
Sebelumnya, aku yaitu Nishide telah menjelaskan cerita kelahiran dari Clarissa Endora yang juga merupakan kisah Clara Endora yang dirasuki iblis, dan juga merupakan kisah kegagalanku dalam menuntaskan misi.
*****
POV Ray.
"Jadi ... ibuku dirasuki oleh iblis karena ayah menghalangimu dalam menuntaskan misi. Benar begitu?" tanya Risa sambil melihat Nishide dan meletakkan tangan kanannya dibawah dagu yang menyimbolkan dia sedang berpikir.
"Ya, tapi bukan berarti aku hanya menyalahkan ayahmu. Aku juga bersalah saat itu karena gagal mengalahkan Seisu dan meyakinkannya untuk mengikhlaskan Clara," lirih Nishide.
"Emm," gumamku mengangguk-anggukkan kepala.
"Aku mengerti sekali bagaimana perasaan Dewa Seisu," kataku mengingat apa yang telah terjadi pada Ashley.
"Maksudmu?" tanya Risa yang tampak penasaran.
"Ashley-" ucapanku langsung dipotong oleh Risa setelah aku menyebut nama Ashley.
"Oh iya. Aku baru menyadarinya," potong Risa.
"Ya. Saat itu aku juga baru tahu bagaimana rasanya kehilangan sahabat yang berharga. Padahal selama Ashley hidup, aku tidak pernah menghargainya," kataku sambil melihat ke atas.
Padahal keadaan di atas dengan di bawah sama-sama hitam. Karena tempat ini adalah alam bawah sadar atau juga pikiranku.
"Tapi ... kenapa kau tidak tahu apa fakta yang sebenarnya?" tanyaku pada Risa. Karena aku merasa ada yang janggal.
"Ayah bilang padaku, bahwa kegagalan Nishide dalam menuntaskan misilah yang membuat semuanya terjadi," jawab Risa.
"Semuanya?" tanyaku lagi karena merasa masih ada yang janggal.
"Ya, semuanya. Ayah bilang, karena kegagalan Nishide aku terlahir. Aku terlahir sebagai anak dari iblis," jelas Risa.
"Hah?!" aku dan Nishide kaget.
"Huhh. Di Kerajaan Air, aku tidak dianggap sebagai seorang putri, bahkan aku juga tidak dianggap sebagai penduduk di sana," ujar Risa sambil membuang napas.
"Jadi ... kau dianggap-" ucapanku terpotong karena Risa langsung menjawab apa yang ingin kutanyakan.
"Iblis," kata Risa sambil menatapku.
"Seorang putri, yang dianggap sebagai iblis di kerajaannya sendiri. Sekarang aku tahu, kenapa kau benar-benar merasa terhormat disebut sebagai Ratu Koi," lirihku.
"Ya. Ikan koi juga merupakan makhluk perairan. Jadi aku merasa sangat senang ketika dianggap sebagai ratu mereka," kata Risa sambil melihat ke atas dan tersenyum.
"Heh, ternyata kau cukup manis saat tersenyum," kataku sambil tersenyum dan melihat ke arah Risa.
"Ihh, jijik," kata Risa sambil menatapku dengan jijik.
"Heh. Kau benar, aku juga jijik mengucapkannya," kataku sambil berbaring dan menatap langit alam bawah sadarku yang hitam kelam.
"Tuh, kan? Jadi kau jangan mengatakan hal itu lagi, yah," kata Risa sambil ikut berbaring di sampingku.
"Ya. Tapi aku tidak janji," ujarku.
__ADS_1
"Terserah," balas Risa.
"Dewa Seisu, kau adalah ayah terburuk yang pernah ada. Suatu hari nanti, aku percaya Risa akan membuatmu tersadar bahwa dia adalah seorang ratu, bukan iblis. Aku yakin," batinku.
Kami berdua terus berbaring hingga beberapa menit. Sedangkan Nishide tetap diam tak berbicara sepatah kata pun. Beberapa menit berlalu, aku dan Risa pun sudah keluar dari alam bawah sadarku.
"Huhh. Untung tidak ada orang yang melihat tubuhku yang tergeletak di sini," syukur Risa sambil membuang napas dan berdiri. Karena tubuhnya tadi terpelungkup akibat jiwanya masuk ke dalam pikiranku.
"Aku yakin satu juta persen tidak akan ada yang melihat tubuhmu," ujarku.
"Heh? Satu juta persen? Aneh," kata Risa.
"Baiklah. Aku mau pulang dulu, dahhh Dewa Kematian Abal-abal," kata Risa sambil berjalan pergi dan melambaikan tangan.
"Heh. Yah kau benar, saat ini aku masih abal-abal karena gagal menuntaskan misi pertamaku," gumamku.
Setelah itu, aku pun pulang ke rumah. Seperti biasa, aku menembus atap kamarku untuk masuk ke rumah. Saat ini, tidak ada seorang pun di rumah selain diriku.
Saat ini, ayahku masih bekerja. Sedangkan Mia mungkin langsung ke rumah bibi kami yang tidak jauh dari sekolahnya.
Setelah aku menonaktifkan mode Dewa Kematian, aku langsung berbaring di kasurku. Namun saat aku berbaring, aku merasa ada sesuatu yang terlupa.
"Nishide, entah kenapa pikiranku terasa janggal. Sepertinya, kita melupakan sesuatu," batinku.
"Entahlah," ujar Nishide yang tidak tahu menahu.
Lalu, beberapa saat kemudian terdengar suara, "Ding dong. Pelajaran hari ini telah usai, para siswa dan siswi dipersilahkan untuk pulang dan bersiap untuk hari esok."
"Itu dia! Sekolah! Aku bolos!" teriakku sambil bangun duduk, karena baru menyadari bahwa aku seharusnya tidak langsung pulang, melainkan pergi ke sekolah lagi.
"Oi! Ini masalah, loh. Kenapa kau tertawa?!" tanyaku kesal.
"Duh, besok pasti akan menjadi hari yang penuh masalah," gumamku sambil meletakkan kedua tangan di samping kepala.
"Harusnya kau yang dewa bisa mengingat hal itu, dong!" ujarku kesal pada Nishide.
"Hahahah. Sekarang kaulah dewanya, bukan aku," balas Nishide yang masih tertawa.
"Duhh. Ucapanmu membuatku jadi semakin pusing," kataku sambil kembali berbaring.
"Huhh. Ya sudahlah. Masalah besok, yah urusan besok," kataku sambil menutup mata, berusaha untuk tidur agar pikiranku kembali jernih.
"Lah, udah tenang, nih? Cepat banget," kata Nishide.
"Berisik! Udah, bertapa aja sana! Aku mau tidur," kataku.
"Secara teknis aku tidak bertapa," balas Nishide.
"Heh. Aku penasaran bagaimana ekspresi Ratu Koi saat ini, dia pasti sudah sadar bahwa dia bolos sekolah. Apalagi dia dikenal sebagai murid paling rajin di sekolah," batinku.
"Ehh, kenapa kau memikirkan Clarissa. Down love, yah," ejek Nishide.
"Hahah, down love? Fall in love kali. Bahasa Indonesianya jatuh cinta!" kataku.
__ADS_1
"Heh? Kau bilang aku jatuh cinta? Bisa jadi," sambungku.
"Wahh. Aku kira kau bakal marah dan membantah ejekanku," kata Nishide.
"Yah, kalau apa yang kau katakan tadi memang benar. Maka aku tidak bisa membohongimu, kan? Karena kau selalu tahu apa yang kupikirkan," kataku.
"Yah," jawab Nishide.
*****
Keesokan harinya. Di sekolah.
"Ujung-ujungnya aku tidak bisa tidur seharian. Dari siang sampai malam aku terus memikirkan tentang hari ini," batinku.
"Huahhh." Aku menguap karena semalam tidak bisa tidur.
Kelopak mataku saat ini sudah berwarna hitam seperti panda. Dan caraku jalan juga sudah sempoyongan.
Setelah sampai ke kelas, di sana aku melihat Risa yang sedang tidur di bangkunya. Aku rasa dia juga mengalami hal yang sama denganku. Aku pun duduk di kursiku dan berniat untuk tidur juga, seperti yang dilakukan Risa. Namun, terdengar suara panggilan dari "dewa yang tahu semua hal di sma" alias guru bk.
"Ray Harris dan juga Clarissa Endora! Mohon segera datang ke istana saya, ruang bk!" teriak guru bk itu. Padahal dia sudah menggunakan mic.
"Huhh." Aku membuang napas dan langsung berdiri dan berjalan keluar dari kelas, bersamaan dengan Risa.
"Widihh. Bolos bareng nih, ye," ejek salah seorang di kelasku.
"Cih," cibirku dan Risa berbarengan.
Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya kami berdua sampai ke sebuah ruangan yang keramat di SMA Citra Bangsa.
"Permisi, Buk," ucapku dan Risa serentak sambil membuka pintu dan langsung masuk.
"Loh, kenapa kalian berdua ke sini?! Jangan sembarangan masuk!" kata seorang bapak-bapak di dalam ruangan itu.
"Lah, kan Ibu yang manggil kita tadi," kataku.
"Oi buka mata kalian!" suara bapak itu seperti sedang marah.
Lalu, kami mengusap-usap mata dengan niat agar dapat melihat lebih jelas. Dan ternyata, yang ada di dalam ruangan itu adalah bapak Kepala sekolah dan beberapa orang yang aku tidak ketahui.
"Lah, salah ruangan, nih?" tanya Risa tak percaya.
"Cepat keluar!!!" teriak bapak Kepala sekolah yang sangat marah.
Kami pun berjalan dengan pelan keluar dari ruangan itu. Dan kulihat ternyata kami berdua memang salah masuk ruangan.
"Ini semua karena dirimu," kata Risa lemas.
"Terserah," jawabku.
Lalu, kami berdua pun berjalan dan berusaha untuk membuka mata dengan benar agar tidak salah arah lagi. Setelah beberapa menit, akhirnya kami berdua pun sampai ke ruangan bk. Atau juga ruangan paling keramat. Dengan beberapa kali menarik napas, kami bersiap untuk masuk ke dalamnya.
"Huhh. Ayo," kataku sambil berjalan ke arah pintu masuk dengan gagah.
__ADS_1
"Ya," sahut Risa mengikutiku.
"Lah, kenapa kayak mau perang nih," kata Nishide mengejek kami berdua.