Pewaris Dewa Kematian

Pewaris Dewa Kematian
Misi Pertama


__ADS_3

Sebelumnya, aku menikmati kesenangan hiduplu menjadi Pewaris Dewa. Siang itu, aku hanya menghabiskan waktu dengan terbang mengelilingi kota.


Namun, tiba-tiba muncul sebuah buku di deoanku. Buku itu terbuka dan mengeluarkan cahaya yang cukup terang.


"Hee, Dewa. Apa ini?" tanyaku.


"Buku nama," jawab Si Dewa.


"Jangan bilang buku ini ... catatan nama orang yang harus kucabut nyawanya," ucapku pelan.


"Ya, sebentar lagi akan muncul nama seseorang yang harus kau cabut nyawanya," ujar Si Dewa.


"Jangan gugup Ray, kau harus melakukannya! Demi-" tegas Si Dewa.


"Demi melindungi Bumi, kan. Aku tahu, aku akan melakukannya," ujarku memotong uncapan Si Dewa.


Perlahan-lahan, cahaya dari buku itu meredup. Lalu, perlahan-lahan pula, aku mencoba mengambil buku itu, dan kulihat nama yang tercatat di sana.


ASHLEY SHIRAZ.


Itulah nama yang muncul dari buku itu, nama orang yang harus kucabut nyawanya. Nama dari temanku, Ashley.


"Ash-ley?" aku terkejut dan tertegun.


"Dia ... temanmu, kan?" tebak Si Dewa.


"Ray, kau harus-" ucapannya langsung kupotong.


"Aku tahu! Aku mengerti!" teriakku sambil menutup buku itu.


"Jadi, bagaimana caraku untuk mencabut nyawanya?" tanyaku.


"Yah, untuk saat ini kau harus mencarinya secara manual. Lalu menebaskan sabit itu ke arahnya," jelas Si Dewa.


"Hah?" aku terkejut sekaligus kecewa.


"Energi jiwamu saat ini masih lemah, lakukam saja," lirih Si Dewa.


"Iya-iya," ucapku malas. Aku pun terbang ke arah rumahku.


"Hoi, Ray. Jangan bilang kalau kau akan pulang dan meninggalkan misi ini! " tegas Si Dewa.


"Tidak, aku ke rumah karena biasanya jam segini Ashley datang ke rumahku," kataku.


*****


Beberapa saat kemudian, aku mendarat di atas atap rumahku. Yah, karena aku sedang membuat diriku tidak bisa menembus atap itu.


"Tuh, kan. Ashley datang ke rumahku untuk mengajakku bermain video game," kataku yang melihat Ashley dan ibuku berada di depan pintu rumah keluargaku.


"Tante, aku mau main sama Ray," kata Ashley yang memegang android di tangannya.


"Ya, masuklah," kata ibuku membolehkan Ashley masuk.


Ashley lalu masuk ke dalam rumah, dan naik ke kamarku.


"Bagaimana, Ray? Apa kau akan menemuinya?" tanya Si Dewa.


"Ya, mungkin beberapa menit. Sebagai hadiah sebelum kepergiannya," ucapku.


"Terserah. Tapi waktumu kurang dari dua puluh menit," kata Si Dewa.


"Tenang saja, aku akan segera menuntaskannya." Aku menembus atap rumahku dan sampai ke kamarku sebelum Ashley masuk.


Saat Ashley masuk, aku langsung menekan lagi pergelangan tanganku untuk menonaktifkan mode Dewa Kematian.


"Yo, Ray." Ashley langsung masuk tanpa mengetok pintu. Ya gimana mau ngetok, orang pintunya aja udah ambruk.


"Em," ucapku membalas salamnya.


"Badanmu gimana, udah enakan? Main, yuk!" Ajaknya.


"Ya, boleh deh. Sebentar aja ya," kataku mengambil android untuk bermain bersama Ashley. Untuk yang terakhir kalinya.


"Mati satu kali, udah ya," kataku.


"Eeeeh?" dia melihat ke arahku yang sedang menatapnya.


"Ek, oke." Dia menurut karena takut dengan tatapanku.


Kami bermain video game selama sekitar tujuh menit. Yah, itu katanya Si Dewa.

__ADS_1


"Yah, mati!" ucap Ashley kesal karena kami berdua kalah. Aku tersenyum melihat ekspresi kesalnya.


"Huhh, udah yah. Aku mau istirahat," kataku lirih pada Ashley.


"Eh, tumben kau berkata lembut. Biasanya kau langsung mengusirku," katanya heran.


"Ohh, mau kuusir, yah?" kataku menunjukkan ekspresi menyeramkanku.


"Iya-iya." Dia berjalan keluar dari kamarku.


"Tunggu! Kau mau ke mana?" tanyaku.


"Main ke taman," jawab Ashley.


"Oh," ucapku.


"Kau mau ikut?" tanya Ashley.


"Tidak." Aku menggelengkan kepalaku.


"Baiklah. Sampai jumpa, Ray." Dia tersenyum padaku dan melambaikan tangannya.


Mendengar kata "sampai jumpa" darinya itu, membuatku tertegun.


"Sam-pai ... jumpa," gumamku.


"Ray, kau harus kuat," ucap Si Dewa lirih.


"Ya." Aku membusungkan dadaku.


"Ayo kita tuntaskan misi ini!" Aku menekan pergelangan tangan kiriku, lalu aku langsung berubah ke mode Dewa Kematian.


Setelah itu, aku terbang mengikuti Ashley ke taman yang dekat dengan kedua rumah kami.


"Kenapa kau ingin membunuhnya di taman?" tanya Si Dewa yang mengetahui pikiranku.


"Mungkin bakalan lebih nyaman kalau ninggalnya di taman," kataku.


*****


Di taman.


Ashley sedang duduk di salah satu bangku di sana sambil bermain video game. Dan aku berdiri tepat di depannya.


"Aku tidak peduli," kataku.


"Baik, sekarang lakukanlah Ray!" tegas Si Dewa.


"Ya," jawabku.


Tapi, aku masih belum melakukan apa-apa untuk mencabut nyawa Ashley.


"Ray, kenapa?" tanya Si Dewa yang terdengar khawatir.


"Aku ... tidak bisa ...," tubuhku gemetar.


"Loh, tadi kau sangat bersemangat. Kau harus menyelesaikan misi ini, Ray," lirih Si Dewa.


"Tidak bisa, aku tidak bisa melakukannya." Tubuhku gemetar.


"Ray, kau harus melakukannya," lirih Si Dewa.


"Jika tidak dia-" aku memotong ucapan Si Dewa.


"Berisik!" bentakku.


"Aku tahu, ini demi melindungi Bumi, kan. Aku mengetahui itu, aku tahu aku harus mencabut nyawanya!" teriakku.


"Tapi aku tidak bisa ... melakukannya." Aku berlutut.


"Tapi, jika tidak-" ucapan Si Dewa kupotong lagi.


"Memangnya kau tahu apa?!" bentakku lagi.


"Manusia berpikir dengan logika, tapi mereka ... melakukan sesuatu karena adanya emosi," ujarku.


"Kau yang dewa tahu apa?!" sambungku.


"Ray!" tegas Si Dewa.


"Maafkan aku, aku tidak bisa menjalankan tugas sebagai pewarismu," kataku.

__ADS_1


"Ray, waktumu hanya beberapa detik lagi!" kata Si Dewa.


"Sudah kubilang aku tidak bisa! Dia adalah sahabatku, dia adalah ... satu-satunya orang yang mau menjadi temanku," kataku meneteskan air mata.


"Maaf, aku tidak bisa melakukan ini," kataku.


"RAAAAY!!!" teriak Si Dewa yang membuat kepalaku terasa sangat sakit.


Tiba-tiba, Ashley terjatuh dari bangku yang ia duduki, kepalanya tepat berada di depan kakiku.


"Hah? Apa dia ... mati," gumamku terkejut.


"Waktumu telah habis, Ray," ujar Si Dewa.


Lalu, tubuh Ashley seperti kejang-kejang.


"Apa yang ... terjadi?" gumamku.


"Karenamu ... karena dirimu ...," kata Si Dewa seperti memendam sesuatu.


"Anak itu berubah menjadi iblis!!" teriaknya yang marah padaku.


Aku tahu bahwa Si Dewa sangat marah padaku. Dia bilang, Ashley telah berubah menjadi iblis. Dan itu semua karena kesalahanku.


"I-iblis?" gumamku yang terkejut sekaligus tak percaya.


"Jika kau tidak mencabut nyawa orang yang tertulis di buku. Maka raga orang itu akan dirasuki oleh iblis," jelas Si Dewa.


Tiba-tiba, iblis yang merasuki tubuh Ashley menatap, dan langsung menyerangku. Aku berhasil menghindar, tapi iblis itu langsung menyerang orang-orang yang ada di sekitar taman.


"Dia bisa melhatku?" aku terkejut.


"Ya, karena dia bukanlah temanmu lagi. Jiwa temanmu telah melayang, hilang entah ke mana. Dan yang menyerangmu tadi, dia adalah iblis," jelas Si Dewa.


"Ada apa dengan pria itu?!" kata seseorang sambil berlari karena ketakutan dengan Ashley.


"Mungkin dia kerasukan, atau mungkin mabuk," ujar seseorang lainnya.


Perlahan-lahan, tubuh Ashley membesar dan warna matanya berubah menjadi hitam seluruhnya.


Aku terbang ke arahnya untuk menghentikan tindakannya.


"Ash! Hentikan! Sadarlah!" aku menarik kera bajunya.


Namun, usahaku sia-sia. Iblis yang merasuki tubuh Ashley memukul ku beberapa kali dan membuatku terpental.


"Ray, jangan bodoh! Dia bukanlah Ashley lagi. Jiwanya sudah hilang, dan raganya dirasuki oleh iblis. Dan itu semua karena dirimu! Kau harus bertanggung jawab Ray, bunuh iblis itu," kata Si Dewa.


"Baiklah." Aku berdiri.


"Ash, aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf," batinku.


"Jika ada cara untuk menemukan jiwamu, dan menebus kesalahanku. Apapun itu akan kulakukan." Aku mulai bersiap untuk menyerang iblis itu.


"Namun untuk sekarang, aku akan berjuang menjaga Bumi ini. Menuntaskan semua misi, agar peristiwa kali ini ... tidak pernah terulang lagi." Aku terbang ke arah iblis itu untuk menyerangnya.


Iblis itu juga bersiap untuk menghadapi seranganku.


"Karena aku adalah ... Pewaris Dewa Kematian." Aku berhasil menebas iblis itu dengan sabitku.


Tubuh Ashley berubah menjadi persis seperti orang meninggal. Pucat dan dingin.


"Aku minta maaf, Ash. Walau aku tahu, kau tidak bisa memaafkanku.' Aku kembali berlutut melihat ke arah jasad Ashley, dan meneteskan air mata.


"Ray, aku juga minta maaf. Tugas seperti ini memang terlalu berat untuk seorang manusia yang baik," kata Si Dewa.


"Tapi, aku dan dunia ini benar-benar membutuhkan bantuanmu," sambungnya.


"Ya, aku berjanji pada misi berikutnya aku akan menuntaskannya dengan baik." Aku berdiri, dan jasad Ashley dibawa oleh beberapa orang ke rumah sakit.


Tiba-tiba, buku catatan nama orang yang harus kucabut nyawanya kembali bersinar. Buku itu menunjukkan bahwa misi berikutnya tengah menungguku.


"Baiklah, Ray. Ini misi keduamu, jangan sampai melakukan kesalahan lagi," kata Si Dewa.


Aku lalu membuka buku itu.


"Siapapun orangnya, misi ini pasti akan lebih mudah dari sebelumnya," ujar Si Dewa.


Aku melihat isi buku itu, dan aku terkejut.


"Ray? Siapa orangnya? Kenapa pikiranmu tiba-tiba kosong begini?" tanya Si Dewa.

__ADS_1


"Orang selanjutnya adalah ... ibuku," kataku.


"HAH?!" Si Dewa terkejut.


__ADS_2