Pewaris Dewa Kematian

Pewaris Dewa Kematian
Mati Lampu


__ADS_3

"Jadi Risa, telah kau bunuh?" tanyaku kaku.


"Cih." Dewa Seisu menatapku tajam.


"Jika benar begitu, itu juga salah kalian berdua. Ini adalah Kerajaan Air, kerajaanku," ujar Dewa Seisu.


"Para iblis itu adalah musuh kaum dewa. Jika kau memang benar pewaris Nishide, harusnya kau mengerti hal itu. Dan kau harus membunuh iblis itu," ujar Dewa Seisu sinis.


"Tapi Risa bukanlah iblis!" bentakku sambil melesat ke arah Dewa Seisu untuk menyerangnya dengan sabit jiwa.


"Energi air. Perisa air." Dewa Seisu mengeluarkan jurusnya untuk menahan seranganku.


"Sial ...," gumamku kesal.


"Memangnya kau tahu apa tentang iblis itu?" tanya Dewa Seisu sambil memperkuat jurusnya yang membuatku termundur kembali ke belakang.


"Huhh." Aku membuang napas berat karena sudah kelelahan bermain puzzle di bawah tanah.


"Nishide, dia sudah menceritakan semuanya!" lantangku pada Dewa Seisu.


"Nishide?!" Lagi-lagi Dewa Seisu terkejut ketika aku menyebut nama Nishide.


"Kau menuduh putrimu sendiri sebagai iblis, hanya untuk menutupi kesalahanmu!" bentakku marah pada Dewa Seisu.


"Hah?" Mata Dewa Seisu terbelalak dan mulutnya ternganga setelah mendengar ucapanku.


"Kau bahkan menuduh Nishide bahwa dirinya tidak becus dalam mengerjakan misi. Namun itu semua salahmu sendiri yang menghalanginya dalam mengerjakan misi," kataku.


"Memangnya kau tahu apa?!" Dewa Seisu bersiap mengeluarkan jurusnya.


"Aku tahu! Aku mengerti apa yang kau rasakan! Bahkan aku jauh lebih mengerti dibanding dirimu!" bentakku.


"Eh?" Dewa Seisu tertegun dan mengubah posisinya menjadi posisi biasa.


"Kau tahu, aku juga telah membuat sahabatku berubah menjadi iblis dalam misi pertamaku," lirihku.


"Aku sangat kesal, aku juga marah! Tapi aku tidak pernah menyalahkan orang lain karena kesalahanku sendiri! Itu semua adalah salahku!" bentakku.


"Aku tahu perasaanmu, kau sangat kesal, kan? Tapi jangan kau jadikan itu sebagai alasan untuk menyalahkan orang lain karena kesalahanmu!" bentakku lagi.


"Hmm ... huhh." Dewa Seisu menghela napas sejenak.


"Aku tidak mengerti apa yang kau maksud. Aku juga tidak mengerti bagaimana kau bisa mengaku sebagai pewaris Nishide. Dan aku juga tidak tahu dari mana kau bisa mengatakan hal sekeren itu," ujar Dewa Seisu.


"Eh?" Aku sendiri heran dengan apa yang dikatakan oleh Dewa Seisu itu.


"Tapi, anak itu. Dia-" ucapan Dewa Seisu langsung kupotong.


"Dia apa, hah?!" tanyaku lantang sambil melesat ke arah Dewa Seisu lagi untuk menebaskan sabitku ke arahnya.


Namun, saat aku berada tepat di hadapannnya, Dewa Seisu tiba-tiba menghilang. Dan tahu-tahu dirinya sudah berada tepat dibelakangku.


"Dia adalah ... iblis," bisik Dewa Seisu sambil memegang pundakku dari belakang.


"Sudah kubilang Risa bukanlah iblis!" bentakku sambil berbalik ke belakang untuk menyerang Dewa Seisu.


Namun, tepat saat aku menghadap ke arahnya, Dewa Seisu langsung menghempaskan pukulannya ke arah perutku. Pukulannya itu sangat kuat, sehingga membuatku terpental cukup jauh ke belakang.


"Egh. Apa-apaan pukulannya itu?" tanyaku dalam hati sambil menahan rasa sakit pada perutku.


"Wahai makhluk keras kepala," kata Dewa Seisu sambil berjalan ke arahku.

__ADS_1


"Cih," gumamku sebal dengan sebutan yang ia berikan untukku.


"Pergilah dari kerajaanku, atau kau akan kuhabisi. Karena kau adalah salah satu dari iblis!" tegasnya.


"Iblis? Ya, mungkin aku bisa disebut sebagai iblis," kataku sambil berusaha berdiri.


"Tapi. Sebutan apa yang cocok, bagi dewa yang lebih buruk dari iblis?!" tanyaku lantang sambil melesat ke arah Dewa Seisu dengan modal nekat.


"Energi jiwa, tebasan jiwa." Aku mengeluarkan beberapa jurus tebasan jiwa untuk menyerang Dewa Seisu.


Namun, tanpa terlihat kesulitan sedikit pun. Dewa Seisu berhasil menahan seranganku dengan perisai airnya.


"Modifikasi air. Bola air," ucap Dewa Seisu pelan sambil mengubah perisai airnya menjadi sebuah bola air yang besar.


WHUSSSH.


Lalu, Dewa Seisu melemparkan bola air itu ke arahku.


"Hah?" Aku sangat terkejut.


Aku lalu terbang ke atas untuk menghindari bola air itu. Namun, Dewa Seisu mengendalikan bola itu sehingga bola air itu mengikutiku ke atas.


"Sialan ...," gumamku kesal.


"Cih." Aku tersenyum sambil melihat Dewa Seisu.


Lalu, aku pun melesat ke arah Dewa Seisu. Dengan tujuan agar bola air itu jadi mengenai Dewa Seisu sendiri.


"Sabit jiwa!" teriakku memperkuat sabitku.


Lalu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Dewa Seisu mengeluarkan jurusnya dengan mengarahkan salah satu tangannya kepadaku. Lalu, dari tangan itu keluar tembakan air yang deras seperti yang digunakan oleh pemadam kebakaran.


Namun saat itu Dewa Seisu tersenyum mekihatku yang sedang kesusahan. Saat itu pula aku baru menyadari bahwa serangannya kali ini hanya pengalih perhatian.


Dan akhirnya, bola air yang mengejarku tadi pun mengenaiku dan menciptakan ledakan air yang cukup besar.


"Agh!" teriakku kesakitan.


"Sudah jatuh, tersiram air."


Jurus tembakan air Dewa Seisu tadi akhirnya juga mengenaiku.


"Egh." Aku pun terdorong oleh dorongan air yang deras itu hingga menabrak tembok istana.


Lalu aku pun terjatuh tepat di depan pintu istana. Sementara itu, Dewa Seisu berjalan ke arahku. Ia bisa membuka gerbang istana hanya dengan menggerakkan tangannya.


Setelah itu ia terus berjalan ke arahku.


"Aku sudah memperintahkan padamu. Jika kau tidak ingin mati, maka pergilah dari kerajaanku dan pulanglah ke rumahmu. Namun kau tidak melakukannya, dan itu berarti kau sudah siap untuk mati," kata Dewa Seisu.


"Pulang? Terima kasih, tapi liburanku masih panjang," kataku.


"Mati? Selama aku masih bisa bernapas, aku tidak akan mati," kataku lagi sambil berusaha berdiri.


"Energi dewa. Kuasa air." Dewa Seisu mengeluarkan sebuah jurus yang hampir sama seperti yang ia gunakan saat membuatku pingsan pada pertarungan pertama kami.


Namun kali ini efek yang ditimbulkan dari jurus itu berbeda, tiba-tiba saja tubuhku sudah berada di dalam gumpalan air yang berbentuk balok dan sangat besar. Tekanan yang diciptakan oleh air itu sangat besar, bahkan seluruh tubuhku terasa seperti akan hancur dan menjadi butiran debu.


"Eggh ... sial," gumamku menahan sakit.


"Aku akan memberimu satu kesempatan lagi. Pergilah, atau aku akan membunuhmu," kata Dewa Seisu dengan aura mengerikannya.

__ADS_1


"Berisik," gumamku kesal.


Aku lalu mememjamkan mataku dan mengosongkan pikiranku dari rasa sakit yang kurasakan saat ini. Lalu aku berkonsentrasi lagi untuk mengeluarkan seluruh energi yang Nishide berikan padaku sebelumnya.


SRINGGG.


Tiba-tiba tubuhku memancarkan sinar hijau yang jauh lebuh terang dari sinar yang pernah kupancarkan sebelumnya. Lalu, sinar itu membuat jurus air Dewa Seisu yang menjebakku pun hancur dan aku berhasil keluar.


Pikiranku terasa tidak karuan. Aku merasa bahwa aku hanya setengah sadar. Aku tidak terlalu bisa mengendalikan tubuhku.


"Cih. Jadi kau memang dewa, yah?" Dewa Seisu menatapku dengan sangat serius dan siap bertarung.


"Yahh. Aku adalah dewa," kataku pelan dengan membuang napas yang berat.


WHUSSSH.


Lalu, aku dan Dewa Seisu sama-sama melesat ke arah masing-masing. Kami bertarung di udara dengan mengeluarkan jurus-jurus super kerena kami.


Meskipun kesadaranku hanya setengah, namun entah bagaimana untuk pertama kalinya aku berhasil mengimbangi Dewa Seisu.


"Kenapa kau sangat keras kepala?!" tanya Dewa Seisu marah sambil menyerangku dengan trisulanya.


"Ciptaan Tuhan, Bro!" jawabku lantang sambil menahan serangan Dewa Seisu itu.


"Matilah kau!!" teriak Dewa Seisu lagi.


"Tidak sebelum aku memenuhi semua janjiku!" lantangku.


"Siapa juga yang peduli dengan janjimu?!" tanya Dewa Seisu.


"Siapa juga yang peduli dengan perintahmu?!" tanyaku membalas pertanyaannya tadi.


"Kembalikan ... Risa!!!" teriakku.


Lalu, Dewa Seisu mundur dan bersiap untuk mengeluarkan jurusnya. Dari trisulanya, muncul sebuah bola yang bersinar biru yang semakin lama semakin membesar.


"Energi dewa. Sinar air," ucap Dewa Seisu pelan.


"Huhh." Aku membuang napas sejenak.


Lalu, aku membentuk kuda-kuda yang sama dengan Dewa Seisu. Lalu, dengan sisa-sisa kesadaranku, aku berusaha untuk berkonsentrasi agar dapat mengeluarkan jurus yang sama dengan Dewa Seisu.


"Energi dewa. Sinar jiwa," gumamku tanpa sadar.


Lalu, sabit jiwaku terlepas dari peganganku. Namun sabit itu masih melayang tepat di sampingku. Dan kemudian, sebuah bola cahaya yang mirip dengan jurus Dewa Seisu muncul di antara telapak tangan kiri dan kananku. Bedanya, sinar yang dikeluarkan dari jurusku ini berwarna hijau.


"Huhh." Aku kembali membuang napas berat.


Lalu.


"Hiiiaaa!!!" teriakku dengan Dewa Seisu bersamaan.


Dewa Seisu mengarahkan trisulanya ke arahku, sedangkan aku mengarahkan kedua tanganku ke arah Dewa Seisu. Kami berdua akan mengadu jurus kami masing-masing.


Namun, tepat beberapa saat sebelum kami saling mengeluarka jurus. Kami dikejutkan dengan mati lampu.


Seluruh Kerajaan Air yang berada di kaki bukit tempat kami bertarung, jadi gelap gulita. Padahal sebelumnya, keadaan di sana tampak sangat terang dengan lampu yang berkualitas. Dewa Seisu pun tampak tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


Beberapa saat kemudian, tiba-tiba kerajaan ini kembali terang. Namun kondisinya masih berbeda. Seluruh videotron atau televisi besar yang ada di seluruh kerajaan itu menampilkan hal yang sama.


"Yo, Seisu. Lama tak berjumpa."

__ADS_1


__ADS_2