Pewaris Dewa Kematian

Pewaris Dewa Kematian
Tingkatkan Kewaspadaan


__ADS_3

POV Ray.


Sebelumnya, Tuan Dewa atau Nishide menjelaskan sejarah para dewa padaku. Dan ada satu hal yang menarik perhatianku. Nishide mengatakan bahwa dirinya adalah roh yang diciptakan Karim pada saat-saat terakhirnya.


*****


"Emm, Nishide. Kau bilang bahwa kau itu adalah roh ciptaan Karim?" aku memastikan.


"Ya," jawab Nishide.


"Hem, apa kau tidak pernah berpikir bahwa-" ucapanku terpotong karena tiba-tiba buku catatan kematiannya bersinar lagi.


"Nah, ceritanya udah dulu, yah. Laksanakan tugasmu!" suruh Nishide.


"Ohh, ayolah!" Aku kesal. Aku lalu menepuk jantungku dan aku keluar dari alam bawah sadarku dan kembali ke dunia nyata.


Aku lalu berubah menjadi mode Dewa Kematian.


"Eh, tunggu dulu. Aku tidak mengenal nama orang di buku ini," ujarku.


"Ini berarti energi jiwamu sudah lebih besar, dan jangakuan penerimaan tugasmu juga sudah lebih besar," jelas Nishide.


"Harusnya kau senang dengan in**i," katanya.


"Untuk apa, ini berarti tugasku akan jadi lebih merepotkan. Bagaimana caraku menemukan lokasi orang yang tidak kukenal?" aku kesal.


"Tenang saja, terbanglah agak tinggi. Lokasi target selanjutnya akan mengeluarkan sinar hijau dalam penglihatanmu," jawab Nishide sambil terkekeh.


"Oh," jawabku malas. Aku lalu terbang menembus atap rumahku, meninggalkan ayah dan adikku di rumah.


"Baiklah, sinar hijau," gumamku sambil melihat-lihat sekeliling untuk mencari sinar hijau yang dikatakan Nishide.


Tidak butuh waktu lama, aku berhasil menemukan orang yang mengeluarkan sinar itu.


"Wahh, benar. Dia mengeluarkan sinar. Keren." Aku terkesima.


"Baik, cukup kagumnya. Jika tidak sinar indah itu akan berubah menjadi iblis mengerikan," ucap Nishide.


"Ya." Aku langsung meluncur menuju target.


Semakin aku mendekati target, sinarnya akan semakin redup. Dan saat target sudah di depanku, sinarnya berada di atas kepala target dan hanya sebesar bola pingpong. Saat ini targetku berada di sebuah rumah makan dan sedang memainkan androidnya.


"Ohh, ternyata dia." Aku ternyata mengetahui targetku, tapi tidak tahu namanya.


"Kau mengenalnya?" tanya Nishide.


"Ya. Dia ... Si Tutup Panci," ucapku mengigat-ngigat siapa targetku itu.


"Hah?" Nishide kayaknya heran.

__ADS_1


"Wahh, jadi Si Tutup Panci ini bolos sekolah yah," kataku. Yah, karena saat itu masih pagi.


Orang itu adalah laki-laki yang sekelas denganku saat kelas 11. Aku memberi julukan tersendiri bagi orang itu. Karena kepalanya yang botak namun ada jambul di kepalanya, sehingga mirip tutup panci.


"Kasih gelar yang bagusan dikit napa," kata Nishide.


"Baiklah, saatya menuntaskan misi ini." Aku mengangkat sabit yang kupegang di tangan kananku.


"Maaf yah ... Tio." Aku melihat namanya di buku catatan target.


Lalu aku menebaskan sabitku ke arahnya. Dan misiku pun, tuntas. Jasad Tio tersungkur dari kursi yang ia duduki.


Semua orang di restoran itu langsung melihat ke arah Tio. Namun ada seorang laki-laki yang menarik perhatianku. Orang itu tidak melihat ke arah Tio, melainkan dia melihat ke arahku.


"Nishide, apa orang itu bisa melihatku?" tanyaku.


"Hah? Cepat terbang!" suruh Nishide.


Aku pun menuruti perintah Nishide dan terbang menembus atap restoran itu. Tak kusangka, sesosok makhluk mirip iblis mengikutiku dari bawah. Makhluk itu memiliki 2 tanduk kecil di kepalanya, dan warna matanya hitam kelam.


"Monster?" aku terkejut.


"Orang yang melihatmu tadi, adalah iblis. Dan monster itu adalah orang tadi," jelas Nishide.


"Lawan dia, Ray!" seru Nishide.


"Ya, aku mengerti." Aku langsung meluncur ke bawah untuk menghadapi iblis itu.


"Hehehe, jadi masih ada juga yah prajurit arwah Hozai yang membangkang," ucap iblis itu sambil terkekeh.


"Ohh, jadi dia belum mengetahui bahwa Ray adalah pewarisku. Syukurlah," syukur Nishide.


"Hah? Kau bilang apa?" tanyaku penasaran.


"Fokus saja bertarung!" teriak Nishide.


"Ohh, apakah kau prajurit kelas tinggi? Kau bisa bocara, yah?" iblis itu maju ke arahku untuk menyerangku.


"Apa maksudmu?!" tidak sengaja aku mengeluarkan sebuah jurus keren. Sebuah sinar seperti sinar laser keluar dari sabitku, dan sinar itu bergerak hingga mengenai si iblis.


"Egh." Iblis itu berdarah.


"Sialan," gumamnya.


"Baiklah, kumohon keluarkan jurus keren lagi." Aku bersiap melakukan serangan penghabisan kepada iblis itu.


Dan lalu, bagian ujung sabitku bersinar yang mungkin menandakan bahwa energi apalah itu sudah mengalir ke dalamnya.


"Kyaa!!" Aku bergerak maju dan menebas iblis itu.

__ADS_1


Iblis itu pun tewas, dan tubuhnya berubah menjadi abu.


"Heheh, ternyata iblis itu lemah, yah. Tapi gimana mungkin si Karim itu bisa kalah dengan makhluk selemah itu?" kataku.


"Iblis itu hanya iblis tingkat rendah, jangan terlalu sombong," kata Si Nishide memperingatkanku dengan nada ucapan pelan.


"Ohh, ternyata iblis juga punya tingkatan, yah. Heheh." Aku terkekeh.


"Sudah-sudah, tidak perlu dibahas lagi. Sekarang coba kau lihat ke bawah," kata Nishide.


"Hah." Aku menuruti perintahnya dan melihat ke arah bawah.


Di sana, terlihat orang-orang sedang melihat-lihat ke atas. Mungkin mereka merasa aneh melihat ada orang yang terbang dan tiba-tiba menghilang, yang merupakan iblis tadi. Untungnya, mereka hanya bisa melihat iblis itu, mereka tidak bisa melihatku.


"Ah biarin aja." Aku lalu terbang pulang menuju rumahku.


Aku kembali dengan menembus atap kamarku. Lalu aku memeriksa keadaan ayah dan adikku. Dan untungnya, mereka berdua sedang tidur bersama. Ayahku saat ini juga sedang tidak bekerja, karena izin libur dengan alasan masa berduka.


"Huhh, syukurlah. Mereka tidak menyadari kepergianku tadi," batinku.


"Ya," jawab Nishide.


Aku lalu juga kembali ke kamarku untuk tidur, meskipun saat ini masih sekitar jam 10. Setelah masuk kamar, aku langsung menjatuhkan diriku ke kasur.


"Hahh, menjalani misi membuat waktu untuk bernapasku jadi berkurang," gumamku kesal.


"Selama menjalani misi kau juga bernapas. Dan frekuensi napasmu juga menjadi lebih besar ketika menjalani misi," kata Nishide yang juga kesal padaku.


"Au ah. Semoga aja nggak bakal ada misi sampai besok," harapku.


"Ray, sebaiknya kau meningkatkan tingkat kewaspadaanmu," saran Nishide.


"Selama ini tingkat kewaspadaanku tidak pernah kurang dari nol," jawabku.


"Aku serius!" ucap Nishide kesal.


"Lah, aku juga serius," kataku.


"Mungkin selain iblis tadi, juga ada iblis-iblis lainnya yang melihatmu di restoran ataupun saat kau bertarung tadi," kata Nishide.


"Atau bahkan, ada prajurit-prajurit para dewa lainnya yang melihatmu," sambungnya.


"Tidak apa-apa. Kalau nggak salah ... tadi iblis itu masih berpikir bahwa aku adalah prajurit arwah Hozai yang membangkang," jawabku.


"Tunggu." Saraf otakku mulai mengeluarkan potensi lebihnya.


"Membangkang? Apa maksudnya?" aku heran.


"Dan ... prajurit arwah? Bukankah Hozai itu Dewa Cahaya, dan kurasa cahaya tidak ada hubungannya dengan cahaya," kataku.

__ADS_1


"Ya, itulah yang harus lebih kau waspadai," kata Nishide.


"Mungkin di tangan Hozai para prajuritku dilarang melakukan misi. Dan jika dia tahu bahwa ada seseorang yang melakukan misi itu, maka kau akan terus dicari dan diburu," jelas Nishide.


__ADS_2