Pewaris Dewa Kematian

Pewaris Dewa Kematian
Ratu Koi Ternyata ...


__ADS_3

Sebelumnya.


"Mungkin di tangan Hozai para prajuritku dilarang melakukan misi. Dan jika dia tahu bahwa ada seseorang yang melakukan misi itu, maka kau akan terus dicari dan diburu," jelas Nishide.


*****


"Lah, kok prajuritmu bisa ada di bawah perintah Hozai?" tanyaku heran.


"Oh, aku belum memberitahumu, yah. Sebenarnya, penyebab aku jatuh dan masuk ke dalam tubuhmu adalah karena aku kalah bertarung melawan Hozai," jelas Nishide.


"Hah? Tapi kenapa ... kalian berdua harus bertarung?" tanyaku lagi.


"Hozai, dia adalah dewa yang dibuang. Dua puluh empat tahun yang lalu, Hozai bersama prajuritnya menyerang seluruh kekaisaran dewa lainnya demi menjadi satu-satunya penguasa di Bumi. Namun beruntung, kami berhasil mengalahkan Hozai. Dan ia pun kami anggap sebagai musuh, dan dia bukanlah dewa lagi setelah itu," jelas Nishide.


"Tujuh dewa bersatu untuk mengalahkan satu dewa, atau maksudku mantan dewa?" aku heran.


"Ya. Memangnya kenapa?" Nishide bertanya balik.


"Aku hanya heran saat kau bilang bahwa kalian mengalahkan Hozai, kau harus menggunakan kata beruntung," jawabku.


"Ya. Itu bisa disebut beruntung, karena Hozai merupakan dewa terkuat dibanding dengan ketujuh dewa lainnya, termasuk aku," ujar Nishide.


"Ohh. Jadi dua puluh empat tahun kemudian, Hozai menyerangmu untuk meneruskan tujuannya. Benar begitu?" tebakku.


"Ya. Aku yakin setelah diriku, dewa-dewa lainnya juga akan ia serang satu persatu. Dan mengalahkannya pun akan semakin sulit, setelah ia bergabung dengan pasukan iblis," ujar Nishide.


"Hah, dari mana kau tahu dia bekerja sama dengan iblis? Padahal kan dialah yang awalnya menemukan rahasia tentang iblis." Aku heran.


"Saat dia mengalahkanku beberapa hari yang lalu, energi cahaya milik Hozai telah berubah menjadi energi cahaya hitam," jelas Nishide.


"Ditambah lagi, iblis yang tadi kau lawan juga tahu bahwa Hozai telah merebut para prajuritku," tambahnya.


"Karena itu, kau harus lebih waspada dan juga terus berlatih agar menjadi lebih kuat!" tegasnya.


"Huhh ... ya," jawabku.


Karena terlalu serius mendengarkan penjelasan Nishide, aku pun jadi tidak bisa tidur.


*****


Keesokan harinya, aku telah kembali bersekolah seperti biasa. Karena libur masa berduka untukku telah habis. Ayah dan adikku pun juga telah beraktifitas seperti biasanya.


Sekarang sedang waktunya istirahat. Semua orang di sekolahku membahas berita tentang kematian Ashley yang mengenaskan, dan juga monster yang terbang di langit kota. Dalam catatan, monster yang dimaksud adalah iblis yang melawanku kemarin.


Sebenarnya tidak semua orang, sih. Ada satu kawan sekelasku yang tidak terlalu mempedulikan masalah itu, dia adalah Si Ratu Koi, alias Risa atau Clarissa.


Tapi aku juga tidak terlalu memikirkan dirinya, sih. Bukan urusanku. Lalu, ada seorang laki-laki yang menghampiriku yang sedang duduk di kursiku. Dia adalah Willy, dia sekelas denganku.

__ADS_1


"Oi, Ray. Si Ashley matinya serem amat, yah. Apa Ashley itu monster, atau mungkin dia pengguna ilmu hitam, lagi?" tebak Willy.


"Dia bukan monster dan dia bukan pengguna ilmu hitam," jawabku yang sedang malas berbicara pada saat itu.


"Tapi, kok ... dia ngamuk-ngamuk ga jelas dan bentuk tubuhnya juga kayak-" ucapannya langsung kupotong.


"Sudah kubilang Ashley bukan monster dan pengguan ilmu sesat!" bentakku sambil berdiri menarik kera baju Willy dan siap memukulnya.


Semua orang di kelas langsung memperhatikan kami. Namun untungnya tak satuoun dari mereka yang mendekat.


"Oi, Ray. Slow aja kali," ucap Willy sambil mengangkat tangannya dan ia letakkan tepat di depan kepalanya.


"Siapa tahu, kan ada rahasia yang Ashley nggak kasih tahu ke kamu," sambungnya.


"Brusst." Aku langsung meninju mulut Willy sampai ia terjatuh dan air liurnya muncrat.


"Woi, Ray! Kenapa dengan dirimu!" teriak seseorang yang sekelas juga denganku sambil membantu Willy berdiri. Orang-orang lalu mengerumuni aku dan Willy.


"Ray, tahan emosimu!" tegas Nishide.


"Hehh, aku minta maaf, Ray. Yah, memang aku yang salah karena telah mengatakan hal buruk tentang Ashley," tutur Willy sambil berdiri dan menyentuh bibirnya yang pecah.


"Hmm ... huhh ... yah sudahlah." Aku menghela napas dan kembali duduk ke kursiku.


Setelah itu, orang-orang yang mengerumuni kami pun bubar dan suasananya kembali seperti awal. Willy pun dibawa ke unit kesehatan dan untungnya dia tidak melaporkan hal tadi kepada guru, kurasa.


"Ada apa dengannya?" batinku sambil membalas tatapan Risa.


"Mungkin dia kesal melihat dirimu yang pemarah itu," ujar Nishide.


"Huhh, terserahlah," pikirku sambil menghela napas.


Beberapa saat kemudian bel masuk kelas oun berbunyi. Dan guru yang mengajar kami oun segera memasuki kelas.


*****


Sekarang saatnya jam istirahat kedua. Sebenarnya saat ini aku mau ke kantin dan makan. Tapi aku mendapatkan notifikasi dari buku target bahwa aku mendapatkan misi. Aku pun segera pergi ke tempat yang sepi untuk berubah menjadi mode Dewa Kematian.


Setelah berubah, aku pun terbang menuju ke lokasi targetku saat ini. Pada saat aku terbang untuk keluar dari area sekolah, aku melihat bahwa Risa sedang menatapku dengan serius.


Matanya dengan mataku saling berhadapan. Pada saat itu juga aku berpikir bahwa Risa bisa melihatku, dan bisa jadi dia sebenarnya adalah iblis yang berbaur dengan manusia.


"Ray, siapa yang iblis?" tanya Nishide yang heran karena ia mendengar pikiranku.


"Wanita yang sekelas denganku." Aku lalu menambah kecepatan terbangku.


"Tambah kecepatanmu! Kau tidak boleh bertarung di sekitar sekolah!" tegas Nishide.

__ADS_1


"Nol koma lima detik sebelum kau mengatakan itu, aku sudah melakukannya duluan," batinku.


Beberapa saat kemudian, aku sampai ke lokasi targetku. Dan ia saat ini sedang berada di sebuah lorong kecil dan sepi, karena ternyata targetku yang sekarang adalah tunawisma.


Dengan cepat, aku pun langsung menuntaskan misiku itu. Setelah mencabut nyawanya, aku pun langsung terbang untuk kembali ke sekolah.


Namun sebelum aku terbang, tiba-tiba seseorang dari belakang menyerangku. Aku pun terpental ke belakang di lorong sempit itu.


"Siapa-" ucapanku terputus ketika melihat yang menyerangku tadi ternyata adalah Risa.


Risa sedang memegang 2 bilah pedang tajam yang digunakannya tadi untuk menyerangku. Yah, untungnya karena dalam mode dewa ini, daya tahan tubuhku jadi lebih besar.


"Kau?!" aku terkejut.


"Heh, ternyata memang kau, yah Ray." Risa tersenyum.


"Kau ... sudah kuduga." Aku berdiri dan siap melawan Risa.


"Suara itu ... kau?" Nishide mencoba menebak siapa orang yang sedang aku hadapi.


"Hiiyaa!!" Risa berlari ke depan untuk menyerangku.


"Hemh, hanya berlari?" aku meremehkannya.


Aku lalu terbang ke atas untuk menyerangnya dari atas. Lalu saat aku sudah berada pada ketinggian yamg pas, aku langsung mengeluarkan jurusku untuk menyerangnya. Sabitku menngeluarkan sinar laser hijau yang bergerak ke arah Risa untuk menyerangnya.


"Siial," ucap Risa kesal.


Ia mencoba menghindari seranganku. Namun aku terus menyerangnya secara bertubi-tubi hingga ia pun terkena beberapa seranganku. Akhirnya, Risa pun terpental dan pingsan.


"Hoi, lihat! Ada sesuatu yang aneh muncul dari lorong itu!" beberapa orang lalu berlari masuk ke lorong tempat kami bertarung.


"Ray, kau harus membawa si Risa itu pergi!" suruh Nishide.


"Lah, kenapa?" tanyaku heran.


"Lakukan!" tegas Nishide.


"Huhh." Aku menghela napas dan meluncur ke bawah untuk membawa Risa pergi dari orang-orang.


Aku menutupinya dengan jubahku agar dirinnya juga tidak terlihat oleh manusia biasa.


Beberapa saat kemudian, aku turun di sebuah bukit yang sepi.


"Kenapa kau menyuruhku membawa iblis ini?!" tanyaku kesal.


"Dia bukanlah iblis! Dia itu ... putri Dewa Laut Seisu," ujar Nishide.

__ADS_1


"Hah?!" aku terkejut.


__ADS_2