
"Pitcher ... kematian!!!"
"Ugh!"
Iblis darah pun terdorong oleh "bola softball" dari energi jiwaku.
"Kenapa benda ini tidak menembusku, padahal tubuhku ini terbuat dari zat cair?" tanya iblis darah.
"Yah, aku juga tidak tahu!" Aku membuka lebar-lebar kedua lenganku.
BOOMM!
"Akk!!" Bola jiwaku tadi pun meledak dan membuat gumpalan darah yang membentuk tubuh iblis itu hancur.
"Hohhh ...." Aku lalu membuang napas berat, karena sebenarnya aku masih merasa sakit dan energiku pun belum pulih sepenuhnya.
"Terima kasih," lirih Risa.
"Hem." Aku tersenyum sambil mendarat ke tanah.
"Mintalah bantuan di saat kau kesulitan. Seorang ratu tidak harus menanggung semua beban yang ada sendirian," kataku.
"Ya, terima kasih," jawab Risa lirih sambil menunduk dan meneteskan air mata.
"Hoi, kenapa?" tanyaku khawatir.
"Sekarang ... bagaimana caraku untuk bertarung? Aku sudah tidak punya pedangku lagi ...." Risa menangis.
"Ini ... belum berakhir!" Dengan cepat, tubuh iblis darah kembali terbentuk.
"Hmh. Merepotkan ...," batinku melihat iblis darah.
"Kau tidak memerlukan pedang untuk bertarung. Kau masih punya diriku ...," kataku.
"Hm?" Risa menatap ke arahku.
"Hoi ...." Tubuh iblis darah pun sudah selesai terbentuk ulang dan dia dalam posisi siap menyerang kami berdua.
Namun aku tidak terlalu peduli dengan iblis itu. "Aku ... aku akan menjadi pedangmu!" tegasku pada Risa.
"*********" Iblis darah sepertinya sedang mengoceh sendiri, namun aku tetap tidak mempedulikan dirinya.
"Hahh ...." Mata Risa masih tampak berlinang air mata saat ia menatapku.
"Kalau iblis bicara jangan dikacangin woi!!!" teriak iblis darah.
"Energi iblis ...." Iblis darah bersiap mengeluarkan jurusnya, dan di saat yang sama, seluruh tempat ini menjadi berwarna merah darah. Namun aku dan Risa tetap fokus dengan pembicaraan kami.
"Percayalah padaku!" tegasku pada Risa.
"Hemh ...." Risa berusaha menahan air matanya agar tidak keluar lagi.
"Hujan darah berdosa!!!" Tiba-tiba muncul banyak gumpalan darah dengan berbagai macam bentuk di sekeliling tempat ini. Dan kemudian gumpalan-gumpalam darah itu bergerak ke arahku dan Risa.
"Energi jiwa ... perisai jiwa, kubah!"
Aku pun mengeluarkan jurus perisai untuk melindungi diriku dan juga Risa. Jurus perisaiku kali ini sudah berkembang dari sebelumnya, dengan bentuk seperti kubah, perisai ini dapat melindungku dan Risa dari segala arah, kecuali dari bawah. Dan untungnya tidak ada tanda-tanda akan ada serangan yang datang dari bawah.
"Ghaa!!!" teriak iblis darah menambah frekuensi dan kekuatan dari serangannya.
"Hiiaa!!!" Aku pun tetap bertahan dengan menambah kekuatan dari perisai kubahku.
"Kau lihat? Kau bisa ... mempercayaiku," kataku pada Risa.
"Hahh ... ya! Aku percaya padamu!" balas Risa semangat.
"Waw." Saat aku dan Risa saling bertatapan, aku melihat kedua mata Risa memancarkan sinar berwarna biru muda.
SRINGGG.
__ADS_1
Lalu aku merasakan adanya energi baru yang mengalir di dalam tubuhku. Aku tahu, energi ini adalah energi dari Risa. Sensasi yang kurasakan dari energi ini juga berbeda dari saat energi Dewa Seisu mengalir dalam diriku.
"Bjirr, geli." Yap, rasanya jauh lebih geli dibanding energi Seisu.
"Ray!"
Z**RINGG.
Risa kemudian meneriakkan namaku. Dan pada saat yang sama, terbentuk garis-garis yang mengelilingi jubahku, dan garis itu memancarkan sinar biru muda. Sabitku pun ikut-ikutan memancarkan sinar dengan warna yang sama pula.
"Apa itu?!" tanya iblis jiwa cemas.
"Energi ... air jiwa!" teriakku bersama dengan Risa.
"Siraman rohani!!!" Dan kami berdua pun mengeluarkan jurus yang sangat keren.
BRUUSSSTT.
Segala sisi perisai kubahku menembakkan air yang sangat deras ke segala arah. Air itu berwarna biru kehijauan, perpaduan energi air Risa dengan energi jiwa milikku.
Semprotan air itu, menetralkan semua serangan dari iblis darah. Dan terakhir, air itu menyemprot tubuh iblis darah. Alhasil, tubuh iblis darah pun hancur dan tidak dapat bersatu kembali.
Karena seluruh tempat ini sudah dibanjiri dengan air jiwa milikku dan Risa. Semua darah dari iblis darah sudah dinetralkan oleh air tersebut.
"Hap." Sambil menggendong Risa di punggungku, aku pun terbang ke atas dan pergi dari tempat bernama Mariana ini, atau tempat yang biasa kusebut dengan nama "Sarang Iblis" ini.
Dengan kekalahan dari iblis darah tadi, maka akhirnya pertarungan di Sarang Iblis pun selesai, dan kami pun sudah bisa pergi ke Kerajaan Air dengan tenang. Di saat kami baru keluar dari "Sarang Iblis", kami berdua disambut oleh langit malam dengan sinar biru dan hijau layaknya aurora yang aku lihat satu malam sebelum aku menjadi dewa.
"Kita menang ...," lirih Risa.
"Hem? Ya, kita menang," balasku lirih.
"Sekarang kita bisa pulang ...," kata Risa.
"Ya, pulang ke tanah kelahiranmu. Ke Kerajaan Air," jawabku.
"Tidak, tidak sebelum tujuan kita tercapai," jawabku.
"Tujuan?" tanya Risa.
"Kau lupa?" tanyaku balik.
"Tidak kok, aku ingat. Tujuan kita datang kemari adalah agar kau dan Nishide dapat bekerja sama dengan Dewa Seisu untuk menaklukkan para iblis," jawab Risa.
"Bukan hanya itu. Tujuan kita datang ke dimensi ini adalah agar semua orang Kerajaan Air dapat mengakui keberadaanmu," kataku.
"Tidak usah repot-repot. Itu tidak akan pernah terjadi. Itu tidak apa-apa untukku," ujar Risa.
"Benarkah?" tanyaku.
"Ya," jawab Risa.
"Tapi-"
"Yang lebih penting. Dari mana kau tahu bahwa tempat ini berada di dimensi yang berbeda dari dunia di atas?" tanya Risa memotong ucapanku untuk mengalihkan topik.
"Oh, itu. Aku sudah menduganya dari awal, namun aku baru merasa yakin saat Seisu menjelaskannya padaku di-"
"Ka-kau ... bertemu Dewa Seisu?!" tanya Risa terkejut.
"Ya," jawabku.
"Bagaimana bisa?" tanya Risa lagi.
"Panjang ceritanya," jawabku.
"Disingkat saja," pinta Risa.
"Saat menyadari bahwa kau tiba-tiba menghilang, aku menyusup ke istana kerajaan, lalu bertarung dengan prajurit-prajurit di sana. Kemudian bertarung melawan adik tirimu Frans, dan terakhir melawan Seisu," jelasku.
__ADS_1
"Kau melawan Frans dan Dewa Seisu?!" tanya Risa lagi.
"Hoi, berhentilah menyebutnya dengan sebutan 'dewa'. Bagaimanapun juga dia itu tetaplah ayahmu," batinku.
"Ya, aku melawan mereka," jawabku terhadap pertanyaan Risa tadi.
"Dan ... apa yang terjadi?" tanya Risa lagi.
"Tentu saja aku menang melawan orang yang lahir lebih lambat dariku. Dan saat aku melawan Seisu ... anggap saja hasilnya seri," jawabku.
"Meskipun ...."
"'Meskipun'?"
"Meskipun aku harus kehilangan Nishide," kataku pada Risa.
"Hah? Yang benar saja ...."
"Apakah ekspresiku terlihat seperti sedang bermain-main?" tanyaku menatap mata Risa.
"Hahh ... maaf," lirih Risa.
"Sudahlah, kita 'skip' saja pembicaraan ini, dan segera pergi ke Kerajaan Air." Aku pun menambah kecepatan terbangku menuju Kerajaan Air.
***
Setelah melakukan penerbangan yang cukup panjang, akhirnya kami berdua sudah hampir sampai di Kerajaan Air lagi. Saat akan memasuki Kerajaan Air, kami sudah disambut dengan meriah oleh para prajurit air, yang menembakkan puluhan panah air ke arah kami berdua.
"Ray, menghindar," kata Risa.
"Aku tahu!" balasku.
"Sebaiknya kita tidak usah masuk ke kerajaan ini," lirih Risa.
"Tidak akan!" balasku.
Aku berhasil menghindari serangan kejutan yang terlihat seperti kembang api di malam hari itu. Kemudian, aku melesat dengan cepat ke arah prajurit-prajurit air yang menyerang kami tadi.
"Tch. Kalian benar-benar tidak-"
TSINGG.
"Sopanlah sedikit ketika kau mau memasuki kerajaan ini." Tiba-tiba Frans muncul di hadapanku dengan menodongkan satu pedangnya ke leherku.
"Frans?!" Khaira terkejut melihat kehadiran Frans di hadapan kami.
"Hoi, hoi, hoi ...." Aku terhenti dan tersenyum cemas melihat pedang Frans yang berkilau.
"Bersikaplah dengan sopan ketika kau berhadapan dengan orang yang lebih tua darimu," kataku.
"Kau mau tanding ulang, yah?" tanyaku.
"Maunya sih begitu. Tapi ayahku, Dewa Seisu memerintahkan untuk meringkusmu ke istana," ujar Frans.
"Wahh, pas banget tuh. Kebetulan kami berdua juga ingin bertemu dengan Seisu di istananya," balasku.
"Baguslah kalau benar itu maumu. Tapi sebelum itu ...."
"Hah?"
*KTOKKK*.
"Ray!!"
Frans tiba-tiba memukul kepalaku dengan bagian pangkal pedangnya. Karena sudah terlalu lama terbang, energiku mungkin sudah habis, jadi aku terjatuh ke bawah.
Sesaat sebelum kesadaranku menghilang, aku hanya mendengar Risa yang beberapa kali meneriakkan namaku, dan melihat Frans yang tampak tersenyum dengan puas menatapku.
***
__ADS_1