Pewaris Dewa Kematian

Pewaris Dewa Kematian
Atlantis


__ADS_3

"Waaw ...," gumamku berdecak kagum di dalam air. Saat dalam mode Dewa Kematian ini, aku tetap bisa bernapas di dalam air.


Di dalam air ini. Aku melihat tubuh Risa yang tadinya tenggelam, jadi mengeluarkan cahaya berwarna biru kehijau-hijauan. Yang entah kenapa, sinar biru dari tubuh Risa tampak berbeda dari warna biru laut.


"Keren ...," gumamku lagi.


Lalu, tiba-tiba muncul sebuah sinar lain berwarna kuning yang muncul di hadapan tubuh Risa yang menghadap ke bawa.


"Apa itu?" tanyaku dalam hati sambil menelan ludah.


Lalu, Risa menghadap ke arahku. Namun setelah itu, Risa langsung melesat ke arah sinar kuning tadi dan menghilang. Aku yang kagum sekaligus heran pun mengikuti Risa dengan meluncur ke arah sinar kuning tadi.


Sringg.


Sinar yang terang itu membuatku kesilauan sehingga membuatku menutup mata. Perlahan-lahan, aku merasa bahwa sinar tadi telah sirna.


"Ray, bukalah matamu," ucap Risa pelan.


Aku pum menuruti perkataan Risa. Setelah membuka mata, aku melihat pemandangan yang sama saat aku terbang di kota, yaitu langit.


"Apa ini? Inikah Kerajaan Air?" tanyaku.


"Huhh. Lihat ke bawah bodoh!" bentak Risa.


"Hah?" gumamku terkejut.


Aku pun menuruti perkataannya lagi dengan menunduk untuk melihat apa yang ada di bawahku. Setelah melihat ke bawah, aku pun berdecak kagum dan tak bisa bersuara. Apa yang ada di bawahku itu adalah sebuah kota besar yang maju dengan teknologi super canggih dan gedung-gedung tinggi.


"Ini ... di Kerajaan Air?" tanyaku lagi.


"Ya," jawab Risa yang sekarang berada di sebelahku.


"Ini ... Atlantis," gumamku.


"Ya. Kau bisa menyebutnya begitu. Teknologi yang canggih dan gedung-gedung tinggi membuat kerajaan ini bisa disebut sebagai Atlantis," jelas Risa.


"Tapi satu hal yang harus kau tahu. Kerajaan kami lebih baik dari pada Atlantis," sambungnya.


"Heh. Ternyata kau masih mencintai kerajaan ini, yah. Padahal kau sudah diperlakukan buruk dan dibuang, loh," kataku.


"A-apa maksudumu?" tanya Risa terbata-bata dengan eksperesi terkejut.


"Penjelasanmu tadi itu, membuatmu seakan-akan membela kerajaan ini. Kau bilang kerajaan ini lebih baik dari pada Atlantis, padahal yang aku tahu orang Atlantis itu semuanya baik. Sedangkan kerajaanmu ...," jelasku.


"Ek ...," Risa tertegun.


"Ditambah lagi, tadi kau bilang 'kerajaan kami' yang menunjukkan bahwa kau masih merasa dirimu adalah bagian dari kerajaan ini," jelasku lagi.


"Heh. Yah, mungkin kau benar. Tapi bagaimanapun perasaanku kepada Kerajaan Air, perasaan mereka kepadaku tidak akan pernah berubah," ujar Risa sambil tersenyum tipis.


"Benarkah?" tanyaku.

__ADS_1


Lalu, Risa menatapku dan berkata, "Ya, pasti."


"Aku rasa itu tidak sepenuhnya benar," ujarku.


"Maksudmu?" tanya Risa heran.


"Jika mereka memang tidak menerimamu di sini. Kenapa kau masih bisa masuk ke sini? Kurasa kunci masuknya sangat rahasia," ujarku.


"Ohh, yang menerimaku masuk bukanlah keputusan warga ataupun ayah. Tapi itu semua tergantung apakan air masih menerimaku atau tidak," jelas Risa.


"Justru itu lebih bagus. Jika laut saja masih menerimamu, kenapa mereka tidak?" ujarku.


"Hah?" gumam Risa.


"Semoga kau benar," harap Risa sambil tersenyum tipis.


"Aku pasti benar," ujarku dengan ikut tersenyum.


"Hoi-hoi! Cukup ngocehnya! Cepat ke bawah!" bentak Nishide.


"Eh? Berisik tahu!" teriakku.


"Ray?" tanya Risa hanya dengan menyebut namaku.


"Ayo kita ke bawah," ajakku pelan.


"Ya," jawab Risa.


"Eh?" gumamku yang baru menyadari ternyata dia tidak mengikutiku. Aku pun terbang ke atas lagi untuk menghampiri Risa.


"Hadehh, aku baru ingat kalau kau tidak bisa terbang," ujarku lesu. Tapi kemudian, aku melihat ke arah kaki Risa.


"Tapi, tunggu! Kok, sekarang kau bisa terbang?!" tanyaku terkejut melihat Risa terbang.


"Hah?" gumam Risa dengan mulut ternganga.


"Hah?" gumam pula Nishide.


Plak!


Risa menepuk jidatnya.


"Hahhahahah ...," tawa Nishide terbahak-bahak.


"Huhh. Jadi selama ini kau tidak menyadarinya? Selama ini aku memijak lantai kaca ini," ujar Risa sambil menghentakkan kakinya beberapa kali.


"Hah?" gumamku heran.


Lalu, aku berdiri di samping Risa dan menonaktifkan jurus terbangku. Dan ternyata benar, ternyata ada lantai kaca yang berada di bawah kakiku selama ini. Namun aku tidak menyadarinya karena aku terus berkonsentrasi untuk terbang.


"Ke-ke-keren," ucapku terbata-bata karena heran dengan diriku yang bisa-bisanya tidak tahu akan lantai kaca itu.

__ADS_1


"Huhh." Aku membuang napas dan melihat ke arah kiri kami. Aku melihat bahwa itu bukan sekedar lantai, namun juga jembatan yang sangat panjang higga sampai ke permukaan tanah Kerajaan Air.


"Baiklah, ayo!" ajak Risa sambil berjalan untuk menuruni jembatan itu.


"Risa, tunggu!" ucapku.


"Apa?" tanya Risa dengan berbalik menghadapku.


"Aku rasa ... kau tunggu saja di sini," jawabku.


"Kenapa?" tanya Risa lagi.


"Akan sangat berbahaya jika kau dan aku memasuki Kerajaan Air tanpa penyamaran," jawabku lagi.


"Benar juga," gumam Risa sambil menaruh tangan kanannya di bawah dagu.


"Jadi kau akan turun ke sana sendirian dalam bentuk manusiamu?" tanya Risa.


"Ya. Jika aku bisa masuk ke sana dengan bentuk manusia ...," ujarku.


"Sebelum aku diusir dari sini sih masih bisa. Kau tidak akan ketahuan, dan jika ketahuan pun kau tidak akan dapat masalah," jelas Risa.


"Baguslah. Kalau begitu, kau tunggu di sini!" tegasku.


Lalu, aku pun menonaktifkan mode Dewa Kematian dan langsung berlari menuruni jembatan itu.


"Huh ... huh ... huh ... huh." Aku membuang napas berat sambil terus berlari.


"Sial! Baru setengah perjalanan saja sudah secapek ini," kataku kesal.


"Mana nih lantai nggak ada licinnya, lagi," keluhku.


"Kalau begini, lebih baik aku terbang," sambungku.


"Jangan banyak mengeluh! Jika kau menggunakan mode dewa, maka warga di sana akan langsung curiga!" tegas Nishide.


"Huhh. Iya-iya," kataku.


Setelah memakan waktu 1 juta kali menghela napas. Akhirnya aku pun sampai di permukaan Kerajaan Air. Aku lalu berjalan-jalan di sekitar kota itu untuk mencari pakaian yang dapat membantuku dan Risa untuk menyamar.


Yah, walaupun saat ini hal itu bukanlah fokus utamaku. Karena aku sudah terpana memandangi kerajaan ini. Gedung tinggi, teknologi canggih, orang yang ramah, itu semua adalah hal yang luar biasa. Bahkan emas, kristal, dan batu atau logam mulia lainnya pun dapat ditemukan di penjuru kerajaan yang lebih mirip kota itu.


"Inikah Atlantis?" pikirku.


"Woi, Ray! Cepat fokus untuk membeli pakaian untuk menyamar!" tegas Nishide.


"Yah, setelah sampai ke kerajaan ini. Aku baru sadar bahwa aku tidak memiliki uang yang digunakan di sini," batinku sambil terus memandangi kerajaan itu dari salah satu gedung di sana.


"Hah?!" teriak Nishide terkejut.


"Tidak mungkin," ujarnya stres.

__ADS_1


"Bagaimana bisa kita tidak menyadari hal itu?!" teriaknya lagi.


__ADS_2