Percayalah," batinku.


"Terserah, sekarang cepat masuk ke dalam istana itu!" tegas Nishide.


"Tunggu. Bagaimana kalau aku terbang saja dan menembus dinding-dinding istana itu?" tanyaku dalam hati.


"Kau tidak akan bisa menembusnya. Seisu sudah membuat dinding-dinding itu tidak bisa aku ataupun kau tembus dengan jurus airnya," jelas Nishide.


"Kau harus memasuki istana itu layaknya makhluk biasa," sambung Nishide dengan suara pelan.


"Cih. Benar-benar merepotkan." Aku pun langsung melesat untuk memasuki pintu istana yang sudah terbuka lebar.


Lalu saat aku memasuki istana itu, aku lansung terkejut. Karena baru memasuki pintu utamanya saja, istana sudah tidak terlihat seperti istana lagi. Dindingnya memang dilapisi berlian yang berkilau, namun entah kenapa saat kau melihat ke depan semuanya terlihat gelap.


"Ini bukan istana ... ini dungeon," batinku merinding.


"Ray, fokus!" tegas Nishide.


"Ya." Aku melangkahkan satu kakiku ke depan.

__ADS_1


Namun, aku mendegar langkah kaki orang-orang yang berlari berderap kencang sedang bergerak ke arahku.


"Hah? Sial. Apa yang harus kulakukan?" tanyaku panik.


"Ray, ke atas!" lantang Nishide memberiku pentunjuk agar tidak ketahuan oleh orang-orang yang mungkin adalah prajurit Kerajaan Air.


"Benar," gumamku sambil terbang ke atas dan bergelantungan di atap istana itu.


Akhirnya, prajurit-prajurit itu pun keluar dari dalam istana tanpa menyadari keberadaanku.


"Ray, kau harus fokus! Kenapa kau jadi sangat cemas tadi?!" tanya Nishide yang terdengar kesal sekaligus khawatir denganku.


"Ingat, bernapaslah. Agar kau dapat terus berpikir. Bukankah itu yang kau katakan tadi?!" sambung Nishide.


"Yah, bicara memang mudah. Tapi rasanya sangat sullit mendapat oksigen di dalam sini," balasku.


"Huhh. Cepat lanjutkan," suruh Nishide pelan.


"Iya," jawabku lesu.


Aku pun terbang untuk lebih memasuki bagian dalam istana ini. Semakin jauh aku memasukinya, rasanya kadar oksigen semakin tipis, dan suasananya semakin mencekam. Istana ini benar-benar sebuah dungeon.


Tiba-tiba, muncul cahaya terang di dekatku. Ternyata itu adalah cahaya dari buku target.


"Yang benar saja! Kenapa harus di saat seperti ini?!" tanyaku dalam hati dengan nada kesal.


Lalu sekilas aku melihat sinar hijau yang agak kecil yang merupakan tanda lokasi dari targetku.


"Entahlah, coba saja cek dulu. Dan tuntaskan dengan cepat," jawab Nishide pelan.


"Ya." Dengan cepat, aku pun terbang melewati beberapa prajurit yang sepertinya sedang berlari keluar dari istana untuk melihat masalah yang tadi kubuat di halaman istana.


Setelah beberapa menit aku mencari sumber sinar hijau itu. Akhirnya aku pun berhasil menemukan target misiku yang ternyata adalah seorang prajurit Kerajaan Air. Dan saat ini dia sedang berjaga di sebuah lorong istana bersama dengan 7 prajurit lainnya. Mungkin dia ditugaskan untuk berjaga siapa tahu penyusup di halaman istana tadi sudah masuk ke dalam istana.


Yah, itu benar. Karena penyusupnya adalah diriku. Tapi kurasa tidak pantas disebut "penyusup" jika baru sampai ke halaman saja udah barbar.


"Ahh, sial. Ini akan sangat merepotkan," batinku sambil terus memperhatikan targetku.


"Hanya untuk mencabut nyawa satu orang, aku harus menghadapi tujuh orang lainnya. Yang benar saja," batinku lagi.


"Padahal nanti kita bisa memanfaatkan perubahan orang itu menjadi iblis untuk mengalahkan prajurit-prajurit itu," sambungku.


"Hoi, Ray!" bentak Nishide.


"Bagaimanapun juga, musuh utama kita adalah para-" ucapan Nishide langsung kupotong.


"Iya-iya, aku tahu," potongku.


"Apa yang kukatakan tadi itu adalah contoh jika target pertamaku menjadi dewa, bukanlah orang yang berharga bagiku," sambungku.


"Hemh. Kalau begitu cepat tuntaskan!" tegas Nishide.

__ADS_1


"Lagi pula aku sudah menguasai jurus yang bisa menuntaskan hal ini," pikirku dengan tidak menggubris ucapan Nishide tadi.


"Energi jiwa. Laser jiwa." Aku mengeluarkan jurus yang membuat mataku mengeluarkan sinar laser.


Dan aku sudah mengarahkan mataku agar menembakkan laser ini tepat ke arah jantung targetku. Dan alhasil, misiku pun tuntas.


BRUKKK.


Jasad dari prajurit itu jatuh sehingga membuat prajurit lainnya langsung melihat ke arah targetku itu.


"Hah? Hoi, kau kenapa?" tanya salah seorang prajurit dengan panik.


"Dia sudah ...."


Prajurit-prajurit itu pun langsung menghadap ke arahku yang berada di atap. Namun tepat saat mereka membelokkan badan, aku langsung melesat maju dan melewati mereka semua.


"Hehehe. Maaf, yah."


"Lumayan hebat," ujar Nishide


Setelah menjauh dari mereka, aku langsung fokus dengan tujuan utamaku saat datang kemari. Mengalahkan Dewa Seisu dan menyelamatkan Risa. Lalu, meminta tolong pada Dewa Seisu. Hehehe


"Nishide, apa kau bisa menebak di mana Dewa Seisu saat ini?" tanyaku dalam hati.


"Kurasa aku tahu. Biasanya saat ini Seisu sedang berada di dalam ruangan raja, atau ruangannya sendiri," jawab Nishide.


"Bagus. Tapi, di mana itu?" tanyaku lagi.


"Dari sini belok kanan," jawab Nishide.


Setelah banyak belok-belok. Nishide pun berkata, "Di depan sana, akan ada perempatan. Nah, kau lurus saja."


"Di depan sana ...."


Aku terus melihat ke depan.


"Di sana ada sinar biru," gumamku.


"Padahal seluruh dinding istana ini dilapisi atau bahkan memang terbuat dari berlian. Tapi entah kenapa aku baru melihat dua cahaya di sini," batinku.


"Yah, sebenarnya aku memang melihat dengan terang. Namun perasaanku mengatakan bahwa semuanya gelap," batinku lagi.


"Hem ...," gumam Nishide.


"Fokuslah dengan apa yang ada di depanmu," suruh Nishide pelan.


"Iya-iya," jawabku lesu.


TSIIIINGGGG.


"Hah?" gumamku terkejut.

__ADS_1


***


__ADS_2