Pewaris Dewa Kematian

Pewaris Dewa Kematian
"Kau adalah Pewarisku!"


__ADS_3

Sebelumnya, Nishide yang dikalahkan oleh Hozai dengan jurus panah cahaya hitamnya. Hozai lalu meledakkan jurusnya untuk membuat tubuh Nishide hancur.


*****


Hozai masih merasa tidak yakin bahwa Nishide benar-benar telah hancur. Sehingga ia memutuskan untuk terbang ke arah jurus yang ia ledakkan tadi.


Sesampainya di sana Hozai melihat-lihat kondisinya sejenak. Dan ia tidak menemukan sedikitpun jejak kehidupan dari Nishide.


'Hemh, spertinya dia memang sudah hancur.' Hozai lalu pergi dari sana dengan kecepatan cahaya.


Beberapa saat setelah Hozai pergi, cahaya berwarna hijau muncul dari tempat Hozai menghancurkan Nishide. Cahaya itu berukuran seperti bola tenis.


Cahaya itu kemudian turun kebawah, seperti terjatuh ke permukaan tanah. Beberapa saat kemudian, cahaya itu menembus atap sebuah rumah yang ternyata adalah rumahnya Ray. Dan akhirnya, cahaya itu masuk ke dalam tubuh Ray yang sedang tidur nyenyak.


*****


Keesokan hari. Pukul 05.56


"Hmm ... hahhh." Ray mengehela napas saat baru bangun dari tidurnya.


Saat bangun, ia hanya membuka mata dan melihat ke atap kamarnya.


12 menit kemudian.


POV Ray.


"Ray! Bangun!!" teriak ibuku membangunkanku. Aku pun duduk sebentar, dan kemudian aku berjalan keluar dari kamar.


Sebelum itu, aku harus membuka pintu kamarku yang hanya ku senderkan di tempat asalnya. Ketika aku baru sedikit menggeser pintu itu, tiba-tiba kaki gaib muncul dari luar dan menendang kemaluanku.


"Ekh," ucapku sambil menahan rasa sakit. Aku pun terjatuh dan peganganlu terhadap pintu tadi terlepas. Akhirnya, pintu itu juga menimpaku.


"MIIIAAAA!!!!" teriakku yang sedang sangat marah pada Mia.


"Eh? Udah bangun ya." Entah bagaimana ekspresi Mia saat itu, karena pandanganlu tertutup pintu yang menimpaku.


Aku lalu menggeser pintu itu dan langsung melompat untuk menghampiri Mia.


"Miiiaa!!" ucapku yang kesal.


"Eh?" gumamku yang baru menyadari Mia sudah tidak ada di sana.


"Iibuu! Ada monster di kamar kakak!" teriak Mia meledekku.


"Heheh," aku hanya tertawa terpakasa.


Beberapa saat kemudian aku turun ke bawah untuk mandi.


"Hemh? Apaan ni?" gumamku yang melihat ada sesuatu yang bersinar dari area jantungku.


"Huhh, ternyata terlalu banyak main game bisa membuat ilusi, yah." Aku tidak terlalu mengkhawatirkan hal itu.


Setelah mandi, aku ke kamar untuk memakai baju. Ayah dan adikku sudah pergi duluan. Setelah memakai baju, aku turun lagi untuk sarapan.


"Malam yang aneh terjadi di Bali," kata seorang pembawa berita di televisi.


"Hemh?" aku sedikit tertarik dengan berita itu sambil mengunyah roti di mulutku..


"Dimulai dari penampakan aurora, cahaya terang yang menyinari langit Bali, dan ditutup dengan kegelapan yang menutupi sinar bulan.


"Apa?" gumamku terkejut.


"Apa kau melihatnya semalam, Ray?" tanya ibuku.


"Eh .. ya, auroranya," jawabku.


"Ohh, kalau Ibu sih, tidak." ujar ibuku sambil mencuci piring.


"Jika aurora yang kulihat itu bukan ilusi, maka ...," pikirku sambil memegang dan memperhatikan jantungku.


"Ray! Pergi bareng yuk!" panggil seseorang yang kurasa adalah Ashley yang merusak pikiranku tadi.


"Ray, Ashley manggil, tuh." Ibuku berjalan ke arah pintu depan.


"Iiya." Aku mengambil tas dan berjalan ke pintu depan.


Di teras rumahku.


"Hihihi." Ashley tersenyum.


"Tante." Ashley sedikit merundukkan kepalanya untuk menghormati ibuku. Ibuku hanya membalasnya dengam senyuman.

__ADS_1


"Bu, aku pergi ya." Aku pamit pada ibu.


"Ya, hati-hati," balas ibuku.


"Tante, kami pergi ya," ucap Ashley.


"Tante titip Ray, yah." Ibuku melambaikan tangan.


"Siap Tante." Ashley mengacungkan tangannya ke dahi yang menunjukkan dia sedang hormat pada ibuku.


"Cih," gumamku.


***


Di perjalanan.


"Hey, Ray. Kau semalam lihat nggak, fenomena aneh itu?" tanya Ashley.


"Dari dulu aku juga sudah lihat fenomena aneh," ujarku.


"Apa tu?" tanya Ashley lagi.


"Ibu, Mia, Kau, dan terakhir Risa," kataku.


"Wahh, jadi kami adalah keajaiban bagimu, yah." Ashley tersipu.


"Lebih tepatnya keanehan," jawabku.


"Hehehe." Ashley menggaruk-garuk kepalanya.


*****


Di sekolah, jam istirahat.


Seperti biasa, aku hanya berada di dalam kelas. Semua orang yang kulihat, hanya membicarakan tentang fenomena yang terjadi tadi malam.


Aku tidak ingin membahas soal itu dengan mereka, lagi pula aku memang tidak ingin berbicara terlalu banyak. Aku hanya selalu teringat dengan jantungku yang bersinar tadi pagi.


Tiba-tiba, jantungku terasa sangat sakit.


"Eegh," gumamku sambil memegang dadaku.


"Yah, aku hanya kebelet." Aku pun pergi dari kelas menuju ke wc.


Sebelum aku keluar, aku mendengar Risa bertanya pada Ashley.


"Dia kenapa?" tanyanya.


"Kebelet katanya," jawab Ashley.


"Aneh," kata Risa.


"Oi oi. Aku mendengarmu, loh." Aku pun keluar dari kelas menuju ke wc.


Di perjalanan ke sana, aku terus memegang dadaku. Aku mengintip dengan sedikit melepaskam penganganku.


"Cahaya itu lagi," batinku.


Sesampainya di wc, aku langsung masuk ke toilet dan membuka seragamku. Aku lalu memukul dadaku sekuat tenaga.


"Ekh!" aku dadaku terasa lebih sakit. Tapi, cahaya itu perlahan-lahan meredup dan selain suaraku tadi, ada suara lain yang keluar dari area jantungku.


"Aaa aaa aaaah," suara itu terdengar sangat jelas.


"Hoi, kau baik-baik saja?" tanya dua orang di luar toilet itu.


"Y-ya, ta*kku sangat keras, jadi sulit mengeluarkannya." Aku menahan rasa sakit itu.


"Ihh ... jorok amat," ucap mereka.


Tiba-tiba, kepalaku terasa seperti tersetrum dengan aliran listrik yang sangat kuat.


"Aaagh!!" jeritku.


*****


"Di mana ini?" tiba-tiba aku berada di tempat yang sangat gelap. Sampai akhirnya, aku melihat sinar terang berwarna hijau, mirp dengan yang kulihat keluar dari dadaku.


Aku berjalan ke arah sinar itu.


"Yo, Ray Harris." Terdengar suara misterius yang menyapaku.

__ADS_1


"Siapa kau? Di mana kau? Dan yang terpenting, di mana kita?" tanyaku.


"Heheheh. Perkenalkan, Nak. Aku adalah Nishide, Sang Dewa Kematian," jawab si misterius itu.


"Hah? Dewa ... Kematian?!" aku terkejut, mengira bahwa aku sudah mati.


"Ohh, jadi aku sudah mati yah." Aku langsung kembali tenang.


"Hahahahahah, uhuk-uhuk" tawa Dewa itu sebekum ia terbatuk dan menghentikan tawanya.


"Kau belum mati, saat ini kau berada di dalam alam bawah sadarmu," ujarnya.


"Alam bawah sadar? Jadi, apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku lagi.


"Aku tidak sengaja masuk ke dalam tubuhmu saat aku sedang terluka parah dan berubah menjadi cahaya hijau ini," jelasnya.


"Ohh jadi cahaya itu kau yah." Aku berjalan mendekatinya.


"Mana ada Dewa yang masuk ke dalam tubuh manusia!" teriakku marah.


"Bagaimana caranya diriku keluar dari sini?!" sambungku.


"Sabarlah, Nak. Biar kujelaskan," kata Si Dewa itu.


"Yah, secara teknis aku bukanlah Dewa. Aku hanya roh yang diciptakan oleh manusia overpowered sebelum kematiannya. Tapi, aku memiliki tugas untuk melindungi manusia, aku adalah pelindung kalian," jelas Si Dewa.


"Jadi, bagaimana caraku keluar dari sini?" tanyaku yang tidak peduli dengan apa yang ia jelaskan.


"Heheh, uhuk-uhuk." Ia tertawa dan terbatuk lagi.


"Tenanglah, ada beberapa hal yang ingin kusampaikan padamu," katanya lirih.


"Hemh," gumamku yang sedikit tertarik dengan apa yang ingin ia katakan.


"Pertama, jangan pernah memukul-mukul jantungmu lagi! Karena di situlah aku berada dalam tubuhmu," ujarnya.


"Tapi kau membuat jantungku terasa sangat sakit." Aku duduk bersila.


"Yah, itu karena saat ini aku sedang terluka parah. Dan karena aku berada dalam tubuhmu, kau juga uhuk-uhuk. Kau juga mengalami sedikit rasa sakitnya," jelasnya.


"Terluka parah? Karena apa?" tanyaku.


"Kedua-" Dia tidak menggubris pertanyaanku.


"Oi, jawab dulu," kataku pelan.


"Di dunia ini sedang berada pada ambang-ambang kehancuran," sambungnya yang lagi-lagi tidak menggubris ucapanku.


"Ketiga, kau adalah pewarisku! Kau adalah Sang Pewaris Dewa Kematian! Uhuk-uhuk." serunya seblum terbatuk.


"Ehhh?!" Aku terkejut.


"Dewa Kematian?! Aku?! Jangan bilang aku juga harus berjuang melindungi Bumi ini dari kehancuran yang kau sebut tadi!" teriakku marah.


"Ya! Kau harus melindungi Bumi!" jawabnya.


"Kenapa tidak kau saja?!" tanyaku yang masih marah.


"Karena aku tidak cukup kuat untuk melakukannya. Ditambah lagi kondisiku yang sedang terluka parah saat ini," jawabnya.


"Kalau begitu tunggu saja sampai kau sembuh." Aku mulai sedikit tenang.


"Tidak akan sempat. Bumi ini akan hancur sebelum aku sembuh," jawabnya lagi.


"Tapi kenapa harus aku?" tanyaku lirih.


"Karena aku jatuhnya ke dalam tubuhmu," jawabnya.


"Eh?" gumamku yang agak terkejut.


"Dan karena kau, memiliki jiwa yang baik," sambungnya.


"Baik?" tanyaku lagi.


"Ya, aku baru menyadarinya saat kau menyebutkan pertanyaan ketigamu setelah kau masuk ke sini. Tadi kau bilang, '... Di mana kita?' Itulah bukti bahwa kau adalah orang yang baik," ujarnya.


Aku menghela napas beberapa kali. Sebelum dia berkata,


"Ray Harris! Mulai saat ini, kau adalah pewarisku! Kau adalah, Pewaris Dewa Kematian!" serunya.


"Uhuk-uhuk." Yah, dia batuk lagi.

__ADS_1


__ADS_2