Pewaris Dewa Kematian

Pewaris Dewa Kematian
Palung Mariana


__ADS_3

"Yo, Seisu. Lama tak berjumpa. Hahahahahah!" Tiba-tiba seluruh videotron di Kerajaan Air menampilkan sesosok laki-laki paruh baya dengan 2 tanduk dan mata merah darah. Dia adalah iblis.


"I-blis ...," gumamku tertegun karena merasa takut.


"Hahh ... sayang sekali aku tidak bisa mendengar jawabanmu," ujar iblis itu.


"Cih." Dewa Seisu tampak marah dan kesal.


Suara penduduk kerajaan yang ketakutan pun terdengar hingga ke telingaku.


"Dalam pertempuran kemarin, pasukanmu berhasil menaklukkan pasukanku. Namun, pagi tadi aku sungguh beruntung," kata iblis itu.


"Kau lihat ini? Aku yakin kau melihatnya." Iblis itu sedikit menggeser posisinya dan memperlihatkan seorang wanita yang terikat di sebuah besi yang berdiri vertikal.


"Risa?!" Aku sangat terkejut ketika melihat bahwa wanita yang diikat itu adalah Risa.


"Tidak mungkin," gumamku tidak percaya.


"Saat aku ingin mendatangimu di istana. Tiba-tiba aku menemukan wanita ini di jembatan penghubung dengan permukaan," jelas iblis itu.


"Kau tahu apa yang membuatku ingin menangkapnya?" Iblis itu lalu berjalan ke arah Risa yang terikat di tiang besi dan tampak kesakitan.


TSUUKKK.


"Ekh." Risa tampak sangat kesakitan karena tubuhnya ditusuk oleh pedang yang merupakan tulang tajam yang tiba-tiba muncul keluar dari tangan iblis itu.


"Hah ...."


Aku yang melihat hal itu pun merasa sangat marah, kesal, dan juga merasa gagal.


Iblis itu lalu mencolet darah Risa yang ada di pedang tulangnya. Lalu ia mencium bau dari darah itu.


"Bau darahnya sama dengan dirimu," kata iblis itu sambil tersenyum.


"Hoi, Seisu. Di mana lokasi iblis itu?" tanyaku pada Dewa Seisu dengan suara yang berat.


"Entahlah. Cari tahu sendiri," jawab Dewa Seisu sambil terbang menjauh dariku ke arah istananya.


"Hoi!" teriakku memanggil Dewa Seisu.


"Apa kau tidak dengar iblis itu bilang apa?! Dia bilang darah Risa sama dengan darahmu! Itu berarti Risa adakah anakmu!" teriakku kesal.


Dewa Seisu pun berhenti sejenak dan sedikit membelokkan kepalanya untuk melihat ke arahku.


"Kau harus menyelamatkannya!" tegasku.


Seakan tidak menghiraukan ucapanku, Dewa Seisu pun kembali terbang menuju istananya.


"Jika kau ingin menyelamatkan gadis ini! Cih, kau pasti sudah tahu aku di mana," kata iblis tadi.


"Katakan, kumohon katakan," batinku mengharap iblis itu mengatakan di mana lokasinya.


"Datangkah ke sini, ke Mariana, secepatnya!" tegas iblis itu.

__ADS_1


"Hah?! Mariana?!" Aku sangat terkejut dengan nama lokasi yang disebutkan oleh iblis itu.


"Hei! Mariana itu ... Palung Mariana?" tanyaku pada Dewa Seisu.


Dewa Seisu tidak menggubris pertanyaanku. Dia masih terus terbang menuju istana.


"Bye ...," kata iblis tadi sambil melambaikan tangannya.


Dan tiba-tiba, seluruh videotron di kerajaan itu kembali menampilkan iklan-iklan dari kerajaan ini.


"Cih." Setelah melihat itu, aku pun melesat ke arah Dewa Seisu untuk meminta jawabannya atas pertanyaanku tadi.


"Hoi, Dewa Seisu! Aku bertanya, Mariana yang dimaksud iblis itu, apakah Palung Mariana?!" tanyaku pada Dewa Seisu dengan suara keras saat aku sudah dalam posisi berhadapan dengannya.


"Kenapa? Kau sudah ragu dengan tujuanmu?" tanya Dewa Seisu dengan tatapan sinisnya.


"Hah?" Aku sedikit terkejut dengan pertanyaan Dewa Seisu itu.


"Jika memang itu Palung Mariana, apa kau akan tetap pergi? Atau mungkin, kau akan menyerah?" tanya Dewa Seisu sambil mendekatkan wajahnya dengan wajahku.


"Dari ekspresimu itu, sepertinya kau tidak mau melakukannya. Itu semua terlalu beresiko," ujar Dewa Seisu pelan seakan-akan dia membaca pikiranku.


"Benar, kan?" tanyanya.


Lalu, Dewa Seisu menggeser tubuhku dan terbang dengan posisi tubuh berdiri dengan santai.


"Menyerahlah. Kau tidak perlu melakukan hal yang tidak ingin kau lakukan. Pulanglah, masih ada lokasi wisata yang lebih baik dari tempat ini," ujar Dewa Seisu.


"Meskipun aku tidak mau melakukannya. Meskipun aku tahu aku tidak bisa melakukannya. Aku akan tetap melakukannya!" lantangku.


"Hah? Kenapa?" tanya Dewa Seisu pelan sambil berbalik menghadapku.


"Karena aku keras kepala," jawabku dengan tersenyum sambil mendorong kepalaku dari samping menggunakan jari telunjukku.


"Cih. Aku tahu itu," kata Dewa Seisu pelan.


"Mariana yang disebutkan oleh iblis itu memanglah Palung Mariana di duniamu. Lokasinya sama," jelas Dewa Seisu.


"Cih." Aku memejamkan mata dan mencoba tersenyum untuk menenangkan pikiranku.


"Begitu juga tempat ini, lokasinya sama dengan laut yang kau masuki dengan i-"


TSINGG.


"'I' apa, hah?" tanyaku pada Dewa Seisu sambil melesat dan menghunuskan sabitku ke arahnya.


"Cih. Sepertinya aku tidak perlu melanjutkannya," kata Dewa Seisu pelan.


"Jadi, bagaimana caraku untuk pergi ke sana?" tanyaku pada Dewa Seisu.


"Jangan bilang aku harus terbang dari Bali ke Pasifik," kataku pelan sambil menatap Dewa Seisu dengan serius.


"Apa memang begini cara manusia bertanya?" tanya Dewa Seisu mengomentari diriku yang masih menghunuskan sabitku ke arahnya.

__ADS_1


"Huhh." Aku lalu menarik kembali sabitku.


"Sekarang jawab," suruhku pelan.


"Dunia dewa dengan dunia asalmu itu berbeda, Bocah. Tempat ini, berada di dalam dimensi yang berbeda dengan dunia itu. Jadi, jarak dari tempat ini ke Mariana, jauh lebih dekat dibanding dengan di dunia atas sana," jelas Dewa Seisu.


"Baguslah," kataku sambil terbang menjauhi Dewa Seisu.


1


2


3


"Eh?" Aku melihat ke belakang dan aku melihat Dewa Seisu diam tak bergerak. Dia hanya melihat ke arahku.


"Hoi, Seisu! Kenapa kau diam saja?!" tanyaku dengan suara keras.


"Kenapa? Cepatlah pergi, atau kau akan mati di sini, sebelum kau berhasil menyelamatkannya," ujar Dewa Seisu sinis.


"Haaah? Jangan bercanda! Apa kau akan diam saja di sini dan tidak melakukan apa-apa?!" bentakku.


"Jadi maksudmu. Aku juga harus ikut bersamamu dan menyelamatkan iblis itu?" tanya Dewa Seisu.


"Sebagai dewa harusnya kau bisa memanfaatkan situasi ini. Coba bayangkan, iblis menyiksa iblis," sambung Dewa Seisu.


"Hoi! Jika kau tidak ingin menyelamatkan Risa, ya sudah. Karena tanpamu pun aku pasti akan menyelamatkannya!" lantangku.


"Haah?" Dewa Seisu menatapku heran.


"Tapi iblis itu sudag menyabotase kerajaaanmu! Harga dirimu saat ini sedang diinjak-injak oleh para iblis!" tegasku.


"Kau tahu itu? Dewa?!" tanyaku lantang.


"Hah?" Dewa Seisu tampak tercengang ketika mendengar pertanyaanku.


"Hmm ... huhh." Dewa Seisu menghela napas sejenak.


"Pergillah, dan hindari penjagaan prajurit-prajuritku. Aku tidak ingin berususan dengan bocah keras kepala sepertimu lagi," kata Dewa Seisu sambil membelokkan badannya membelakangiku.


"Hoi! Ikutlah denganku! Dasar pengecut!" teriakku sambil melesat ke arah Dewa Seisu.


"Berisik!" Tiba-tiba Dewa Seisu menghilang dan aku merasakan aura keberadaannya di belakangku.


"Aku bilang ...."


Dewa Seisu memegang kepalaku dari belakang. Rasanya kepalaku akam hancur berkeping-keping.


"Hoi! Lepaskan!" teriakku meronta-ronta.


"Pergilah!!!" teriak Dewa Seisu sambil melemparku sekuat tenaga.


"Aaghh!!" teriakku merasa sakit.

__ADS_1


__ADS_2